SUAMIKU BOS MAFIA [Revisi]

SUAMIKU BOS MAFIA [Revisi]
Menerima Tawaran Stevan [Selesai Revisi]


__ADS_3

Stevan menatap Adel yang mematung setelah mendengar ucapannya. Stevan merasa kasihan kepada Adel, tapi Stevan tidak mungkin membayarkan utang sebesar itu secara cuma-cuma. Stevan juga manusia biasa yang mengharapkan imbalan dan Stevan ingin Adel menjadi istrinya.


“Cepat putuskan! Jika kamu menolak tawaranku, silakan selesaikan sendiri permasalahan kamu dengan dia.” Stevan berkata sembari menunjuk rentenir.


Adel menatap Stevan sejenak, lalu menutup kedua mata. Adel menarik napas dan menghembuskan secara perlahan. Adel mencoba menenangkan pikirannya sebelum memutuskan pilihan tersulit dalam hidupnya.


Setelah merasa tenang, Adel kembali membuka mata dan menatap Stevan. “Aku bersedia menjadi istrimu,” ucap Adel dengan penuh mantap.


Spontan Stevan tersenyum dan menatap tajam rentenir tersebut. “Saya akan melunasi semua utang milik Adel,” ucap Stevan.


Stevan mengeluarkan sebuah cek bank dan menuliskan jumlah nominal utang Adel dalam cek tersebut. “Siapa nama Anda?” tanya Stevan seraya menunjuk rentenir itu.


“Bagas Bayu Saputra,” jawabnya.


Stevan menulis nama rentenir itu dalam cek itu dan memberikan secarik cek kepada rentenir tersebut.


“Ambil cek ini dan jangan ganggu kehidupan Adel lagi!” Stevan berkata dengan rahang yang mengeras dan menatap tajam rentenir tersebut membuat rentenir itu ketakutan.

__ADS_1


Rentenir itu langsung menerima cek dari Stevan dan bergegas pergi meninggalkan rumah Adel, rentenir itu sudah kapok berurusan dengan Stevan dan dia tidak akan pernah mengganggu Stevan atau Adel lagi.


Sementara itu, Adel masih terdiam dan menatap Stevan dengan raut sendu. Adel memikirkan nasibnya di masa depan, Adel takut hidupnya akan semakin menderita setelah menikah dengan Stevan. Apalagi Adel bertemu Stevan di tempat kerjanya dan menurut Adel, pria yang suka ke club malam bukanlah pria yang baik karena Adel memiliki pengalaman buruk saat berpacaran dengan pria yang suka ke club malam.


Stevan berjalan mendekati Adel, lalu Stevan merangkul bahu Adel. “Kamu tidak perlu takut, aku tidak seburuk yang kamu bayangkan,” bisik Stevan.


Spontan Adel mendongak dan terdiam menatap Stevan, sedangkan


Stevan membalas tatapan Adel sembari tersenyum hangat. Stevan tahu Adel ragu dengannya tetapi Stevan akan membuktikan bahwa dia tidak sejahat yang Adel bayangkan.


Tiba-tiba ponsel Stevan berdering. Stevan mengambil ponselnya dan menjawab panggilan telepon dari nomor bertuliskan Bunda.


“Ayah masuk rumah sakit,” jawab Bunda dengan suara serak seperti habis menangis.


“Apa? Posisi Bunda di mana sekarang?” tanya Stevan cemas.


“Bunda di rumah sakit ZV medika,” jawab Bunda.

__ADS_1


Stevan langsung memutuskan panggilan teleponnya dengan raut cemas membuat Adel menjadi kebingungan dengan sikap Stevan.


“Kamu kenapa? Tadi siapa yang menelpon?” tanya Adel penasaran.


“Bundaku, dia bilang Ayah masuk rumah sakit dan aku mau ke sana.” Stevan menjawab seraya berjalan menuju mobilnya, sedangkan Adel langsung menutup pintu rumah dan mengikuti langkah Stevan.


“Aku boleh ikut?” tanya Adel.


Seketika langkah kaki Stevan terhenti, lalu Stevan menoleh ke Adel. “Boleh,” jawab Stevan.


Adel langsung menghampiri Stevan dan berjalan beriringan, lalu mereka masuk ke dalam mobil Stevan dan pergi menuju rumah sakit.


Stevan menancapkan pegas mobil dan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


“Pelan-pelan!” ujar Adel sembari menepuk bahu Stevan.


Stevan mengabaikan ujaran Adel dan semakin mempercepat laju mobilnya supaya cepat sampai di rumah sakit. Sebenarnya Stevan tidak peduli dengan kondisi Ayahnya tetapi Stevan tidak mau bundanya menangis gara-gara laki-laki brengsek itu masuk rumah sakit.

__ADS_1


“Suami tidak berguna! Jika bukan karena Bunda, sudah gue bunuh pria bajingan itu!” Stevan mengumpat dalam hatinya, Stevan benar-benar merasa kesal saat membayangkan bundanya sedang menangis karena ayahnya masuk rumah sakit.


__ADS_2