![SUAMIKU BOS MAFIA [Revisi]](https://asset.asean.biz.id/suamiku-bos-mafia--revisi-.webp)
Dira yang melihat sikap Gilang hanya bisa terdiam sembari menatapnya dari kejauhan, Dira berpikir bahwa perkataan Gilang hanyalah sebuah candaan karena Gilang adalah tipe orang yang suka melawak.
"Tuh bocah kenapa ya?" tanya batin Dira, Dira merasa ada yang berbeda ketika melihat sikap Gilang yang cuek secara tiba-tiba dan yang membuatnya merasa aneh adalah Gilang sudah tidak pernah mengomeli dirinya lagi.
"Dion.." panggil Dira.
"Ada apa?" tanya Dion.
"Kau tahu, kenapa sikap Gilang tiba-tiba berubah?" tanya Dira.
"Kau pasti bisa berpikir sendiri.." balas Dion.
Dion langsung pergi meninggalkan Dira sendiri sebab dirinya merasa sangat kesal dengan Dira, Dira tidak pernah mengerti tentang perasaannya Gilang kepada dirinya.
Dira yang mendengar perkataan Dion terdiam sejenak, kemudian Dira berlari menuju lantai satu untuk menemui Gilang. Sesampainya dilantai satu, Dira langsung menghampiri Gilang dan duduk disampingnya namun Gilang malah tidak melirik dirinya sama sekali.
"Lang, kamu kenapa?" tanya Dira.
"Tidak tahu.." balas bohong Gilang.
"Loh, kenapa memangnya?" tanya Dira.
"Tidak kenapa-kenapa.." balas Gilang.
"Kau ini kenapa sih?" tanya Dira.
"Dasar cewek, gak pernah peka.." balas Gilang.
"Apa maksudmu?" tanya Dira.
"Pikir saja sendiri.." balas Gilang
"Astaghfirullah, kamu itu benar-benar minta dimutilasi.." ucap geram Dira.
Dira berlagak seperti seorang emak-emak yang tengah kesal kepada suaminya sedangkan Gilang berlagak seperti seorang lelaki jutek yang masa bodo dengan ancaman yang berada disampingnya. Dira berusaha untuk membuat Gilang melirik dirinya supaya dia bisa bertanya kepada Gilang mengenai masalahnya.
"Lang, kamu itu kenapa sih?" tanya Dira.
"Sudah aku bilang, aku menyukai kamu tapi kamu malah menganggap jika diriku sedang bercanda.." balas Gilang.
"Begitu ya, ya sudah aku minta maaf karena sudah tidak peka dengan dirimu" ucap minta maaf Dira kepada Gilang. Dira meminta maaf kepada Gilang sedangkan Gilang hanya terdiam sambil melihat lurus ke depan, Gilang terdiam untuk memikirkan apakah Dira pantas untuk dimaafkan atau tidak.
"Lang, aku mohon.." ucap mohon Dira.
__ADS_1
"Iya, aku maafkan tapi kamu harus menerima cintaku.." ucap Gilang.
"Iya, aku akan menerima cinta kamu.." ucap Dira kepada Gilang.
"Benarkah? kamu serius kan?" tanya Gilang.
"Iya sayang, aku serius!" sahut Dira.
Dira tersenyum manis kepada Gilang sedangkan Gilang langsung memeluknya dengan erat, mereka berpelukan dengan sangat erat dan keduanya terlihat sangat bahagia.
Ketika Gilang dan Dira sedang berpelukan, Stevan datang secara tiba-tiba dan membuat pasangan itu menjadi terkejut.
"Enak sekali ya, siang-siang begini berpelukan dengan kesayangannya" ucap Stevan pada Gilang dan Dira. Gilang yang mendengarnya langsung melepas pelukannya karena Stevan berada didekat mereka.
"Om Stevan mau ngapain kesini?" tanya Gilang.
"Loh, inikan rumah om jadi om wajar kesini.." balas Stevan.
"Ehh, iya om.." sahut Gilang.
Gilang menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sedangkan Stevan menatapnya dengan sinis, Stevan tidak pernah menyangka jika anak kesayangannya yakni Dion bisa dikalahkan oleh Gilang. Stevan mengetahui jika Dion menyukai Dira namun Dira malah menyukai Gilang, Stevan tidak pernah menyangka jika Dion akan menjadi seorang jomblo ngenes.
Disaat Stevan sedangkan menatap sinis Gilang, Adel menghampiri mereka untuk mengajak mereka makan siang bareng. Kedatangan Adel berhasil memecahkan suasana sunyi ditempat tersebut.
