![SUAMIKU BOS MAFIA [Revisi]](https://asset.asean.biz.id/suamiku-bos-mafia--revisi-.webp)
Adel hanya bisa menepuk kening saat melihat kelakuan suami dan kakaknya, ia tidak tahu harus berbuat apa karena kakak dan suaminya memang memiliki kelakuan yang bikin geleng-geleng kepala. Terutama bagi orang-orang yang sudah mengenal mereka sejak kecil, seperti dia dan Genta.
"Haduh, sudahlah... biarkan saja, mereka bermain kejar-kejaran." Adel menghela napasnya dan terus menatap ke arah Stevan serta Daigo.
Saat dirinya tengah sendirian, Aditya datang menghampirinya dan duduk di sampingnya. Namun, Adel mengabaikannya karena ia tidak mau berbicara dengan mantan suaminya.
"Adel...," panggil Aditya.
"Ada apa?" tanya Adel dengan datar.
"Maafkan aku, aku menyesal karena sudah meninggalkan kamu," ucap Adit.
"Tidak apa, aku sudah melupakannya. Sekarang, aku sudah bahagia karena ada suami, kakak dan sahabatku yang selalu mendukung aku seperti Stevan, Kak Daigo dan Genta."
Adel menjawabnya tanpa melirik sedikitpun ke arah Aditya, Adel hanya ingin menatap suami dan kakaknya yang kini, sedang membuang bingung para tamu undangan.
"Kamu mencintai Stevan?" tanya Adit membuat Adel melirik sekilas dan kembali membuang tatapannya.
"Tentu saja, aku sangat mencintainya," jawab Adel.
Adit terdiam, kemudian dia bangkit dari posisi duduknya dan hendak pergi meninggalkan Adel.
"Aku pergi dulu, ya. Semoga pernikahan kamu langgeng dengan Stevan," doa Adit untuk Adel.
"Iya, terima kasih karena sudah datang ke pernikahan ini," sahut Adel.
__ADS_1
"Sama-sama."
Adit pergi dari hadapan Adel dan setelah Adit pergi, Adel menghela napasnya sambil memandangnya dari kejauhan. Adel merasa iba kepada Adit karena ia tahu, sebenarnya Adit masih mencintainya. Namun, mamanya memaksa untuk menceraikan dirinya.
"Semoga, hidupmu bahagia."
Adel tersenyum kecil, lalu ia bangkit dari posisi duduknya dan berjalan menuju ke arah Stevan serta Daigo. Namun, saat berada di tengah perjalanan. Ada seseorang yang menarik tangannya secara tiba-tiba serta membuatnya terkejut.
"Genta!" Teriak Adel.
"Kenapa? ngefans, ya?" tanya Genta.
"Kamu kenapa tarik tangan aku?" tanya Adel kepada Genta.
"Maaf... kata Daigo, kamu belum boleh ke sana karena ia sedang menginterogasi Stevan," ucap Genta.
"Kepo deh, Anda," jawab Genta.
Genta menarik tangan Adel dan membawanya pergi dari tempat itu. Mereka berjalan menuju ke tempat khusus hidangan dan mengambilkan es doger untuk Adel.
"Nih, makan," ucap Genta.
"Tumben sekali, kamu baik sama aku." Adel merasa curiga dengan Genta.
"Aku memang baik, hanya saja wajahku ini terlihat seperti Singa," sahut Genta.
__ADS_1
"Terserah, kamu sajalah," ucap Adel.
Adel enggan mengambil pusing ucapan Genta karena ia tidak mau menjadi gila hanya karena ucapan Genta yang menyesatkan. Satu-satunya orang yang waras di dalam Daigo and the geng adalah dirinya.
Beberapa jam kemudian...
Acara tersebut selesai, seluruh tamu undangan sudah pulang ke rumah masing-masing. Sedangkan Stevan dan Adel tengah berkumpul bersama keluarga besarnya.
"Cihuy, ada pengantin baru nih," ejek Genta kepada Stevan.
"Iya dong," jawab Stevan.
"Nanti mau punya anak berapa? 20? 30? 40? 50? atau 100?" tanya Genta.
"Astaga, mana ada orang yang anaknya sebanyak itu."
Adel menatap Genta, tetapi Genta tidak memedulikannya. Dia ingin mengganggu Stevan, meskipun nanti dia di tampar oleh Adel. Namun, dirinya tidak takut karena Daigo akan ikut mengganggu Stevan dan Adel.
__ADS_1
Penasaran dengan kelanjutannya? yuk baca.