SUAMIKU BOS MAFIA [Revisi]

SUAMIKU BOS MAFIA [Revisi]
Bulan madu ala-ala


__ADS_3

Pukul 20.00 malam.


Stevan dan Adel sedang bersiap-siap untuk pergi ke sawah yang berada di belakang rumah Revan. Adel memakai kaus oblong berwarna putih dan celana pendek berwarna hitam, sedangkan Stevan hanya memakai kaus dalam dan celana pendek.


"Sayang, kamu hanya memakai itu? memangnya, tidak dingin, ya?" tanya Adel.


"Tidak kok, kan ada kamu yang bisa menghangatkan diriku," jawab Stevan.


Stevan tersenyum menggoda, sedangkan Adel malah menundukkan kepala. Ia merasa malu dengan Stevan karena Stevan selalu menggodanya dan godaan Stevan membuat hatinya berbunga-bunga, tetapi Adel berusaha untuk menyembunyikannya. Sementara itu, Stevan menatap Adel dengan lekat. Stevan sangat mencintai Adel dan ia tidak pernah menyangka, seorang gadis lugu adalah jodohnya.


"Hanya kamu satu-satunya, wanita yang membuat aku seperti ini. Seandainya saja, kamu menyadari kalau selama ini, rasa cintaku begitu besar kepadamu. Namun sayang, kamu tidak menyadarinya," ucap Stevan di dalam hatinya.


Stevan tersenyum kecil, lalu Stevan meraih tangan Adel dan menggenggam tangannya dengan penuh kelembutan.


"Sayang, kita berangkat yuk..." ajak Stevan.


"Ayo, sayang..." sahut Adel.


Adel membalas senyuman Stevan, kemudian mereka melangkahkan kakinya menuju ke sawah yang berada di belakang rumah.


Sesampainya di sana, mereka duduk di pinggiran sawah dan menatap ke arah langit yang di terangi oleh bulan.


"Bulannya indah, ya," ucap Adel.


"Iya, seperti dirimu," jawab Stevan.


"Hmm, aku tidak indah! Aku jelek seperti si buruk rupa," ucap Adel.


"Tidak, sayang! kamu sangat cantik, seperti bidadari."


Stevan memegang pipi Adel dan mengusapnya. Setelah itu, Stevan mengecup bibir Adel dengan penuh kelembutan karena dirinya sangat mencintai Adel dan cintanya jauh lebih besar dari cintanya Romeo pada Juliet.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian...


Stevan kembali menatap langit, sedangkan Adel tidur di pangkuannya. Adel tidak menatap langit, melainkan ia menatap wajah suaminya.


"Sayang, kamu mau punya anak berapa?" tanya Adel.


"100" jawab Stevan.


"Apa 100? mana ada pasangan yang memiliki anak sampai 100?" tanya Adel.


"Ada, kalau misalnya Allah sudah mengizinkan pasti kita bisa memilikinya," jawab Stevan.


Stevan mengusap kepala Adel dan Adel masih memberikan beberapa pertanyaan kepadanya, Adel masih tidak yakin dengan cintanya Stevan.


"Kamu akan selalu setia sama aku kan?" tanya Adel.


"Tentu saja, aku akan setia sama kamu hingga akhir hayat," jawab Stevan.


"Iya, sayang."


Adel terdiam, ia masih ragu dengan ucapannya Stevan. Selama ini, ia selalu termakan janji palsu dari seorang pria dan kali ini, ia tidak mau patah hati lagi.


"Sayang, kamu kenapa? apakah, kamu tidak percaya?" tanya Stevan.


"Percaya, tapi hanya sedikit."


"Hmm...." Stevan berusaha mencari sebuah ide, supaya ia dapat membuktikan cintanya kepada Adel. Stevan memegang kepalanya dan memejamkan mata, ia berpikir keras agar dapat mendapatkan ide.


"Aku harus melakukan apa, supaya kamu percaya?" tanya Stevan.


"Mudah, kamu hanya perlu membuktikannya saja," jawab Adel.

__ADS_1


"Membuktikannya? dengan cara apa?" tanya Stevan.


"Pikirkan sendiri," sahut Adel.


Adel bangkit dari posisi tidurnya, kemudian Adel duduk di samping Stevan dan menatap ke arah langit. Adel enggan menatap wajah Stevan, sebelum Stevan menemukan caranya.


Beberapa saat kemudian...


Stevan berhasil menemukan caranya, Stevan menatap Adel dan membisikkan sesuatu di telinganya.


"Jika aku selingkuh, seluruh kekayaan aku akan menjadi milikmu," bisik Stevan membuat Adel terkejut.


"Apa? kamu serius?" tanya Adel.


"Tentu saja, aku tidak mungkin berbohong kepada dirimu."


"Baiklah, aku pegang kata-kata kamu," ujar Adel.


Adel tersenyum kepada Stevan dan ia kembali menyandarkan kepalanya di bahu Stevan. Ia kembali seperti semula setelah mendengar janji Stevan dan ia akan memegang janji Stevan.


"Sayang, aku ingin itu." Stevan menunjuk ke bagian bawah Adel, kemudian Stevan bertingkah seperti seorang bayi di hadapan Adel.


"Sayang, kita main yuk," ajak Stevan.


"Main ke mana?" tanya Adel.


"Ke hatimu dong," jawab Stevan.


"Hmm, baiklah."


Adel sudah mengerti apa yang di inginkan oleh Stevan dan Stevan pun langsung bersiap-siap untuk melakukan hubungan dengan Adel.

__ADS_1


__ADS_2