SUAMIKU BOS MAFIA [Revisi]

SUAMIKU BOS MAFIA [Revisi]
Kagum [Selesai Revisi]


__ADS_3

Adel sedang mengelap meja sembari mengambil beberapa gelas yang sudah tidak dipakai untuk dibersihkan. Adel membersihkan meja seraya menggunakan earphone sebab ia tidak suka mendengar musik yang berada di club tersebut.


“Mbak, cepat ke sini!” Seseorang memanggil Adel, tetapi Adel tidak mendengar dan fokus membersihkan meja.


“Woi, lu tuli ya?” tanya orang tersebut seraya berteriak. Spontan Adel membuka earphone dan menghampiri pelanggan tersebut.


“Iya, ada apa, Mbak?” tanya Adel dengan penuh hormat kepada wanita cantik yang duduk bersama laki-laki tua.


“Ini minuman saya tumpah. Tolong bersihkan,” perintahnya kepada Adel dengan raut merendahkan.


“Baik, Mbak.” Adel mengelap lantai, sementara wanita itu kembali bersandar di dada laki-laki tua yang berada di sampingnya. Namun, laki-laki tua itu justru fokus menatap Adel seraya tersenyum nafsu.


“Siapa nama kamu?” tanya laki-laki itu.


“Bapak bertanya ke saya?” Adel berbalik bertanya dengan raut bingung.


“Iya, cantik ...” jawabnya dengan menggoda.

__ADS_1


“Nama saya adalah Adelia,” jawab Adel seraya menunduk hormat.


“Namanya cantik persis seperti orangnya,” jawab laki-laki itu.


Adel hanya terdiam dan kembali mengelap lantai. Adel tidak memiliki selera dengan laki-laki yang berada di tempat ini, semua laki-laki di sini adalah laki-laki kotor yang sudah mencicipi semua wanita. Bahkan Aldi pun sudah sering melakukan hubungan badan dengan mantan kekasihnya.


“Kamu kenapa sih malah menggoda dia? Jelas-jelas ada aku di sini,” tanya wanita yang bersama pria tua tersebut.


“Tapi dia lebih cantik dari kamu,” jawab pria tua tersebut.


Stevan memandang Adel yang tidak peduli sama sekali dengan keributan itu. Adel tetap fokus dengan pekerjaannya meskipun pasangan itu bertengkar gara-gara dirinya.


“Itu wanita kok diam saja ya? Dia kayak enggak peduli sama sekali dengan sekitar,” ucap Kiki merasa heran dengan sikap Adel.


“Sepertinya dia sudah biasa menghadapi para pelanggan nakal,” jawab temannya.


Mereka terus melihat keributan tersebut dari kejauhan, sementara Adel menyadari bahwa orang-orang menatap dirinya dan Adel hendak melangkah meninggalkan meja itu.

__ADS_1


Namun, tiba-tiba wanita itu mencengkeram tangan Adel dan menariknya kasar, kemudian wanita itu menyiram Adel.


“Ini semua gara-gara lu, bisa-bisanya lu goda pacar gue!” Wanita itu mencaci Adel, sedangkan Adel terdiam seraya melontarkan tatapan sinis kepadanya.


“Dasar wanita ganjen!” Wanita itu hendak menampar Adel. Namun, Adel menangkis dan mencengkeram kuat pergelangan tangannya.


“Wanita ganjen? Pacarmu yang ganjen, saya diam saja tapi dia berusaha menggoda saya. Lagi pula kamu juga belum tentu istri sahnya, siapa tahu kamu cuman wanita simpanan yang sok berkuasa atas dirinya.” Adel bertatapan dengan wanita itu, ekspresi Adel langsung berubah menjadi menyeramkan membuat wanita itu ketakutan.


“Lepaskan!” seru wanita itu seraya memberontak, tetapi Adel memperkuat cengkeramannya hingga menimbulkan bekas merah di pergelangan wanita itu.


“Saya tidak murahan seperti dirimu. Hanya wanita simpanan saja bangga, kedudukan kamu tidak lebih tinggi dari istri sahnya.” Adel melepaskan tangan wanita tersebut, lalu Adel pergi meninggalkan tempat itu dan berjalan menuju toilet untuk membersihkan bajunya.


Sepanjang perjalanan, Adel menjadi pusat perhatian lantaran sikapnya yang berani melawan wanita itu. Semua pelanggan kagum dengan tindakan Adel, bahkan Stevan sampai tersenyum karena perkataan Adel.


“Hebat banget dia. Wanita kayak begitu memang harus dikasari sekali-kali biar mereka tidak semena-mena,” ucap Kiki.


“Seandainya Bunda gue kayak dia, mungkin pelakor tidak berani merebut Ayah gue.” Stevan ikut menyahuti. Stevan berharap Bundanya bisa tegas dan cerai dengan sang Ayah, tetapi Bunda justru lebih memilih di madu dibandingkan bercerai dengan iblis itu.

__ADS_1


__ADS_2