Suamiku Sang Casanova

Suamiku Sang Casanova
bab 121


__ADS_3

Herlan berhasil membawa Tania pergi bersamanya tentunya dia sudah memiliki rencana sendiri untuk membantu Arga dia berharap bahwa kali ini rencananya tidak akan gagal dan dia dapat menyelamatkan rumah tangga sahabatnya.


"kamu mau bawa aku kemana" tanya memberanikan dirinya bertanya kepada Herlan karena dirinya sudah merasa takut apalagi tatapan yang Herlan berikan membuatnya semakin takut.


" berisik Lo diam aja" jawab Herlan dan segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Herlan yang melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi membuat Tania semakin ketakutan dengan cepat Tania berpegangan tentunya dia semakin takut , Herlan sesekali melirik ke arah Tania yang berada di kursi samping sambil tersenyum sinis.


"Herlan aku mohon, aku belum mau mati" ucap Tania dengan suara bergetar dia memohon kepada Herlan.


"apa? Lo bilang takut mati" jawab sinis Herlan yang menaikan lagi kecepatan mobilnya.


Tania berpegangan erat sambil menutup matanya tidak terasa air matanya menetes tentunya dia takut jika mobil yang di kendarai Herlan membuat mereka berdua celaka tetapi Herlan memasang wajah santai karena dalam hal membawa mobil memang dirinya paling hebat diantara yang sahabatnya.


"aku mohon hentikan" Tania kembali memohon kepada Herlan.


"teruslah memohon, seperti Arga yang memohon kepada Lo" sahut Herlan yang begitu menikmati ketakutan yang dirasakan oleh Tania karena baginya itu tidak sebanding dengan penderitaan yang Tania dan Zaky berikan kepada Arga.


"kamu mau apa? aku akan lakuin apapun asal kamu menghentikan mobilnya" ucap Tania sambil menangis.


mendengar itu Herlan langsung mengerem mendadak sehingga membuat tubuh Tania sedikit terdorong ke depan seketika membuat Tania membuka matanya saat sadar mobil yang dikendarai Herlan berhenti.


"kalau tau dengan cara seperti, gue gak harus membuat Arga memohon kepada wanita seperti Lo" sahut Herlan sambil melihat ke arah Tania yang sedang ketakutan.


Tania hanya membisu saat mendengar perkataan yang Herlan lontarkan karena dirinya tidak menyangka bahwa Zaky telah membawanya kedalam masalah yang hampir saja membuatnya kehilangan nyawanya.


"apa yang kamu mau? tanya Tania dirinya memberanikan diri bertanya disaat merasa sedikit tenang.


"gue mau Lo, membongkar semua kebusukan Zaky di hadapan semua orang setelah itu gue akan bebasin Lo" jawab Herlan.


"aku harus ngelakuin apa?" tanya Tania dirinya akan melakukan apapun asalkan terbebas dari semua masalah ini dan dirinya bisa hidup tenang.

__ADS_1


"Lo akan tau nanti, sekarang Lo hanya tinggal diam dan ikut saja" ucap Herlan dan kembali melajukan mobilnya.


Tania yang masih takut hanya terdiam yang terpenting baginya sekarang hanya mengikuti apa yang di mau pria di sampingnya karena itu akan lebih baik baginya saat ini.


****


Edwan yang kembali dari apartemen Arga segera melangkah masuk kedalam rumah dengan penuh kemarahan bahkan pelayan yang menyapanya tidak dia pedulikan sama sekali, Byan yang melihat papanya telah kembali segera berjalan menghampiri papanya.


" ada apa pa?" tanya Byan yang melihat raut wajah papanya yang begitu marah.


"kamu ikut papa" tanpa menjawab pertanyaan byan dengan cepat Edwan mengajak Byan menuju ruang kerjanya.


tanpa menunggu lama Byan segera mengikuti langkah kaki papanya menuju ruang kerja sambil bertanya- tanya ada hal penting apakah sehingga papanya tidak menjawab pertanyaannya.


"ada apa pa?" tanya Byan sambil mendudukan dirinya di hadapan Edwan.


"dia berani merobek surat perceraian di hadapan wajah papa" jawab Edwan penuh dengan kemarahan dari sorot matanya.


