![SUAMIKU BOS MAFIA [Revisi]](https://asset.asean.biz.id/suamiku-bos-mafia--revisi-.webp)
...Beberapa menit kemudian . . ....
Stevan melepaskan genggaman tangan nya pada Vani, Stevan berusaha untuk menenangkan diri nya kembali karena dia tidak mau membuat masalah kecil di keluarga nya menjadi sebuah perkara yang besar.
Vani merasa kesakitan gegara ulah papa nya, genggaman Stevan begitu kencang bahkan sampai membuat pergelangan tangan nya menjadi tergores.
"Papa, aku mohon.. maafkan diriku" mohon Vani. Vani merasa bersalah dengan papa nya, Vani tidak bermaksud membuat mama nya menjadi marah. Vani hanya tidak ingin membongkar rahasia nya Revan tapi diri nya malah membongkar identitas papa nya karena dia sudah terbawa oleh emosi tadi.
"Papa memaafkan kamu" kata Stevan. Stevan berusaha untuk memaafkan kesalahan Vani, bagaimanapun juga Vani adalah anak kesayangan nya dan dia tidak mau membuat perasaan anak nya menjadi terluka.
Vani memeluk erat tubuh papa nya sambil meneteskan air mata nya, Vani merasa bersalah kepada papa nya. Stevan melepaskan pelukan dari anak tercinta nya, lalu Stevan mengelap air mata yang membasahi pipi Vani.
"Kamu tidak perlu meminta maaf, nak" kata Stevan.
"Kenapa pa?" tanya Vani.
"Tanpa kamu meminta maaf, papa sudah memaafkan kesalahan kamu" kata Stevan.
"Huwaaa, papahhh" tangis terharu Vani.
Vani kembali meneteskan air mata nya sekali lagi, Vani benar-benar merasa beruntung karena dia memiliki seorang papa yang begitu baik dengan diri nya walaupun sifat nya dia terkadang sedikit menjengkelkan.
"Pa, papa kejar mama sana" suruh Vani.
"Hm, baiklah" sahut Stevan.
Stevan berlari menuju kamar nya, Stevan berniat ingin meminta maaf kepada istri kesayangan nya itu dan Stevan ingin sekali memeluk tubuh Adel. Sesampainya di depan kamar, Stevan mengintip keadaan Adel dari luar terlebih dahulu dan setelah itu barulah Stevan masuk ke dalam kamar nya.
Stevan masuk ke dalam kamar nya secara perlahan-lahan supaya Adel tidak berusaha untuk kabur ataupun memberontak.
Saat berada di dekat Adel, Stevan langsung memeluk erat tubuh Adel sambil mencium pipi nya Adel yang lembut dan wangi seperti pipi seorang bayi.
"Sayang, aku sangat mencintai dirimu" kata Stevan. Stevan berusaha untuk membuat Adel mempercayai dirinya, Stevan tidak ingin berpisah dengan Adel dan dia ingin selalu bersama dengan Adel hingga maut memisahkan kedua nya.
Adel tidak membalas perkataan Stevan, Adel masih merasa sedikit kesal dengan Stevan karena Stevan sudah membohongi dirinya selama berpuluh-puluh tahun. Adel kecewa dengan Stevan, Adel berniat ingin meninggalkan Stevan namun diri nya tidak sanggup karena Stevan adalah cinta sejati nya dan tidak ada satupun orang yang mampu menggantikan posisi Stevan di hati nya.
Stevan mencium bibir mungil Adel sambil memeluk erat tubuh nya dan memegang tangan nya, Stevan sengaja ingin membuat Adel menjadi salah tingkah dengan diri nya dan setelah beberapa menit akhir nya Stevan berhasil membuat Adel menjadi salah tingkah.
"Sayang, kok jantung kamu berdebar-debar sih?" tanya Stevan.
"Aku kan masih hidup jadi wajar berdebar-debar" balas Adel.
__ADS_1
"Iyakah? bukan nya jantung kamu berdebar-debar karena salah tingkah dengan aku?" tanya Stevan.
"Ya mana aku tau" balas Adel.
Adel melepaskan pelukan yang Stevan berikan kepada diri nya, kemudian Adel menidurkan tubuh nya di atas kasur. Adel ingin beristirahat namun Stevan malah meraba-raba tubuh nya, Stevan memang biasa melakukan hal itu dan terkadang Stevan melakukan tanpa meminta izin dari Adel terlebih dahulu.
"Sayang..." panggil Stevan.
"Kenapa?" tanya Adel.
"Aku... pengen.." kata Stevan.
"Pengen apa? makan?" tanya Adel.
