SUAMIKU BOS MAFIA [Revisi]

SUAMIKU BOS MAFIA [Revisi]
Malu-malu.


__ADS_3

Ketika Dion dan Gilang tengah membahas tentang jodoh nya, Revan keluar dari dalam kamar Vani dengan gaya yang cukup keren dan elegan. Dion dan Gilang yang melihat nya langsung menganga karena Revan terlihat jauh lebih tampan dan muda dari sebelumnya, Dion semakin merasa minder saat melihat Revan karena Revan terlihat begitu tampan.


"Itu kak Revan kah?" tanya Dion.


"Iya, itu adalah kak Revan" balas Gilang.


"Kenapa dia terlihat jauh lebih tampan?" tanya Dion.


"Tidak tau, mungkin karena mau jalan-jalan sama calon istri nya" balas Gilang.


"Tapi Vani nya saja terlihat biasa saja" kata Dion.


"Si Vani kan bodoh, cowok setampan dan sekaya kak Revan di cuekin" kata Gilang.


Revan berjalan menuju Dion dan Gilang, saat Revan berjalan mendekati mereka.. Dion dan Gilang mencium aroma wangi dari pakaian yang Revan kenakan. Revan duduk di sebelah Dion dan Gilang, kemudian mereka saling memuji satu sama lain.


"Wih, kak Revan terlihat begitu tampan" puji Dion.


"Kamu juga" puji balik Revan


"Kak, sudah siap semuanya?" tanya Gilang.


"Sudah, kita berangkat yuk" ajak Revan.


"Ayuk, Vani nya mana?" tanya Gilang.


"Seperti nya di bawah" balas Dion.


"Baiklah, kita kebawah sekarang" kata Revan.


Revan langsung bangkit dari posisi duduk nya, kemudian turun dari lantai tiga menuju lantai satu kediaman keluarga fratama.


Sesampainya di lantai satu...


Revan melihat Vani sedang memasukan barang-barang yang akan mereka bawa ke dalam mobil, Revan berniat ingin membantu Vani namun Dion dan Gilang menghalangi nya.


"Kita aja yang masukin barang-barang itu ke mobil nah pas kita lagi masukin barang-barang ke dalam mobil, lu gendong si Vani terus lu bawa dia masuk ke dalam mobil" kata Dion.


"Nah bener itu, Vani itu suka sama cowok yang romantis dan perhatian" kata Gilang.


Gilang mendorong tubuh Revan sampai membuat Revan menubruk punggung Vani, Vani yang sedang memasukan barang-barang ke dalam mobil pun langsung menoleh ke belakang.


"Kak Revan kenapa?" tanya Vani.


"Di dorong sama setan" balas Revan.


"Mana setan nya?" tanya Vani.


"Tuh" balas Revan sambil menunjuk ke arah belakang tubuh nya.


Vani menatap ke arah belakang Revan dan ketika Vani sedang menatap ke arah belakang, Revan menggendong tubuh Vani dan membawanya. Vani terkejut saat Revan menggendongnya, sedangkan Stevan dan Adel menganga karena Revan berani menggendong putri mereka di depan Stevan.


"Kak Revan mau ngapain?" tanya Vani.


"Gendong kamu" balas Revan.


"Lepasin! nanti kak Dion marah loh" kata Vani.

__ADS_1


"Enggak bakal" kata Revan.


"Kok kamu tau?" tanya Vani.


"Orang yang nyuruh aku untuk gendong kamu adalah Dion" balas Revan.


Vani langsung mengepalkan tangan nya dan menatap tajam wajah Dion, kemudian Vani berteriak dengan begitu kencang.


"Kakak kampret! (kalau di sensor maaf)" teriak Vani. Vani menatap tajam Dion, akan tetapi Dion malah tertawa terbahak-bahak karena rencanannya berhasil membuat adik nya menjadi kesal.


Beberapa menit kemudian..


Revan menurunkan tubuh Vani di jok mobil nya, Revan memakaikan Vani sabuk pengaman dan setelah itu Revan juga masuk ke dalam mobil.


"Dion, cepat masuk!" suruh Revan.


"Iya kak" balas Dion.


Dion dan Gilang langsung membawa seluruh barang-barang mereka dan memasukkan nya ke dalam bagasi mobil, kemudian mereka berdua masuk ke dalam mobil dan duduk manis di jok belakang.


"Ayok kita berangkat!" suruh Gilang.


"Iya" ucap datar Revan.