"iya anak itu berani merobek kertas itu tepat di hadapan papa" jelas Edwan kembali sambil mengingat apa yang di perbuat Arga.


"berani sekali dia" ucap Byan yang tidak terima papanya di perlakukan seperti itu. " biar aku kasih pelajaran dia pa" sambung Byan sambil beranjak.


"jangan" cegah Edwan saat melihat Byan beranjak.


"tapi pa, dia sudah kurang ajar sama papa" jawab Byan tentunya dia sangat marah dengan apa yang dilakukan Arga kepada papanya tentu saja dia tidak akan membiarkannya.


"sudah, tidak perlu kamu mengurusi hal itu sekarang kamu berikan berkas ini kepada adik kamu" ucap Edwan sambil menyodorkan berkas di atas meja.


Byan segera mendudukan dirinya saat mendengar ucapan papanya sambil menatap bingung ke arah berkas yang berada dia atas meja sedangkan Edwan yang sudah memperkirakan semuanya tentu saja sudah menyiapkan semuanya ini.


"ini apa pa?" Tanya Byan sambil meraih berkas itu.

__ADS_1


"kamu hanya perlu minta tanda tangan adikmu, setelah itu makan mereka berdua resmi berpisah" ucap Edwan.


Byan hanya menatap tidak mengerti dengan ucapan papanya tetapi dia juga bingung mengapa papanya bersikap santai padahal jelas- jelas adik iparnya sudah bersikap kurang ajar sedangkan Edwan hanya menyandarkan tubuhnya di kursi ruang kerjanya.


Selly yang berada di taman belakang sesekali tersenyum memandangi bunga di hadapannya yang sedang bermekaran, Byan yang baru saja sampai di situ sejenak berdiri melihat kini dia senang karena melihat adiknya sudah bisa tersenyum kembali.


"kamu lagi apa?" tanya Byan sambil berjalan ke arah Selly yang duduk di bangku taman.


"aku lagi liatin pemandangan di sini sangat indah ka" sahut Selly sambil melirik ke arah Byan.


"kakak senang kamu sekarang tidak murung lagi" jawab Byan sambil mendudukan dirinya di samping Selly.


"kalau aku terpuruk terus bagaimana dengan anak aku ka, pasti dia juga sedih" sahut Selly sambil mengelus perutnya.


"ternyata kamu sekarang sudah dewasa" ucap Byan sambil mengelus puncak kepala Selly dengan penuh kasih sayang.


"dengan semua yang terjadi membuat aku lebih dewasa ka, apalagi sebentar lagi aku akan menjadi seorang ibu" sahut Selly.


Byan hanya membalas dengan senyuman tentunya dia merasa bersyukur karena sekarang Selly bisa berpikir lebih dewasa di bandingkan umurnya yang masih muda, Selly kembali menikmati pemandangan di sana sambil mengelus perutnya.


"de, kakak mau memberikan ini" ucap Byan sambil menyerahkan berkas yang di bawanya.


"apa ini ka?" tanya Selly sambil meraih berkas yang di berikan Byan padanya.


"papa meminta kamu menandatanganinya, kamu baca saja dulu baru kamu tanda tangani" ucap Byan karena dirinya pun tidak tau apa isi di dalam berkas itu.


"tidak perlu ka, mana pulpennya" jawab Selly yang tidak ingin tau apa yang ada didalam berkas itu yang penting baginya sekarang hanya fokus menanti kelahiran anaknya.


Byan langsung memberikan pulpen ke pada Selly tidak butuh waktu lama Selly segera menandatanganinya dan segera menyarahkan kembali berkas yang di tangannya kepada Byan.


"apa kamu bahagia dengan keputusan kamu" tanya Byan yang sangat penasaran dengan apa yang di rasakan adiknya saat ini.

__ADS_1


"aku bahagia ka, terlebih sekarang aku bahagia karena sebentar lagi aku akan melahirkan" ucap Selly tidak ada yang lebih membuat Selly bahagia sekarang dari pada itu bahkan dia sudah tidak memikirkan lagi tentang Arga karena dia sudah menganggap Arga hanya bagian masalalunya yang harus dia kubur dalam- dalam.


__ADS_2