"Baik sayang.." sahut Stevan.
"Gilang dan Dira juga makan ya, supaya kalian tidak sakit.." ucap Adel
"Baik tante.." sahut Gilang.
Kedua pasangan itupun langsung pergi dari dapur, mereka berjalan menuju meja makan dikediaman keluarga Fratama. Sesampainya didepan ruang makan, mereka langsung duduk diatas kursi masing-masing dan mengambil makanan mereka masing-masing.
Dimeja makanan itu juga ada Revan dan Vani jadi mereka makan secara bersama-sama namun Dion masih berada didalam kamarnya dan dia tidak mau keluar dari dalam kamarnya meskipun Adel sudah menyuruhnya untuk makan siang.
"Dion mana?" tanya Gilang.
"Masih berada didalam kamar.." balas Adel.
"Begitu ya, biar Gilang samperin ke kamarnya" ucap Gilang.
"Tidak usah! biar dia berisitirahat terlebih dahulu.." balas Stevan.
"Baiklah.." sahut mengerti Gilang.
__ADS_1
Gilang kembali duduk di kursinya lalu Gilang memakan makanannya dengan sangat lahap dan ketika ketiga pasangan itu sedang asyik makan bersama, Dion datang ketempat tersebut dan dia melihat ketiga pasangan itu tengah asyik bermesra-mesraan dengan pasangan mereka masing-masing.
"Seandainya saja aku punya kekasih, pasti aku bisa bergabung dengan mereka.." batin Dion.
Dion melihat kearah ketiga pasangan itu, kemudian Dion pergi dari tempat itu karena dirinya tidak mau menjadi seorang nyamuk.
Disaat Dion pergi dari rumahnya..
Stevan tak sengaja melihat Dion, Stevan melihat Dion dengan raut wajah sedihnya membuat Stevan menjadi merasa kasihan kepada anak pertamanya itu karena akhir-akhir ini Dion selalu terlihat murung.
"Om, om kenapa?" tanya Revan.
"Om merasa sangat kasihan dengan Dion karena dia selalu terlihat murung dan seperti orang yang sedang kesepian.." balas Stevan.
Stevan menceritakan tentang sikapnya Dion akhir-akhir ini, Stevan merasa bahwa Dion seperti sedang ada masalah pribadi yang dia sembunyikan dari keluarganya. Stevan pernah berusaha untuk menghibur Dion tapi tidak berhasil dan Dion tetap terlihat murung, Dion seperti orang asing akhir-akhir ini.
"Kasihan sekali, kak Dion.." kata Vani. Vani ikut merasa kasihan kepada kakaknya, Vani bisa merasakan apa yang Dion rasakan karena dulu dia juga pernah diejek jomblo ngenes dengan teman-teman perempuannya dikelas dan itulah sebabnya Vani tidak memiliki satupun teman perempuan disekolah.
"Iya, aku ingin sekali menjodohkan Dion dengan seseorang tapi sayangnya aku tidak memiliki satupun teman perempuan.." kata Gilang sambil memakan keripik.
"Sama, kak Revan.. apakah kamu memiliki teman perempuan yang bisa dijodohkan dengan kak Dion?" tanya Vani.
"Tidak ada, satu-satunya teman aku dinegara ini adalah Faris.." balas Revan.
"Apakah dia tidak memiliki saudara yang berjenis kelamin perempuan?" tanya Vani.
"Sebentar ya, aku ingat-ingat terlebih dahulu.." balas Revan.
Revan berusaha untuk mengingat-ingat sesuatu tentang Faris, Revan berusaha untuk mengingatnya tapi sayang dia tidak dapat mengingatnya karena dia sudah tidak bertemu dengan Faris selama 23 tahun.
"Aku tidak ingat, tapi nanti aku akan mencoba menghubungi Faris.." kata Revan.
"Terima kasih, calon menantuku.." ucap terima kasih Stevan kepada Revan.
"Sama-sama om Stevan.." sahut Revan.
Revan tersenyum kepada Stevan sebagai tanda hormatnya kepada Stevan, sedangkan Stevan malah tersenyum sinis kepada Revan karena dirinya sedang tidak mood.
****
Halo, maaf banget ya kalau aku jarang sekali update disini.
Aku lagi benar-benar fokus dengan karyaku yang berjudul "Suamiku Ayah Tiriku" karena pembaca disana sudah cukup banyak, nanti setelah aku menyelesaikan karyaku yang disana baru aku menyelesaikan ini.
__ADS_1