SUAMIKU BOS MAFIA [Revisi]

SUAMIKU BOS MAFIA [Revisi]
Rumah Sakit [Selesai Revisi]


__ADS_3

Tiba-tiba pintu ruang UGD terbuka, kemudian muncul seorang dokter dari dalam UGD dan perlahan dokter itu berjalan menghampiri Stevan serta Bundanya.


“Bagaimana kondisi suami saya? Apa dia sudah sadar?” tanya Ibunda Stevan—Calista—seraya berjalan menghampiri dokter.


“Suami Ibu sudah sadar tapi kakinya mengalami cedera yang cukup serius dan beliau mengalami kelumpuhan sementara,” ungkap dokter.


“Apa?” Calista terperangah, tubuhnya terasa lemas setelah mengetahui kondisi suaminya. Sedangkan Stevan terdiam memandang Calista, Stevan merasa bersalah telah melukai ayahnya dan menyebabkan bundanya menjadi sedih.


“Bunda jangan sedih, Ayah pasti sembuh. Ayah cuman lumpuh sementara saja, kita bisa mengobatinya dengan terapi.”


Adel mengusap punggung Calista dan berusaha untuk menenangkannya, sedangkan Calista melirik Adel dan melontarkan senyuman palsu.


“Apakah kami boleh melihat pasien?” tanya Calista kepada dokter.


“Tentu saja boleh,” jawab dokter seraya tersenyum ramah.


“Terima kasih.”


Calista menunduk hormat, kemudian Calista berjalan menuju ruang UGD dan masuk ke dalam. Sedangkan Stevan dan Adel saling melontarkan pandangan, kemudian mereka menyusul Calista dari belakang.


Setibanya di ruang UGD, Stevan melihat Ayahnya sedang terbaring di ranjang pesakitan. Ayahnya terlihat begitu mengenaskan dengan infusan yang terpasang di tubuhnya.


“Siapa dia?” tanya Putra—Ayah Stevan—menunjuk Adel yang berdiri di samping Stevan.


“Dia adalah calon menantu kita,” ungkap Calista sembari tersenyum.


Adel menunduk hormat, lalu Adel menghampiri Putra dan mencium punggung tangannya.


“Salam kenal, Om. Saya adalah Adelia Putri Irvala, saya pacar Stevan.” Adel memperkenalkan diri sembari tersenyum seringai, sedangkan Putra menatap Adel dengan raut datar.


“Kenapa kamu mau dengan Stevan? Stevan adalah laki-laki bajingan dan dia belum pantas mendapat wanita baik sepertimu,” tutur Putra membuat Adel terdiam.


“Jaga ucapan lu! Gua enggak seburuk yang lu bilang!” seru Stevan sembari menunjuk Ayahnya.


“Saya berbicara sesuai fakta! Kamu hampir membunuh saya dan gara-gara kamu, saya menjadi seperti ini!” sahut Putra tak mau kalah.


Putra melontarkan tatapan sinis, sedangkan Stevan justru tersenyum saat mendengarnya


“Siapa suruh lu melarang gue jadi begitu kan,” ucap Stevan.


“Cukup Stevan! Jangan membuat kegaduhan,” ujar Calista.


“Kenapa bunda selalu membela dia? Selama ini dia selalu menyakiti kita bahkan dia selingkuh dengan sekretarisnya tapi bunda tetap menerimanya sebagai suami,” ucap Stevan dengan mimik kesal.

__ADS_1


“Bagaimanapun dia adalah Ayahmu. Kamu tidak boleh durhaka padanya,” ujar Calista mencoba memberikan nasihat kepada Stevan.


“Lebih baik Stevan jadi yatim daripada mengakui dia sebagai Ayah!” tegas Stevan.


Stevan berbalik membelakangi Calista dan Putra, lalu Stevan berjalan menuju pintu dan keluar dari ruang UGD. Stevan meninggalkan Adel yang tercengang setelah melihat keributan Stevan dengan Ayahnya.


“Stevan memang seperti itu anaknya. Dia memiliki watak yang sangat keras dan tak ada yang bisa mengubah watak buruk Stevan,” tutur Calista sembari menampilkan mimik sedih.


“Bunda jangan sedih, biar Adel yang bicara dengan Stevan.” Adel mencoba menenangkan Calista dengan mengelus punggung Calista.


“Terima kasih ya, Nak. Kamu sudah mau menjadi kekasihnya, Bunda tahu kamu sebenarnya tertekan memiliki pacar seperti Stevan tapi cuma kamu yang bisa menaklukkan Stevan. Bunda titip Stevan padamu,” tutur Calista sembari menatap Adel.


“Iya, Bunda. Adel pamit dulu ya, assalamualaikum.” Adel berpamitan dengan Calista dan Putra, setelah itu Adel keluar dari ruang UGD.


Adel melihat Stevan tengah termenung di kursi tunggu. Perlahan Adel berjalan mendekati Stevan dan duduk di sampingnya.


