SUAMIKU BOS MAFIA [Revisi]

SUAMIKU BOS MAFIA [Revisi]
Kenangan Masa Lalu [Selesai Revisi]


__ADS_3

Stevan memasuki rumah Adel secara perlahan, Stevan melihat bagian dalam rumah yang dipenuhi oleh foto-foto keluarga. Ada empat orang dalam foto tersebut dan gadis gendut di kuncir kuda itu pasti Adel.


“Ternyata dulu kamu gendut ya,” ucap Stevan membuat Adel menoleh.


Adel berjalan menghampiri Stevan, kemudian Adel berdiri di samping Stevan yang fokus menatap foto kenangan keluarganya.


“Kamu tinggal di rumah ini sama keluarga kamu ya?” tanya Stevan.


“Iya, tapi itu dulu. Sekarang gue tinggal sendiri di rumah ini,” jawab Adel.


“Memangnya keluarga kamu kemana? Apa mereka berada di luar Kota?” Stevan kembali bertanya dengan penuh penasaran.


“Mereka sudah ada di surga,” jawab Adel.


Seketika Stevan terdiam, Stevan memandang Adel yang menampilkan mimik sendu. Adel merindukan keluarganya tapi dia tidak mungkin bertemu dengan keluarganya karena mereka sudah berbeda alam.


“Maaf, aku enggak tahu kalau orangtua kamu sudah meninggal dunia.” Stevan minta maaf karena membuat Adel rindu keluarganya.


“Tidak masalah, lu juga tidak tahu kan.” Adel memberikan senyuman kepada Stevan, kemudian Adel melangkah menuju dapur dan membuatkan minuman untuk Stevan.


Stevan masih memandang foto-foto tersebut, Stevan bisa melihat kebahagiaan yang terpancar dari keluarga Adel. Keluarga Adel adalah keluarga harmonis impian Stevan tetapi Stevan tidak pernah mendapatkan impiannya karena Ayahnya memiliki dua istri dan Ayahnya jauh lebih sering menghabiskan waktu bersama anak dari istri keduanya.


Adel berjalan menghampiri Stevan sembari membawa nampan yang berisi dua gelas es teh dan camilan ringan untuk Stevan.

__ADS_1


“Silakan diminum,” ucap Adel seraya memberikan gelas berisi teh pada Stevan.


“Terima kasih.” Stevan menerima gelas itu dan menyeruput tehnya. Stevan meletakkan gelas tersebut dan duduk di lantai tapi Stevan terus menatap foto keluarga Adel hingga membuat Adel kebingungan.


“Lu kenapa? Kok sampai segitunya menatap foto keluarga gue?” tanya Adel.


“Enak ya jadi kamu bisa mendapatkan kasih sayang utuh dari orangtua. Berbeda denganku yang harus melihat Bundaku menangis setiap hari karena keegoisan Ayahku,” ucap Stevan.


“Memangnya Ayah lu kenapa? Sampai membuat Bunda lu menangis setiap hari,” tanya Adel penasaran.


“Dia menikah lagi tanpa sepengetahuan Bundaku dan parahnya anak dari istri keduanya sebaya denganku,” jawab Stevan.


Stevan tersenyum, tetapi senyuman Stevan justru membuat Adel iba. Adel melihat kesedihan di wajah Stevan dan sepertinya luka itu masih membekas di hati Stevan.


“Enggak juga, Ayah sempat mau menceraikan Bunda tapi istri keduanya keburu meninggal karena kecelakaan.” Stevan menunduk lesu, tetapi tiba-tiba Adel terkekeh.


Stevan menatap Adel dengan raut bingung. “Kamu kenapa? Tiba-tiba tertawa sendiri,” tanya Stevan kebingungan.


“Lucu saja, Ayah lu mau ceraikan Bunda lu demi pelakor. Tapi pelakor nya meninggal duluan,” jawab Adel masih terkekeh.


“Itu azab merebut suami orang. Kamu jangan sampai merebut pasangan orang lain demi kebahagiaan kamu sendiri,” ujar Stevan.


“Ngapain juga gue jadi pelakor? Kayak enggak laku saja,” sahut Adel.

__ADS_1


“Iya, lebih baik lu sama gue daripada merebut pasangan orang lain,” ucap Stevan.


Tiba-tiba Adel berhenti tertawa setelah mendengar ucapan Stevan, Adel kembali terdiam dan meminum tehnya.


“Lu yakin enggak mau jadi pacar gue? Gue tuh idaman para wanita loh,” tutur Stevan dengan penuh percaya diri.


“Ah enggak percaya gue, maksudnya kingkong wanita kali.” Adel meledek Stevan membuat Stevan merasa kesal.


“Serius, banyak wanita yang mengejar-ngejar gue karena gue ganteng. Tapi kayaknya mata lu katarak sih, masa pria seganteng gue diabaikan mulu.” Stevan menggerutu dan melontarkan tatapan sinis kepada Adel, sedangkan Adel hanya tersenyum saja.


“Gue bukan mengabaikan lu tapi hati gue sudah milik orang lain,” ungkap Adel.


“Siapa?” tanya Stevan.


Adel menarik telinga Stevan dan membisikkan sesuatu di telinga Stevan. “Namanya adalah rahasia.”


Setelah membisikkan hal tersebut, Adel kembali terkekeh membuat Stevan semakin jengkel dengannya. Stevan berdiri tegak dan melangkah meninggalkan Adel.


“Mau kemana?” tanya Adel.


“Mau pulang,” jawab Stevan.


Stevan berjalan menuju pintu, sementara Adel berhenti tertawa dan mengikuti Stevan dari belakang. Namun, saat hendak keluar. Ada sebuah motor berhenti di depan rumah Adel dan motor itu dikendarai oleh seorang pria yang sangat Adel kenal.

__ADS_1


__ADS_2