SUAMIKU BOS MAFIA [Revisi]

SUAMIKU BOS MAFIA [Revisi]
Bertemu Calon Mertua [Selesai Revisi]


__ADS_3

Stevan memarkirkan mobilnya dan keluar dari mobil. Stevan berjalan memasuki rumah sakit dengan tergesa-gesa, sedangkan Adel mengikuti langkah Stevan dari belakang tanpa memanggilnya.


Adel mengerti kondisi Stevan, Stevan pasti cemas dengan kondisi Ayahnya yang dirawat di rumah sakit tiba-tiba.


Langkah Stevan berhenti di depan ruang UGD, lalu Stevan menghampiri seorang wanita yang tengah terduduk lesu di kursi rumah sakit.


“Bunda baik-baik saja?” tanya Stevan cemas. Stevan melihat bundanya dari ujung kaki hingga kepala untuk memastikan tidak ada goresan luka.


“Bunda baik-baik saja, tapi Ayah ... Hiks, hiks, hiks.” Bunda kembali terisak, ia tidak kuasa menahan tangis saat menceritakan kejadian yang menimpa Ayahnya.


“Memangnya Ayah kenapa?” Stevan mencoba bertanya meskipun dia tidak peduli dengan Ayahnya.


“Saat Bunda ke lantai atas, Ayah sudah tidak sadarkan diri. Sekujur tubuhnya penuh dengan luka, bahkan darah keluar dari mulutnya.” Bunda berusaha menceritakan kejadian meskipun dengan terbata-bata, sedangkan Stevan langsung membisu.


“Jadi pria iblis itu terluka gara-gara berkelahi dengan gua. Baguslah, biar cepat mati. Dia hidup juga enggak ada gunanya,” batin Stevan.


Spontan Stevan tersenyum licik. Stevan senang berhasil membuat Ayahnya terluka parah dan sekarang hanya satu yang Stevan harapkan yaitu kematian Ayahnya.


“Stevan kok malah senyum ya? Mencurigakan banget,” batin Adel.


Adel memperhatikan gerak-gerik Stevan. Entah mengapa Adel curiga dengan laki-laki tersebut, sepertinya Stevan sendiri yang melukai Ayahnya.

__ADS_1


“Sudah Bunda, berhenti menangis. Kita doakan yang terbaik untuk Ayah,” ujar Stevan.


Stevan mencoba menenangkan bunda dan mengelap air matanya, Stevan tidak rela jika air mata bundanya terbuang sia-sia gara-gara menangisi laki-laki brengsek itu.


“Iya, Nak. Semoga Ayah baik-baik saja,” doa Bunda.


Bunda menghentikan tangisannya dan menghembuskan napas secara perlahan, sementara Stevan hanya terdiam sembari merangkul bunda.


“Kamu habis kemana semalam? Bunda sudah menghubungi kamu sejak pagi tapi tidak ada jawaban. Berapa kali bunda bilang? Kalau mau pergi harus izin dan ponsel selalu diaktifkan supaya Bunda tidak susah menghubungi kamu.” Bunda mencecar Stevan dengan berbagai nasihat, dan Stevan hanya tersenyum.


“Stevan pergi ke rumah calon menantu bunda,” jawab Stevan.


Seketika bunda terdiam dan menatap Stevan dengan mimik tidak percaya. “Kamu pasti bohong! Sejak kapan kamu punya pacar?” tanya Bunda.


“Siapa dia?” tanya Bunda sembari menatap Adel dengan raut sinis.


“Sayang, ke sini.” Stevan memanggil Adel, sedangkan Adel langsung melangkah mendekati Stevan.


“Assalamualaikum, Bunda.” Adel mencoba menyapa Bunda sembari menunduk hormat, tetapi Bunda justru diam dan menatap Adel dengan begitu lekat.


“Bunda kenapa? Aku enggak cocok jadi pacar Stevan ya?” tanya Adel membuyarkan lamunan Bunda.

__ADS_1


“Kamu serius pacar anak saya?” Bunda berbalik bertanya, Stevan dan Adel saling melontarkan tatapan.


“Iya, Bunda. Saya adalah pacar anak bunda, nama saya adalah Adelia Putri Irvala.” Adel memperkenalkan diri.


“Alhamdulillah.” Bunda mengucap syukur tiba-tiba membuat Stevan dan Adel terdiam kebingungan.


“Bunda baik-baik saja?” tanya Adel dengan terbata-bata.


“Bunda pikir Stevan itu homo karena dia tidak pernah mengenalkan wanita ke orangtuanya tapi ternyata dia masih waras,” tutur Bunda.


Refleks Adel terkekeh, sedangkan Stevan langsung mengerucutkan bibir dan menatap sinis bunda.


“Kenapa lu ketawa? Gua kan jomlo gara-gara lu kelamaan datangnya,” tutur Stevan dengan nada kesal.


“Eits, kok galak sama pacar sendiri? Kalau kasar ke Adel, bunda coret nama kamu dari daftar warisan!” ancam bunda.


“Dih, ancamannya warisan. Enggak asik bunda mah,” tutur Stevan.


Stevan memalingkan wajahnya dan pura-pura merajuk dengan bunda, sedangkan Adel tersenyum melihat kelakuan Stevan dan bunda.


“Sini duduk, Nak.” Bunda menyuruh Adel duduk di sampingnya.

__ADS_1


“Iya, Bunda.” Adel duduk di samping bunda, sedangkan bunda terus tersenyum pada Adel. Bunda senang karena akhirnya, putra semata wayangnya itu mempunyai pacar.


__ADS_2