SUAMIKU BOS MAFIA [Revisi]

SUAMIKU BOS MAFIA [Revisi]
Pertemuan Awal [Selesai Revisi]


__ADS_3

Stevan mengemudikan mobilnya dalam kecepatan tinggi, emosi Stevan tidak terkontrol gara-gara ulah Ayahnya dan ingin sekali Stevan menabrak Ayahnya hingga tewas dalam kondisi menyedihkan.


Tiba-tiba ponsel Stevan berbunyi dan terdapat panggilan telepon dari nomor bertuliskan Kiki di kontak ponselnya. Stevan mengambil ponselnya dan menjawab panggilan tersebut.


“Halo, ada apa?” tanya Stevan.


“Lu di mana? Kenapa belum datang juga? Pesta kita jadi tertunda gara-gara lu,” ucap Kiki seraya menggerutu kesal.


“Gue lagi di jalan. Tadi gue berantem dulu sama si iblis,” ungkap Stevan.


“Lu kenapa lagi sama Ayah lu? Ayah lu punya istri baru lagi?” tanya Kiki penasaran dengan permasalahan Stevan.


“Dia melarang gue ke club jadi mau tidak mau gue berantem sama dia,” jawab Stevan menceritakan awal mula kejadian.


Stevan asyik bercerita dengan Kiki hingga Stevan tidak menyadari ada gadis yang hendak menyeberang jalan. Gadis itu sudah mengangkat tangan sebagai tanda ingin menyeberang jalan, tetapi Stevan tidak melihat hingga Stevan terkejut dan menginjak rem secara mendadak.


“Woi tolol, kalau menyeberang lihat-lihat dong Punya mata enggak sih lu?” tanya Stevan seraya memaki gadis tersebut.


Gadis itu terdiam memandang Stevan dengan raut heran, ia sudah memberikan tanda tapi sepertinya laki-laki itu yang tidak melihat.


“Saya sudah memberikan tanda tapi kamu buta,” jawab gadis itu tidak mau mengalah.

__ADS_1


“Buta? Lu kali yang buta. Sudahlah malas gua meladeni wanita kayak lu!” seru Stevan.


Stevan kembali menutup kaca mobilnya dan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi, sementara gadis itu terdiam memandang mobil Stevan dari kejauhan.


“Dih, apaan sih. Enggak jelas banget itu laki. Dia yang salah tapi dia juga yang marah sampai ngatain aku buta,” ucap gadis itu.


Gadis itu merasa begitu kesal dengan sikap pengemudi mobil yang terlalu arogan dan tidak menghargai orang lain.


Tiba-tiba seorang pengemudi motor berhenti di hadapan gadis tersebut. Pengemudi itu membuka kaca helm dan menatap gadis tersebut dengan ekspresi heran.


“Adel, lu enggak kerja?” tanya pengemudi motor kepada gadis itu.


“Kerja,” jawab gadis bernama Adelia.


“Aku hampir ketabrak mobil tadi,” jujur Adel.


“Gila, kok bisa? Sudah bareng gue saja.” Pengemudi itu menawari Adel untuk berangkat bareng dengannya, sementara Adel terdiam dan berpikir sejenak.


Adel ragu menerima tawarannya karena pengemudi itu adalah rekan kerja yang menyukai Adel sejak bekerja di club malam.


“Tenang saja, enggak ada maksud apa-apa kok. Gue cuman ngajak bareng saja,” ungkap laki-laki itu seolah tahu isi pikiran Adel.

__ADS_1


“Iya, aku mau.” Adel langsung menaiki motor tersebut. Setelah itu, laki-laki itu kembali mengendarai motornya dan melaju menuju tempat kerja mereka.


***


Adel sampai di tempat kerjanya, Adel turun dari motor dan berjalan memasuki tempat kerjanya yang sudah ramai oleh pengunjung. Adel bekerja di club malam tetapi Adel tidak pernah menerima tawaran tidur dari laki-laki hidung belang seperti rekan-rekannya dan itulah yang membuat rekan kerjanya yang bernama Aldi jatuh hati kepadanya.


“Gue kerja dulu ya. Kalau ada laki-laki yang macam-macam langsung bilang gue biar gue pukul tuh orang,” ujar Aldi kepada Adel.


“Iya, kamu tenang saja.”


Aldi langsung tersenyum menatap Adel, lalu Aldi pergi meninggalkan Adel dan mulai melakukan pekerjaannya. Sementara Adel masih terpaku dan memandang Aldi dari kejauhan, Adel tahu Aldi tulus mencintainya tapi hati Adel sudah dimilik oleh seseorang yang tidak mungkin menjadi miliknya.


“Maaf, aku belum bisa balas cintamu,” tutur Adel sembari melihat Aldi.


Adel menghela napas dan berbalik menghadap belakang. Namun, tiba-tiba ada seorang pria bertubuh tinggi. Pria itu berdiri tepat di hadapannya dan mereka saling bertatapan satu sama lain.


“Lu kan gadis yang hampir gue tabrak,” ucap pria itu membuat Adel membeku.


“Ngapain lu di sini?” tanyanya.


Adel tidak menjawab dan bergegas pergi meninggalkan laki-laki itu, sedangkan laki-laki itu terus meneriakinya hingga membuat pengunjung lain menatap dirinya.

__ADS_1


“Sudah Stevan! Lu jadi bahan omongan pengunjung lain,” ujar Kiki.


Kiki menarik tangan Stevan dan membawanya menuju meja mereka. Malam ini Stevan dan teman-temannya akan berpesta sekaligus membicarakan tentang musuh lama Stevan yang kembali datang.


__ADS_2