Revan menjalankan mobil nya dengan perlahan-lahan, ketika Revan menjalankan mobil nya.. Dion dan Gilang langsung berteriak dan bersorak-sorak dari dalam mobil, mereka berdua begitu senang karena bisa liburan berempat.



...4 jam kemudian . . ....


Mereka sudah sampai di sebuah kampung tempat danau itu berada, mereka menitipkan mobil nya di penitipan mobil.



"Iya, kan masih di daerah pedalaman kota" kata Gilang.


"Oh, jadi ini yang dinamakan pedalaman kota" kata Vani.



Vani menghirup udara sejuk itu, lalu menghela nafas nya kembali sambil tersenyum. Vani sangat senang saat berada di kawasan seperti itu karena udaranya masih sangat asri dan begitu sejuk. Saat Vani tengah asyik berfoto-foto riang bersama dengan Gilang, Revan menatap Vani dari kejauhan sambil tersenyum-senyum sendiri.



"Eciee, dari tadi kak Revan menatap Vani secara terus-menerus" ledek Dion.


"Apa sih kamu, kata siapa aku menatap Vani?" tanya Revan


"Yaelah kak, gak usah bohong deh, dari tatapan mata kakak saja sudah kelihatan" kata Dion.



Dion mengejek Revan, Dion terus menerus mengucapkan kata cie kepada Revan dan gegara ulah Dion pipi Revan menjadi merah gegara malu dengan Vani yang menatap balik dirinya.



"Dion, awas ya kamu!" ancam Revan.

__ADS_1


"Awww, takut tapi bohong" kata Dion.



Dion langsung kabur supaya Revan tidak mengejar dirinya, Dion mengetahui kalau sebenarnya Vani sudah mulai kagum dengan Revan dan Dion berniat ingin turun tangan supaya rasa kagum Vani bisa berubah menjadi sebuah rasa cinta.



"Gw harus turun tangan" batin Dion, Dion merencanakan sesuatu untuk membuat Vani jatuh cinta kepada Revan. Dion memang ahli dalam menjodoh-jodohkan orang lain tapi dirinya tidak ahli dalam mencari jodoh untuk dirinya sendiri.


...



Pada malam hari..


Dion dan Gilang sudah tertidur pulas di dalam tenda nya, namun Revan dan Vani masih belum tertidur dan mereka berdua saling bertatapan dari kejauhan. Revan tidak berani menyapa atau mendekati Vani duluan karena dia takut Vani akan semakin menjauh dari dirinya, sedangkan Vani merasa gengsi jika dia yang mendekati Revan duluan.



"Kenapa sih, setiap kali aku melihat wajah kak Revan, aku merasakan ada yang berbeda dari hatiku. Apakah ini yang dinamakan pertanda jodoh dari tuhan?" batin Vani.



Vani menatap wajah Revan namun ketika Revan menatap balik dia, Vani malah membuang tatapan nya dari Revan. Revan menyadari jika sedari tadi Vani menatap nya secara diam-diam namun Revan berpura-pura tidak melihat supaya Vani terus menatap nya secara diam-diam.



"Dasar anak-anak jaman sekarang, suka nya memendam perasaan tapi giliran melihat dia dengan yang lain malah nangis-nangis di dalam kamar nya terus bikin story galau" batin Revan.


Revan sudah bisa menebak sifat dan kelakuan Vani, Revan jauh lebih tua dari Vani dan tentu saja dia sudah terbiasa dengan hal yang seperti ini.



"Vani, kamu mau ikut aku jalan-jalan?" tanya Revan.


"Mau" balas Vani.


"Oke, yuk kita jalan-jalan berdua saja" ajak Revan.


"Yuk, bentar kak aku pakai jaket dulu" kata Vani.



Vani memakai jaket tebal nya, kemudian Revan menggandeng tangan Vani dan mengajak Vani untuk menggiling daerah danau itu.


Revan dan Vani jalan berdua di tepi danau, Revan masih terlihat gugup dan begitupun sebaliknya. Mereka merasa ada yang berbeda dengan hati nya karena setiap mereka jalan berdua pasti mereka merasakan suatu getaran yang berbeda di hatinya.



"Vani, kamu suka dengan danau ini?" tanya Revan.


"Suka sekali, danau ini rasanya tidak asing bagi diriku" kata Vani.


"Sama, aku merasakan sesuatu yang berbeda dengan tempat ini" kata Revan.


__ADS_1


Revan menceritakan keanehan nya kepada Vani sambil menggenggam tangan nya Vani yang begitu lembut dan wangi, Revan meraba-raba tangan tersebut dan dia tidak ingin melepaskan tangan itu walau hanya sebentar.


__ADS_2