Suamiku Sang Casanova

Suamiku Sang Casanova
bab 135


__ADS_3

setelah kepergian Arga dari sana Rani serta Byan merasa sedih apalagi melihat kepergian Arga karena terlihat jelas kesedihan di wajahnya sedangkan Edwan merasa senang melihat Arga dan kedua orang tuanya pergi tanpa mempedulikan istri serta anak lelakinya Edwan segera melangkah masuk kedalam kamar rawat Selly.


Selly yang masih bersedih segera mengusap air matanya saat mendengar pintu di buka dan segera melihat ke arah pintu dimana sosok papanya sudah melangkah masuk sedangkan Edwan bisa melihat jelas bahwa anaknya habis menangis.


"bagaimana keadaan kamu?" tanya Edwan yang berpura- pura seolah tidak terjadi apa- apa.


"aku baik- baik saja pa" sahut Selly dengan suara pelan.


Edwan segera mengelus puncak kepala Selly dan segera melihat ke arah tempat tidur bayi yang tepat berada tidak jauh darinya dirinya begitu bahagia melihat bayi mungil yang sedang tertidur pulas.


"cucu opa" ucap Edwan sambil berjalan ke arah box bayi.


Selly melihat ke arah papanya hanya bisa menatap nanar andai saja Arga berada di sampingnya dan bisa mendengar papanya berkata seperti itu pasti Arga juga akan bahagia tetapi semua hanya harapan Selly saja dan tidak mungkin jadi kenyataan.


Edwan segera menggendong bayi mungil yang tidak lain cucu pertamanya hatinya begitu bahagia saat menggendong cucunya bahkan dia bisa melupakan siapa ayah dari cucunya dan tidak begitu lama Rani dan Byan melangkah masuk kedalam melihat pemandangan itu merasa miris harusnya Arga juga ada di sana, Byan yang mengerti perasaan mamanya segera merangkul mamanya dan mengagukan kepalanya.


seketika ruangan jadi di selimuti rasa bahagia karena mereka kedatangan anggota keluarga baru bahkan Byan tidak henti mengagumi ketampanan yang di miliki keponakannya itu sejenak Selly bisa melupakan masalah yang menimpa hidupnya setelah melihat wajah bahagia dari kedua orang tua dan kakaknya.


"apa kamu sudah memberikan nama?" tanya Byan sambil melihat ke arah Selly.


"belum" jawab singkat Selly bahkan dia belum sama sekali memikirkan nama untuk anaknya.


"biar papa yang berikan dia nama" jawab Edwan yang masih setia menggendong cucunya.


"kenapa papa? harusnya papanya sendiri yang memberi nama" celetuk Rani yang tanpa sadar mengatakannya.

__ADS_1


semua terdiam saat mendengar perkataan Rani sedangkan Rani yang menyadari kesalahannya segera berpura- pura mengajak cucunya berbicara berbeda dengan Edwan yang langsung kesal akibat mendengar perkataan istrinya.


"Pasya Elfahrezi Pratama" ucap Edwan yang langsung memberikan nama untuk cucu pertamanya.


sontak membuat ketiganya kaget karena seharusnya yang memberikan nama itu Arga sebagai ayahnya sedangkan Edwan yang mendapat tatapan dari ketiganya hanya menautkan alisnya.


"kenapa? apa kalian tidak Suka dengan nama yang papa berikan?" tanya Edwan sambil menatap ketiganya bergantian.


"pa, harusnya Arga yang memberikannya nama" Byan berusaha mengingatkan papanya bahwa ada yang lebih berhak memberikan keponakannya nama.


"iya mama setuju apa yang dikatakan Byan" timpal Rani yang menyetujui pendapat Byan walau bagaimana pun Arga lah yang lebih berhak.


"apa kalian akan menentang papa?" tanya Edwan dengan suara pelan tapi penuh dengan penekanan di setiap katanya.


"bukan begitu pa" sahut Rani yang merasa suaminya sudah salah paham dengan maksud perkataannya.


"aku suka nama itu pa" jawab Selly. dia akhirnya menyetujui nama yang di berikan papanya karena baginya sama saja jika Arga atau papanya yang memberikan nama kepada anaknya.


