![SUAMIKU BOS MAFIA [Revisi]](https://asset.asean.biz.id/suamiku-bos-mafia--revisi-.webp)
Keesokan hari nya...
Vani masih tertidur di atas ranjang nya yang begitu empuk dan membuat hangat, seperti pelukan doi. Vani tertidur dengan begitu pulas bahkan sangking pulas nya, dia sampai tidak menyadari kalau hari sudah semakin siang dan sebentar lagi sekolah akan di mulai.
"Vani mana, ma?" tanya Dion.
"Di kamar nya" jawab mama Adel
"Uwaw, udah jam segini belum bangun juga tuh bocil" ucap Dion.
"Kamu bangunin gih, Yon" suruh mama Adel.
"Oke, ma" sahut Dion.
Dion berjalan menuju kamar nya Vani dengan gaya yang penuh elegan dan ketampanan yang berada di dalam diri nya, Adel yang melihat putra pertama nya itu hanya tersenyum sebab sifat Dion hampir mirip dengan Stevan.
"Dion, Dion, kadang mama merasa kasihan dengan kamu karena kamu selalu di ejek jones sama papa tapi mau gimana lagi, itu kan emang kenyataan nya" Kata Adel. Adel tersenyum-senyum sendiri saat melihat tingkah anak-anak nya, kelakuan Stevan dulu di turunkan ke Vani dan Dion sedangkan Adel tidak menuruni apapun ke anak-anak nya.
Adel tidak menyangka bahwa rumah tangga nya dengan Stevan telah berjalan selama berpuluh-puluh tahun dan kini anak-anak mereka sudah tumbuh menjadi remaja-remaja kekinian yang memiliki ketampanan serta kecantikan nya masing-masing hanya saja Dion masih jomblo hingga kini.
"Semoga suatu saat nanti, kalian berdua dapat menemukan orang yang bisa menjaga kalian hingga akhir hayat kalian" doa Adel. Adel selalu mendoakan yang terbaik untuk kedua anak-anak nya dan semoga tuhan mengabulkan doa Adel yang tulus sebagai seorang ibu.
...*****...
Dion sudah tiba di lantai tiga rumah nya, Dion nampak begitu kesal dengan adik nya itu. Vani selalu saja telat bangun dan gegara Vani, mereka berdua selalu terlambat ke sekolah.
"STEVANI NAURA FRATAMA" Panggil Dion.
Dion memanggil-manggil nama Vani dari luar kamar Vani, namun sayang nya Vani tidak membukakan pintu kamar nya yang masih di kunci itu.
~Tok, tok, tok" suara ketukan pintu.
Dion mengetuk-ngetuk pintu kamar Vani sembari memanggil nama Vani dari luar kamar dan berharap Vani membukakan pintu kamar nya lalu mandi.
"Kebo betinaaaa, bangun" teriak Dion.
Dion menggedor-gedor pintu kamar nya Vani sambil berharap Vani membukakan pintu kamar nya namun kenyataan Vani masih belum juga membuka pintu nya.
"Oke satu-satunya cara adalah mendobrak pintu kamar ini" kata Dion. Dion sudah kehabisan kesabaran dengan Vani, karena setiap hari Dion harus di hukum oleh guru nya karena dia telat masuk ke dalam kelas.
Dion tengah bersiap-siap untuk mendobrak pintu kamar nya Vani yang terbuat dari kayu, Dion mengambil posisi nya dannnn dia langsung mendobrak pintu kamar tersebut.
__ADS_1
Pintu kamar itu berhasil di buka, dan sekarang saat nya untuk Dion menghukum adik nya yang pemalas itu.
"Vani, lu nyari masalah sama gua" ucap Dion.
Dion berjalan menghampiri Vani, lalu dia menjewer telinga Vani dan membawa Vani ke kamar mandi. Dion membawa Vani ke dalam kamar mandi, lalu Dion menyiram Vani menggunakan sebuah air dingin supaya Vani terbangun dari tidurnya. Vani yang merasa kedinginan pun langsung bangun dari mimpi indah nya, Vani melihat seluruh pakaian nya basah serta di hadapan nya ada si kakak nya yang super-duper gesrek.
"Lu tidur atau mati suri sih?" tanya Dion
"Tidur lah, bodoh" balas Vani.
"Gua kira mati suri" kata Dion.
"Iyain" ucap Vani. Vani mendorong tubuh Dion dari dalam kamar mandi, setelah melihat Dion keluar.. Vani langsung memulai mandi nya dengan penuh ketenangan dan tanpa gangguan dari si setan yang menjelma menjadi Dion putra fratama.
"Adek gak ada akhlak" teriak Dion.
"Biarin daripada lu, kakak setengah setan" sahut Vani. Vani selalu saja mengejek Dion dengan sebutan kakak setengah setan dan Dion selalu mengejek Vani dengan sebutan adik tak ada akhlak.
