SUAMIKU BOS MAFIA [Revisi]

SUAMIKU BOS MAFIA [Revisi]
Adel Pingsan [Selesai Revisi]


__ADS_3

Adel membersihkan bajunya di dalam toilet. Setelah itu, Adel terdiam sejenak dan menatap kaca toilet dengan raut sendu. Adel merasa tertekan bekerja di tempat seperti itu tapi ia tidak memiliki pilihan lain, selain bertahan dan terus bekerja.


Adel sudah mencari pekerjaan tetapi sangat sulit untuk mendapatkan pekerjaan jika tidak memiliki kekuatan orang dalam.


“Semangat Adel, kamu pasti bisa!” Adel mencoba menyemangati dirinya sendiri.


Adel memejamkan mata dan menghela napas secara perlahan. Adel berusaha tenang hati serta pikirannya supaya tidak kepikiran dengan kejadian tadi, ia tidak boleh tertekan karena penyakitnya bisa kumat jika terlalu depresi dengan keadaan.


“Kamu harus kuat demi masa depan! Kamu enggak boleh menyerah!” seru Adel dengan penuh semangat.


Adel kembali membuka mata, lalu keluar dari toilet. Adel melihat suasana di club tersebut semakin malam meskipun jam sudah menunjukkan jam 1 malam.


Adel melangkah dan kembali melanjutkan pekerjaannya hingga subuh pun tiba. Adel berjalan menuju rumahnya dalam kondisi kelelahan, ada banyak sekali pelanggan yang membuatnya naik pitam terutama laki-laki buaya darat yang terus menggodanya.


“Sakit sekali kepalaku,” ucap Adel.


Adel memegang kepalanya dan tetap berjalan menuju rumah. Rumahnya berada cukup jauh dari tempat kerja tetapi Adel memilih jalan kaki untuk menghemat biaya.

__ADS_1


Tiba-tiba ada dua orang pria membuntuti Adel dan salah satu dari pria tersebut merampas paksa tas Adel dan membawa kabur tasnya.


“Jambret!” Adel berteriak dan berusaha mengejar penjambret tersebut. Adel berlari sekuat tenaga tapi tiba-tiba kepalanya terasa pusing, perlahan pandangannya buram dan Adel tidak sadarkan diri di trotoar jalan.


...*****...


Stevan berada di dalam mobilnya, ia mengemudikan mobilnya menuju rumah. Semalam dirinya sudah puas berpesta dengan teman-temannya dan sekarang saatnya untuk beristirahat.


“Van, itu bukannya pekerja di club yang marah-marah sama wanita simpanan ya?” tanya Kiki seraya menunjuk ke trotoar jalan.


“Iya, dia kenapa ya?” tanya balik Stevan.


“Jangan-jangan wanita simpanan itu dendam dan suruh seseorang buat mencelakakan dia,” ucap Kiki menduga-duga.


Stevan langsung memberhentikan mobilnya dan keluar dari mobil, Stevan berjalan menuju trotoar dan berdiri di samping wanita itu.


Stevan mengecek kondisi wanita itu dan sepertinya dia pingsan akibat kelelahan karena wajahnya pucat dan suhu tubuhnya yang terasa begitu panas.

__ADS_1


“Bagaimana kondisinya?” tanya Kiki seraya menghampiri Stevan.


Stevan hanya terdiam dan menggendong wanita tersebut. “Kita harus bawa dia ke rumah sakit!” seru Stevan.


Stevan berjalan menuju mobilnya, lalu Stevan membaringkan wanita itu di jok belakang. Setelah itu, Stevan dan Kiki masuk ke mobil. Stevan menancapkan pegas mobil dan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit terdekat untuk menyelamatkan nyawa dari wanita itu.


Sesampainya di rumah sakit, Stevan dan Kiki bergegas membawa wanita itu ke dalam. Mereka memasuki rumah sakit dengan penuh kepanikan membuat para perawat bergegas membaringkan Adel di brankar dorong.


“Bapak tunggu di sini biar kami menangani,” ujar perawat kepada Stevan.


Para perawat membawa Adel ke ruang UGD untuk diperiksa, sementara Stevan dan Kiki menunggu di luar. Stevan mondar-mandir dengan raut cemas, sedangkan Kiki kebingungan melihat tingkah Stevan.


“Lu kenapa, Van?” tanya Kiki.


“Gue enggak habis pikir, kenapa dia bisa pingsan? Semalam dia baik-baik saja. Jangan-jangan wanita murahan itu menyuruh orang untuk melukainya?” Stevan menjawab seraya menduga-duga kejadian yang menimpa pekerja club tersebut.


“Mungkin dia kelelahan atau dia mempunyai riwayat penyakit, makanya dia pingsan di tengah jalan. Sudah kita tunggu dokter saja biar lebih jelas,” ujar Kiki mencoba menghilangkan pikiran negatif di otak Stevan.

__ADS_1


__ADS_2