"Iya.." balas Stevan.
Stevan kembali meraba-raba tubuh Adel, Stevan berharap jika Adel akan meraba-raba diri nya juga seperti yang sering mereka lakukan atau lebih tepat nya hampir setiap hari.
"Geli, hentikan!" perintah Adel.
"Kenapa? bukankah ini menyenangkan?" tanya Stevan.
"Iya tapi aku masih ngambek sama kamu" balas Adel.
"Sayang, aku pengen!" rengek Stevan.
"Sana minta jatah saja sama wanita-wanita yang sering berada di tempat hiburan malam" suruh Adel.
"Gak mau! aku mau nya sama kamu" kata Stevan.
"Aku tidak mau!" kata Adel.
"Baiklah, aku akan memaksa" kata Stevan.
Stevan melepaskan pakaian nya dan langsung memulai aksi nya kepada Adel, Adel hanya bisa menghela nafas nya dan pasrah. Adel sudah terbiasa menghadapi sikap agresif Stevan dan Adel juga tidak ingin melawan Stevan karena Stevan adalah suami nya.
****
...Di sisi lain......
Dion, Revan dan Gilang sedang duduk di atas sofa sambil meminum teh yang di buatkan oleh Adel tadi. Trio kadal itu sedang asyik mengobrol dan bercanda-canda satu sama lain,
__ADS_1
mereka tengah membicarakan tentang tempat liburan yang sedang populer di kalangan para pemuda maupun pemudi.
"Yon, kita jalan-jalan yuk" ajak Gilang.
"Kemana?" tanya Dion.
"Tidak tau, coba kita tanya sama kak Revan" balas Gilang.
"Lah, kamu yang ngajakin tapi kamu gak tau mau kemana" kata Revan.
Revan menyeruput teh nya sambil memakan sebuah biskuit yang sering di makan oleh Vani, Revan masih terlihat muda walaupun usia nya sudah menginjak 35 tahun. Revan dan Vani terpaut usia yang cukup jauh yakni 11 tahun atau lebih tepat nya hampir 12 tahun.
"Kak Revan, Dion mau tanya sama kak Revan" kata Dion.
"Silakan" ucap Revan.
"Kak Revan kenapa belum menikah juga sampai sekarang? padahal usia kak Revan sudah 35 tahun dan sebentar lagi kak Revan akan menginjak usia 36 tahun" tanya Dion.
"Hm, tujuan dari hidup itu bukan hanya menikah dengan orang yang kita cintai. Tujuan utama
di hidup aku bukanlah menikah melainkan meraih sebuah kesuksesan" balas Revan.
Revan menceritakan masa kecil nya kepada Dion dan Gilang, Revan menceritakan berbagai macam pengalaman nya selama hidup di dunia ini dan Revan juga menceritakan tentang masa-masa sulit nya kepada Dion dan Gilang.
"Kak Revan, kenapa kakak begitu rajin ke kantor? aku saja cuma 4 kali dalam seminggu" tanya Dion.
"Aku melakukan itu karena aku ingin menjaga usaha milik papaku dulu, papa aku menitipkan nya kepada diriku dan itu artinya aku harus menjaga nya dengan baik-baik" balas Revan.
"Kak, perjuangan kakak apa saja?" tanya Dion.
"Banyak" balas Revan.
Revan tidak ingin menceritakan semua perjuangan nya kepada Dion dan Gilang, Revan tidak ingin membuat semangat nya Dion dan Gilang sebagai seorang pemuda yang rajin menjadi luntur.
"Kak Revan, kalau misalnya nanti kakak nikah dengan Vani berarti kakak jadi adik ipar nya Dion donk" kata Gilang.
"Iya, memangnya kenapa?" tanya Revan.
"Nanti Dion manggil kakak dengan sebutan apa? kak Revan kan adik ipar nya tapi usia nya Dion berada jauh di bawah kakak" kata Gilang.
"Dion tetap memanggil saya dengan sebutan kakak atau mas karena usia saya jauh lebih tua dari diri nya" sahut Revan.
__ADS_1
Dion menatap Gilang dan Gilang juga menatap Dion, Dion dan Gilang merasa sedikit aneh dengan Revan karena bahasa yang di gunakan Revan terlalu formal. Revan tidak pernah berbicara kasar seperti Gilang ataupun Dion, Revan jauh lebih mengerti tentang kesopanan saat berbicara dengan orang lain sedangkan Gilang dan Dion sudah terbiasa memakai bahasa kasar setiap hari nya namun saat mereka berada di dekat Revan, pasti kedua nya akan ikut terbawa dalam bahasa yang Revan gunakan.