SUAMIKU BOS MAFIA [Revisi]

SUAMIKU BOS MAFIA [Revisi]
Berkenalan [Selesai Revisi]


__ADS_3

Beberapa menit kemudian.


Dokter keluar dari ruang UGD. Stevan bergegas menghampiri dokter tersebut untuk menanyakan kondisi wanita itu.


“Bagaimana kondisinya, Dok?” tanya Stevan.


“Saya sarankan Mas lebih menjaga pacarnya. Jangan biarkan asam lambungnya tidak naik,” jawab Dokter tersebut.


Dokter tersebut membicarakan tentang kondisi Adel kepada Stevan, sementara Stevan tetap mendengarkannya meskipun dia tidak mengetahui identitas wanita tersebut.


“Intinya pasien tidak boleh kecapean apalagi stress berlebihan karena bisa memengaruhi kesehatannya,” ujar Dokter.


“Baik, Dok.” Stevan mengangguk mengerti, sedangkan Dokter tersebut melangkah meninggalkan Stevan untuk kembali bekerja.


“Lu rajin banget mendengarkan tentang kondisi kesehatan tuh cewek,” ucap Kiki ketika Dokter itu sudah berada cukup jauh.


“Coba kalau posisi lu jadi dia? Lu mau gue tinggal sendirian pas lagi sekarat?” Stevan bertanya seraya menatap sinis Kiki.


“Gue jadi arwah gentayangan terus gue teror lu setiap malam,” jawab Kiki.


“Gue bantai arwah lu,” sahut Stevan tanpa menampilkan ekspresi.


Stevan memegang gagang pintu dan hendak masuk ke ruang UGD untuk melihat kondisi wanita tersebut. Namun, Kiki mencegahnya karena mereka harus segera pergi ke markas.


“Ngapain lu masuk ke dalam? Nanti dia juga sadar. Ayo kita pulang saja,” ajak Kiki seraya menarik tangan Stevan.


Stevan merampas tangannya dan menatap Kiki. “Lu pulang duluan saja. Gue mau nunggu dia sampai sadar,” ucap Stevan.


“Ngapain lu peduli banget sama dia? Kita enggak kenal sama dia, kerajinan banget lu nungguin dia,” sahut Kiki seraya menggerutu.


Kiki mencoba memaksa Stevan tetapi Stevan tetap tidak mau dan pergi meninggalkan Kiki di depan ruang UGD. Stevan masuk ke dalam dan menghampiri wanita tersebut.


Stevan duduk di samping ranjang rumah sakit dan menunggu wanita itu sadar. Stevan menatap lekat wanita tersebut hingga membuat Kiki merasa kebingungan.


Stevan duduk di samping ranjang rumah sakit, lalu Stevan menunggu wanita itu sadar. Stevan memandang wanita itu dengan lekat, Stevan melihat kecantikan yang terpancar dari wanita itu dan dia begitu mungil seperti anak sekolah dasar.


“Dia sangat cantik,” batin Stevan.

__ADS_1


Refleks Stevan tersenyum dan menundukkan kepala, Stevan kagum dengan wanita itu. Tiba-tiba wanita itu membuka terbangun dan matanya langsung terbuka lebar ketika melihat Stevan berada di depan mukanya.


“Kamu! Ngapain kamu di sini?” tanya wanita itu dengan raut terkejut.


“Tenang, saya menolong kamu tadi. Kamu pingsan di pinggir jalan jadi saya bawa ke rumah sakit,” jawab Stevan.


“Pingsan? Oh ya, tadi saya dijambret! Tas beserta ponsel saya hilang,” ucap wanita itu.


Wanita itu langsung terbangun dan hendak beranjak dari kasurnya, ia harus mencari jambret yang mengambil tasnya karena dalam tas tersebut berisi barang-barang berharga beserta uang untuk membayar utang bulanan ke rentenir.


“Kamu mau kemana?” tanya Stevan.


“Mau mencari tasku,” jawabnya.


“Jangan! Nanti kamu terluka,” ujar Stevan.