"kalian dengar Selly saja setuju" ucap Edwan yang bangga karena Selly menyetujui nama yang dia berikan.


sedangkan Byan dan juga Rani menatap tidak percaya mendengar Selly menyetujui nama yang diberikan oleh Edwan kepada anak pertamanya sedangkan Selly tidak punya pilihan lain karena dia hanya ingin semuanya baik- baik saja dan tidak ada pertengkaran lagi yang harus dia liat.


***


Arga dan kedua orang tuanya sudah sampai rumah mereka begitu sangat sedih apalagi mengingat kejadian di rumah sakit bahkan mereka belum sempat melihat wajah cucu mereka tentunya itu yang membuat Rio serta Lisa teramat sedih.

__ADS_1


"pa, apa kita tidak bisa mencoba bicara baik- baik dengan keluarga mas Edwan" ucap Lisa yang masih berharap jika mereka dapat membicarakan masalah Kedua anak mereka secara kekeluargaan.


"apa mama lupa bagaimana kemarahan mas Edwan tadi papa tidak yakin jika dia mau mendengarkan kita" sahut Rio yang merasa sangat pesimis kalau Edwan mau mendengarkannya apalagi mengenai Masalah anak mereka.


"tapi pa, kita belum mencobanya" sahut Lisa dengan mata berkaca- kaca dirinya sungguh sangat sedih karena tidak melihat wajah cucunya.


"sudah ma, om Edwan tidak mau mendengarkan kita jadi apa yang bisa kita lakukan sekarang?" tanya Arga yang sudah tidak punya harapan lagi dengan rumah tangganya dan Selly.


Lisa segera menoleh ke arah arga yang duduk sambil mendudukan kepalanya dia tidak menyangka anaknya yang dia pikir akan berjuang demi istri dan anaknya malahan berbicara seperti itu sedangkan Rio mengerti mengapa Arga bisa berkata seperti itu karena dia sangat paham apa yang di rasakan anaknya saat ini.


"kami itu ngomong apa? apa kamu akan membiarkan orang lain menggantikan kamu sebagai ayah dari anak kamu" tanya Lisa sambil menatap tidak percaya ke arah Arga.


"terus aku harus gimana ma?" ucap Arga yang bingung.


"kamu harus berjuang dan yakinkan keluarga istri kamu bahwa apa yang terjadi semuanya itu adalah rencana licik Zaky" tegas Lisa dengan penuh harapan bahwa anaknya akan memperjuangkan anak serta istrinya.


"tapi tidak semuda itu ma, papa kenal siapa Edwan tidak akan ada yang bisa mengubah pendiriannya" sahut Rio yang sudah lama mengenal sahabatnya itu tentunya dia tahu jika apa yang dikatakan dan diputuskan Edwan tidak akan ada yang bisa mengubahnya.


"kita belum mencobanya pa, mama yakin mas Edwan akan mengerti apalagi jika dia tahu kebenarannya" ucap Lisa yang berharap jika suami dan anaknya mau menyakinkan Edwan.


Arga hanya bisa diam karena dirinya juga bingung apa yang harus dia lakukan kedepannya apalagi setelah melihat bagaimana penolakan yang papa mertuanya berikan kepadanya tentunya akan sulit bagi dia menyakinkan nya bahwa apa yang terjadi semua bukan kesalahannya.


mereka sibuk dengan pemikiran mereka masing- masing sedangkan Lisa yang sudah tidak bisa menunggu lagi apalagi melihat suami dan anaknya hanya bisa terdiam saja tanpa berbuat apa- apa tanpa berkata apapun lagi dia segera beranjak dari duduknya membuat Arga mengangkat kepalanya dan segera melihat ke arah mamanya begitu juga dengan Rio yang melihat ke arah istrinya yang sudah berdiri.


"baik kalau kalian hanya akan berdiam diri biar mama yang akan bicara kepada mereka" ujar Lisa sambil melangkah dan meninggalkan keduanya.

__ADS_1


Arga Serta Rio segera beranjak mendengar ucapan lisa tentunya mereka harus bisa mencegah agar Lisa tidak kembali kesana karena itu akan membuat keadaan semakin runyam saja.


__ADS_2