Suamiku Sang Casanova

Suamiku Sang Casanova
bab 138


__ADS_3

Arga yang dilanda kebingungan karena dirinya begitu rindu dengan anak serta istrinya hingga membuat dirinya tertekan apalagi bagaimana penolakan papa mertuanya membuat dirinya semakin terpuruk untungnya dia memiliki sahabat yang selalu mendukungnya begitu juga dengan kedua orang tuanya mereka tidak henti memberi semangat kepada Arga.


"sampai kapan Lo akan seperti ini" ucap Dino yang melihat Arga hanya mengurung diri tanpa berbuat apa-apa.


"lalu gue harus gimana?" Arga melirik ke arah Dino yang duduk di sopa.


"Lo harusnya bunuh diri aja udah" kesal Herlan yang sudah bosan menasehati Arga namun sahabatnya itu hanya diam tanpa melakukan apapun.


"Lo gila! bukanya kasih semangat malahan buat Arga makin terpuruk aja" sahut Dino yang melirik tajam ke arah Herlan yang dengan mudahnya mengeluarkan perkataan begitu.


"habis gue kesel liat sahabat Lo ini" tunjuk Herlan ke arah Arga.


sedangkan Arga hanya terdiam tanpa mempedulikan kedua sahabatnya yang terus berbicara, herlan yang merasa kesal segera beranjak dari duduknya hingga membuat Arga menoleh ke arah Herlan begitu juga dengan Dino.


"arga berhenti bersikap bodoh seperti ini. jujur gue memang tidak belum mengerti soal pernikahan tetapi gue masih tidak habis pikir dengan cara berpikir Lo, apa ini contoh suami yang baik dan bertanggung jawab untuk istrinya? di saat masalah ini terus berlarut-larut Lo malahan diam tanpa berusaha apapun apa ini bukti rasa sayang Lo sama anak dan istri Lo" Herlan kali ini menaikan nada bicaranya sontak membuat Arga menatap tidak percaya.


Dino dibuat melongo mendengar perkataan Herlan dengan nada bicaranya yang berbeda kali ini tentunya dia tidak percaya Herlan bisa berkata bijak sedangkan Arga yang sedari tadi terdiam segera berdiri saat Herlan berbicara dengan sedikit menaikan nada bicaranya.


"Lo tahu apa tentang semua ini? hah" teriak Arga sambil mendorong tubuh Herlan.


hingga membuat Herlan sedikit memundurkan langkahnya saat Arga mendorongnya dengan penuh ketidak sukanya atas perkataan yang dirinya katakan seketika Herlan tersenyum mengejek.


"Lo tanya gue tau apa? Lo mau tau? gue tahu bahwa Lo lelaki pengecut yang bersembunyi tidak melakukan apapun bahkan di saat Lo harusnya peduli bahkan memperjuangkan pernikahan Lo tapi nyatanya apa, Lo hanya bersembunyi seperti pengecut. gue kecewa sama Lo dan iya gue sebagai sahabat Lo bener-benar menyesal membantu orang seperti Lo yang hanya bisa pasrah dengan keadaan"


"tutup mulut Lo herlan atau-

__ADS_1


"atau apa? Lo mau pukul gue, pukul gue" potong Herlan dengan sedikit berteriak kepada Arga.


Dino yang melihat perdebatan keduanya semakin memanas akhirnya beranjak dan segera mereda emosi diantara keduanya karena sekarang bukan saatnya mereka ribut.


"Lo diem dan Lo harusnya tidak melakukan apapun dengan amarah" ucap Dino yang berdiri di antara keduanya sambil melihat bergantian keduanya.


"harusnya Lo suruh dia tutup mulu" ucap Arga sambil menunjuk ke arah Herlan.


"gue gak akan diam sebelum Lo sadar" teriak Herlan yang merasa terpancing emosi saat Arga menunjuk dirinya.


Dino yang berada diantara keduanya mengacak rambutnya karena merasa kesal karena keduanya masih saja bersikap egois dan tidak berpikir secara dewasa karena setiap masalah bukan di selesaikan pake otot tapi Otak itu lah yang Dino pikirkan.


