SUAMIKU BOS MAFIA [Revisi]

SUAMIKU BOS MAFIA [Revisi]
Acara Resepsi Pernikahan


__ADS_3

Stevan memakaikan cincin pada jari manis Adel, kemudian Adel memakaikan cincin di jari Stevan. Setelah itu, Stevan mengecup tangan serta keningnya Adel.


"I love you, sayang... aku sangat mencintaimu," ucap Stevan.


"Aku juga mencintaimu," sahut Adel.


Adel memeluk Stevan dan Stevan membalas pelukannya. Para tamu yang melihatnya merasa itu dengan mereka, mereka sepertinya saling mencintai bahkan cinta mereka jauh lebih besar dari Romeo and Juliet.


"Mereka so sweet, ya. Romeo dan Juliet saja kalah dengan mereka," ucap salah satu tamu undangan.


"Iya, sepertinya cinta mereka akan abadi hingga seumur hidupnya," sahut yang lain.


Mereka bertepuk tangan sambil bersorak sorai membuat Adel dan Stevan merasa sangat bahagia. Mereka melihat para tamu undangan sambil duduk di kursi pelaminan, Stevan merangkul Adel, sedangkan Adel menyandarkan kepala di bahu Stevan.


"Sayang, terima kasih karena kamu mau menikah denganku. Aku tidak pernah menyangka jika jodohku adalah kamu," bisik Stevan di telinga Adel.


"Aku juga, aku tidak pernah menyangka. Kalau jodohku memiliki paras yang sangat tampan seperti dirimu," ucap Adel sambil tersenyum.


Mereka saling memuji satu sama lain, Stevan menatap wajah Adel. Ia hendak mengecup bibir Adel, tetapi Daigo datang secara tiba-tiba.


"Hai, pengantin baru... selamat, ya. Semoga pernikahan kalian langgeng hingga maut memisahkan, tapi kalau adik gue mati duluan dan lo menikah lagi, gue akan kirim lo ke rumah sakit!" ancam Daigo kepada Stevan.

__ADS_1


Daigo menarik kerah baju Stevan dan hendak menonjok wajahnya, tetapi Adel menghalanginya menggunakan tangannya, supaya wajah suaminya yang tampan itu tidak babak belur.


"Heh! kok kakak berbicara seperti itu sih? kakak mau aku mati duluan ya? belum pernah, aku tabok?" tanya Adel.


"Sorry, kakak sudah sering di tabok sama kamu," jawab Daigo.


"Hmm, pergi sana! jangan jadi pengganggu di antara kami berdua," usir Adel.


Adel mendorong Daigo, supaya Daigo pergi dari hadapannya dan Stevan. Ia hanya ingin berdua dengan suaminya, tetapi kakaknya yang merupakan jelmaan seorang iblis itu malah mengganggu mereka.


"Tidak mau! aku mau mengganggu kalian berdua," ucap Daigo.


"Minta di tabok, ya?" tanya Adel.


"Huh, sabar Adel."


Adel mengelus dadanya, supaya hatinya kembali tenang. Setelah merasa tenang, Adel kembali duduk di samping Stevan dan menyandarkan kepalanya. Namun, selang beberapa menit, Daigo kembali menganggunya dan kini, Daigo mengajaknya bermain kejar-kejaran.


"Ayo, kejar gue!" Tantang Daigo.


"Dih, kekanak-kanakan banget sih," ucap Adel.

__ADS_1


"Halah, dulu kamu juga sering bermain seperti ini denganku."


Daigo mencoba untuk memancing Adel, sedangkan Adel berusaha untuk tidak mendengarkan ucapan kakaknya. Adel tidak ingin sikap aslinya di ketahui oleh tamu undangan, ia mencoba untuk bersikap ayu di hadapan para tamu. Meskipun, Stevan sudah mengetahui sikap aslinya.


"Sabar, sayang. Anggap saja, kakak kamu sebagai hantu," ucap Stevan kepada Adel sambil mengelus kepalanya dengan lembut.


"Wah, mentang-mentang sudah jadi adik ipar menjadi sombong," ucap Daigo. Daigo menghampiri Stevan dan menarik tangannya, lalu Daigo membisikkan sesuatu di telinga Stevan.


Setelah mendengarnya, Stevan menjadi emosi dengan Daigo dan kini, Stevan lah yang mengejar-ngejarnya. Stevan tidak terima dengan ucapan Daigo sebab Daigo menyebutnya sebagai banci.


"Kamu belum pernah kena timpuk sepatu milik bundaku, mau merasakannya?" tanya Stevan.


"Silakan, aku akan bawa centong kesayangan milik mamaku."


"Ih, dasar... Daigo jelek!" ucap Stevan.


"Sorry, gue tampan, blee...."


Daigo menjulurkan lidahnya dan mengejek Stevan membuat Stevan semakin marah, Stevan kembali mengejarnya hingga membuat para tamu undangan menjadi kebingungan.


Mungkin sebagian dari mereka, menganggap Stevan sebagai orang gila.

__ADS_1


'Seorang pengantin pria yang seharusnya bermesraan dengan istrinya malah mengejar-ngejar kakak iparnya."


__ADS_2