Dion menunggu Vani di luar kamar sedangkan Vani masih mandi, Vani tengah asyik membayangkan wajah seseorang yang selalu membuat hari-hari nya bahagia yaitu Anggara. Vani begitu merindukan Angga, akan tetapi Angga sudah tidak pernah menghampiri diri nya lagi..
"Angga, kamu kemana sebenarnya? Aku kangen" Gumam Vani. Vani masih belum bisa move on dari Anggara, walau Angga sudah menolak nya selama berkali-kali tapi tetap saja hati nya sulit untuk melupakan Angga.
...***...
30 menit kemudian...
Vani sudah selesai mandi, dan kini diri nya sedang bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah walau sebenarnya dia masih memikirkan Angga.
"Ayok, semangat Vani !! kalau misal nya Angga adalah jodohmu pasti kalian akan di pertemukan kembali" kata Vani kepada diri nya sendiri. Vani menghela nafas nya, kemudian keluar dari dalam kamar nya dan berjalan menghampiri Dion yang sedang bermain game di atas sofa. Vani duduk di samping Dion dan memegang tangan kakak angkat nya itu, Dion yang melihat Vani seperti itu menjadi kebingungan karena tidak biasa nya Vani seperti ini.
"Akhir nya nongol juga lu" ucap Dion
"Maaf ya kak" ucap Vani.
"Iya, gak papa" sahut Dion.
"Yuk jalan" ajak Vani
"Yuk" sahut Dion. Dion menggandeng tangan adik kesayangan nya itu, mereka berdua menuruni anak tangga secara berbarengan.
Sesampainya di lantai satu, Dion dan Vani berjalan menuju dapur untuk berpamitan kepada mama tercinta mereka yang kini sudah berusia 40 tahunan.
__ADS_1
"Mama, Aku sama kak Dion berangkat ke sekolah dulu ya" pamit Vani.
"Iya nak" sahut mama Adel. Mama Adel berjalan menghampiri kita berdua, kemudian memeluk tubuh kita dengan erat sembari menangis.
"Mama, kenapa?" tanya Dion
"Mama hanya merasa sedih saja saat melihat kalian sudah dewasa, pasti sebentar lagi kalian akan menikah dan memiliki keluarga sendiri" Balas Adel.
"Mama, Dion enggak mau nikah. Dion cuma mau jadi anak mama sama papa aja" Kata polos Dion. Dion memeluk erat tubuh mama nya yang mungil itu, Dion dan Adel berbeda tinggi yang cukup jauh karena Dion memiliki tinggi badan yang cukup uwaw.
"Kalian pasti akan menikah, nak. Lagian mama sama papa pengen banget cepat-cepat gendong cucu" ucap Adel kepada kedua anak nya.
"Mama gendong kucing aja, terus mama anggap kalau kucing itu cucu mama" kata Dion.
"Dioonnn, kamu ini ya selalu saja bikin mama emosi" teriak Adel.
"Kaburrrr" ucap Dion.
Dion kabur dari mama nya, karena dia tidak mau kena semprot dari mama nya. Adel sekarang suka marah-marah apalagi kalau dia lagi beberes dan anak-anak nya malah membuat rumah mereka berantakan lagi. Keluarga fratama tidak pernah memakai pembantu, semua pekerjaan rumah di kerjakan oleh Adel dan itu sebabnya Adel suka marah-marah kalau melihat kamar anak-anak nya yang begitu berantakan seperti sebuah kapal pecah.
"Sabar ya, ma. Kak Dion emang gesrek" kata Vani
"Iya nak, kamu berangkat sekolah gih nanti di tinggal sama kak Dion loh" suruh Adel.
"Oke, ma. dadah" pamit Vani.
"Dadah juga" sahut Adel.
Vani salim kepada mama nya, kemudian Vani menyusul Dion yang sedang mengumpat di dalam mobil. Vani dan Dion memang jarang terlihat akur namun kedua nya akan tetap berusaha untuk terlihat akur di depan mata kedua orangtuanya sebab mereka tidak mau membuat Stevan dan Adel sedih.
Vani berjalan menuju mobil lalu dia masuk dan duduk di samping nya Dion yang sedang mengumpat, Vani sengaja ingin mengerjai Dion yang tengah mengumpat dari mama Adel.
"Hayuluh, lagi ngapain lu?" tanya Vani.
"Lagi main petak umpet" balas Dion.
"Oh, gw kira lagi nemenin anak tuyul" kata Vani.
"Iyain" sahut Dion.
Dion tidak ingin berbicara lama-lama kepada Vani karena mereka sudah hampir telat, Dion menjalankan mobil nya secara perlahan-lahan dan pergi meninggalkan rumah nya.
__ADS_1