“Aku tahu kamu sangat membenci Ayahmu. Jika menjadi kamu, aku pun pasti membencinya karena aku tidak rela Ibuku terluka. Tapi sebagai anak, kita harus tetap menghormatinya.”


Adel meraih tangan Stevan, lalu menggenggamnya dengan erat. “Aku tahu kamu baik dan itu sebabnya aku mau menjadi pacarmu,” kata Adel.


Adel menatap Stevan dan melontarkan senyuman hangat, sedangkan Stevan masih terdiam.


“Bagaimana kalau kita makan bakso aja? Aku tau warung bakso yang enak dekat rumah sakit ini,” usul Adel.


“Tapi—”


Adel menarik-narik tangan Stevan dan mengerucutkan bibirnya, sedangkan Stevan langsung menghela napas dan bangkit dari posisi duduk.


“Berhenti cemberut atau aku gigit?” ancam Stevan.


“Gak takut, wlee.” Adel menjulurkan lidah dan mengejek Stevan, sedangkan Stevan semakin gemas melihat tingkah Adel.


“Sini aku gigit!” Stevan menarik Adel dan hendak menggigitnya. Namun, tiba-tiba Adel mendorong Stevan dan menginjak kaki Stevan.


“Kaburrr, ada vampir Jakarta!” seru Adel lalu berlari menjauh dari Stevan.


“Bocil sialan! Liatin aja, aku gigit beneran kamu!” teriak Stevan.


Stevan berlari mengejar Adel, sedangkan Adel berusaha kabur dan berlari menuju pintu keluar. Namun tiba-tiba seorang wanita muncul dari arah berlawanan dan wanita itu berdiri tepat di depan Adel.


Spontan Adel mengerem dan berhenti berlari. Adel terdiam di depan wanita yang sangat dia kenal.


“Apa kabar, Adel?” tanya wanita yang bernama Anggun.

__ADS_1


“Kabar baik,” jawab Adel seraya melontarkan senyuman.


“Gue sama Sakha mau nikah, lo jangan lupa datang ya.” Anggun menyodorkan undangan, sedangkan Adel terpaku menatap undangan itu.


“Jangan galau dong, gue tau lu masih cinta sama Sakha kan? Tapi Sakha pilih gue karena dia gak sudi menikah sama cewek kayak lu. Sudah miskin, yatim-piatu, banyak utang pula. Bisa-bisa melarat Sakha kalau menikah sama lu,” ucap Anggun.


Anggun menatap Adel sembari tersenyum merendahkan, sedangkan Adel memilih diam.


Sementara itu, Stevan melihat Adel tengah berdiri bersama wanita yang tampak asing bagi Stevan.


“Adel sama siapa tuh?” batin Stevan.


Stevan berjalan mendekati Adel, lalu berdiri di sampingnya.


“Kamu kenapa?” tanya Stevan membuyarkan lamunan Adel.


“Tidak papa,” jawab Adel seraya menatap Stevan.


“Siapa dia?” tanya Anggun sembari menatap Stevan dari ujung rambut hingga ujung kaki.


“Dia calon suamiku,” jawab Adel.


“Ternyata ada juga pria yang mau menikahi perempuan banyak utang,” ucap Anggun.


“Memangnya pacarmu kerja di mana?” tanya Stevan seraya melontarkan tatapan sinis.


“Pacar gue kerja di perusahaan milik keluarga Fratama. Salah satu perusahaan terbesar di Indonesia,” jawab Anggun.


“Apa jabatannya?” Stevan kembali bertanya dan kali ini mimik wajahnya berubah menjadi datar.


“Buat apa lu tanya-tanya jabatan calon suami gue? Cowok kayak lu gak bakal mampu menyaingi Sakha.”


Anggun mencemooh Stevan seraya tersenyum merendahkan, sedangkan Stevan hanya terdiam sembari melontarkan tatapan tajam.


“Tolong bilangin sama pacar lu, jangan mimpi bisa rebut pacar gue. Sampai kapan pun Sakha akan tetap menjadi milik gue!” ketus Anggun.


“Cewek miskin kayak dia, mana mampu menyaingi gue?” sambung Anggun lalu berbalik membelakangi Adel dan Stevan.


Anggun berjalan menuju parkiran, sedangkan Stevan memandang Anggun dari kejauhan.


“Sakha itu mantan pacar kamu?” tanya Stevan seraya melirik Adel.


“Iya, dulu aku pernah berpacaran dengannya tapi dia memutuskan aku karena aku banyak utang.” Adel mencoba berkata jujur.

__ADS_1


“Kamu tenang saja, pria brengsek itu akan aku singkirkan dari perusahaan. Aku pastikan mereka menyesal telah menghinamu!” tekan Stevan.


Stevan mengepalkan tangan, emosinya memuncak setelah mendengar cemoohan yang Adel terima. Stevan tak rela jika wanita yang dia cinta disakiti.


__ADS_2