Herlan masih menatap Arga dengan tatapan kekesalan bagaimana bisa dia memiliki sahabat yang begitu bodoh dan egois, Arga tidak mau kalah membalas tatapan yang Herlan berikan. kepadanya.


Dino yang berada di antara keduanya menatap bergantian Herlan dan juga Arga. " ya udah lebih baik Lo berantem sekarang" titah Dino yang sudah jengah dengan sikap keduanya yang seperti anak kecil saja.


**


"sayang, apa Rasya rewel" tanya Rani yang sudah melangkah masuk ke dalam kamar.


"tidak mah" sahut Selly yang baru saja menidurkan Rasya.


"syukurlah, karena mama khawatir jika rasya rewel" jawab Rani sambil berjalan ke arah bola Bayi yang ada di dekat tempat tidur.


"gak ko ma, mungkin rasya tahu bahwa mamanya akan kesusahan jika dia rewel" ucap Rani dengan pandangan matanya tertuju kepada cucunya yang begitu tampan.

__ADS_1


"ya udah kamu bersih-bersih dulu, biar mami yang jagain Rasya disini" ucap Rani yang melihat Selly masih memakai baju tidur.


"iya mi, aku titip Rasya sebentar" Selly segera beranjak dari tempat tidurnya dan segera melangkah pergi menuju kamar mandi.


Rani yang segera mendudukan dirinya di tepi tempat tidur langsung tersenyum melihat wajah polos cucunya yang tertidur lelap namun hatinya merasa sedih karena seharusnya Rasya mendapatkan kasih sayang kedua orang tuanya tetapi karena keegoisan kakeknya hingga membuatnya terpisah dari papanya.


tidak begitu lama Rasya terbangun dan menangis dengan cepat Rani menggendongnya sambil berusaha menenangkan cucunya yang menangis namun Rasya masih saja menangis, Selly yang baru selesai mandi segera keluar dari kamar mandi setelah mendengar tangis anaknya.


"oh sayang,,, ini mama" ucap Selly yang langsung membawa rasya dalam gendongannya dan tidak begitu lama tangisan Rasya berhenti saat Selly menggendongnya.


"mirip kamu dulu" celetuk Rani saat melihat cucunya langsung terdiam saat Selly menggendongnya.


"maksud mama?" Selly segera menoleh ke arah mamanya yang tepat berdiri di sampingnya.


"Rasya sama seperti kamu saat bayi, dulu kamu juga begitu kalau dia bangun lalu orang lain menggendongnya pasti menangis tetapi kalau mama gendong kamu langsung diam"


Selly yang mendengarkannya untuk pertama kali tersenyum karena dia tidak menyangka bahwa Rasya anaknya ternyata menuruni sifat dirinya sedangkan Rani kembali terbayang bagaimana repot-nya saat mengurus Selly yang tidak pernah bisa jauh dari dirinya.


Selly segera mendudukan dirinya di tempat tidur sambil memberikan asi kepada Rasya, Rani memerhatikan apa yang dilakukan Selly merasa terharu karena dia merasa baru kemarin melahirkan Selly tetapi sekarang Selly justru sudah menjadi seorang ibu bahkan di usia yang masih sangat muda.


"sayang, apakah Arga sudah pernah menghubungi kamu?" tanya Rani yang segera duduk di samping Selly.


"tidak ada ma, mungkin dia sudah tidak memperdulikan aku dan juga rasa tapi tidak apa-apa lagian sekarang yang terpenting bagi aku adalah membesarkan rasa"


"maafin mama, karena tidak bisa berbuat apa-apa" Rani mengatakannya dengan penuh nada kesedihan mengingat bagaimana biduk rumah tangga anaknya yang selalu dalam masalah.

__ADS_1


"mama gak usah minta maaf karena semua ini sudah jalannya sekarang aku hanya berusaha menjalankan apa yang sudah menjadi takdir aku ma" tegas Selly yang sudah pasrah dengan semua yang terjadi dalam hidupnya termasuk rumah tangganya dengan Arga.


__ADS_2