Stevan berusaha menghalangi wanita itu dan mencengkeram tangannya, tetapi wanita itu memberontak hingga Stevan kewalahan.


“Minggir! Duit gue jauh lebih penting!” seru wanita itu sembari mendorong Stevan.


“Berapa sih duit lu? Sampai mempertaruhkan nyawa sendiri?” tanya Stevan.


Seketika Stevan terdiam, lalu Stevan mendorong wanita itu dan membuatnya duduk kembali di ranjang rumah sakit.


“Kenapa sih lu menghalangi gue buat pergi? Gue enggak kenal lu siapa,” ucap wanita itu seraya memarahi Stevan.


“Gue cuman takut lu terluka,” sahut Stevan.


“Halah, berisik. Duit gue jauh lebih penting dari nyawa gue,” ungkapnya.


“Memang berapa uang yang hilang? Biar gue gantikan,” tanya Stevan.


“Dih, gaya banget kayak punya uang banyak saja mau gantikan duit gue.” Wanita itu memandang rendah Stevan, sementara Stevan langsung mengambil dompetnya dan menunjukkan isi dompetnya yang berisi uang merah dan black card.


“Itu kartu asli?” tanyanya seraya menunjuk black card milik Stevan.


“Iya,” jawab Stevan.

__ADS_1


Seketika wanita itu terpaku dan memandang Stevan sembari tercengang, ia tidak menyangka jika Stevan adalah orang kaya.


“Siapa nama kamu?” tanya Stevan.


“Nama saya adalah Adelia Putri Irvala,” jawab Adel masih tercengang.


“Oh, perkenalkan nama saya adalah Stevan Putra Fratama.” Stevan tersenyum menatap Adel yang masih terkejut.


“Kenapa bersikap seperti itu? Apa ada yang salah?” tanya Stevan.


“Enggak cuman kaget saja. Kok bisa ya ketemu sama laki-laki kayak lu,” jawab Adel.


“Mungkin jodoh,” sahut Stevan.


“Hah? Mana mungkin. Lagi pula lu pasti sudah punya pacar, kan? Sudah jangan dekati gue nanti pacar lu marah.” Adel menjaga jarak dengan Stevan, tetapi Stevan justru duduk di sampingnya dan terus menatap Adel.


“Bisa berhenti tatap gue atau enggak? Kalau lu masih tatap gue, gue colok mata lu pakai pisau!” ancam Adel.


“Colok saja, kalau perlu congkel sekalian.” Stevan meledek Adel membuat Adel semakin jengkel, Adel menggeser posisi duduknya dan menjauh dari Stevan.


“Lu sehat, kan? Semalam lu marah ke gue dan sekarang lu mendekati gue. Ada niatan apa lu sama gue?” tanya Adel.


“Kayaknya gue jatuh cinta sama lu dan gue pengin lu jadi pacar gue,” jawab Stevan.


“Sinting lu! Baru ketemu sudah nembak. Dasar orang gila!” seru Adel.


Adel langsung keluar dari ruang UGD dan pergi meninggalkan Stevan. Adel malas berurusan dengan laki-laki seperti Stevan karena pada akhirnya, laki-laki seperti itu hanya membawa luka dan trauma untuk Adel.


“Tunggu! Kamu mau kemana?” Stevan mengikuti Adel dan berjalan di belakangnya. Namun, Adel pura-pura tidak melihat Stevan dan terus berjalan untuk pulang ke rumah.


Stevan menarik tangan Adel, lalu berdiri di hadapannya. “Biar gue antar,” ucap Stevan.


Stevan langsung membawa Adel menuju mobilnya, sedangkan Adel memberontak dan berusaha melepaskan diri dari Stevan.


“Lu mau bawa gue kemana?” tanya Adel.


“Pulang ke rumah,” jawab Stevan.

__ADS_1


Stevan membukakan pintu mobil untuk Adel dan dengan terpaksa Adel menuruti keinginan Stevan, Adel duduk di samping kursi pengemudi dan memakai sabuk pengaman.


Stevan bergegas masuk ke mobil dan duduk di samping Adel. Stevan memakai sabuk pengaman dan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang.


__ADS_2