
Hai semua kesayangan aku 🥰
Sehat-sehat semua kan kabarnya?
Sambil nunggu up boleh kog kepoin dulu karya aku yang lain, ada yang uda end masih tentang perselingkuhan juga 🤭
Dan juga masih ada yang on going tetapi tentang cinta monyet jaman SMP yang masih unyu-unyu 🙂
Jangan lupa di favoritin ya 🙏
Dan maaf kalau alur ini belum sesuai sama keinginan semua karena aku nulis apa yang ada dipikiran aku saat itu juga 🙂🙏
Happy reading 🥀🥀
__ADS_1
...****************...
Setelah kepulangan Erni, pada hari itu juga Edi kembali mendapatkan kunjungan tetapi dari orang yang tidak dia kenal.
Ketika masuk ke dalam ruangan tempat untuk bertemu dengan tahanan Edi mengerutkan kening, karena merasa tidak mengenal 2 orang pria yang berpakaian formal itu. Seakan tahu dengan kebingungan Edi, pengacara pun berdiri kemudian menjabat tangan Edi sambil mengenalkan diri.
"Selamat siang Bapak Edi, saya Norman pengacara Ibu Erni. Dan ini tim saya Susilo yang akan membantu klien saya." ucap sang pengacara yang bernama Norman tersebut.
Mendengar kata pengacara dari Erni, Edi pun langsung paham dengan apa yang akan dibicarakan oleh kedua orang tersebut. Tetapi Edi tetap diam saja dia ingin mendengar langsung dari mereka.
Edi menerima berkas tersebut dan membacanya dengan pelan, memang benar semua yang dikatakan didalam berkas tersebut. Disana banyak sekali foto-foto kemesraan Edi dan Siska diberbagai banyak tempat. Dan juga gugatan atas tidak adanya nafkah lahir dan batin untuk istri dan anaknya tetapi disana tidak menjelaskan bahwa Edi sudah membawa lari anak mereka.
Edi menghela nafas pelan dan kembali menatap pengacara tersebut yang seakan menunggu reaksi dari Edi.
__ADS_1
"Jadi saya harus menandatangani berkas perceraian dimana Pak?" tanya Edi to the point, karena dia tahu maksud kedatangan kedua pengacara tersebut dan tentu saja Edi tidak ingin menghambat pekerjaan mereka serta ingin mengabulkan apa yang menjadi keinginan Erni yaitu bercerai dengannya meskipun baru saja beberapa jam yang lalu mereka saling mengutarakan isi hati masing-masing.
Kedua pengacara itupun saling pandang merasa heran kenapa dengan mudahnya Edi mau segera menandatangani surat cerai.
"Hmm Bapak yakin mau langsung ditandatangani?" ucap Pak Norman kembali ingin meyakinkan Edi.
"Iya tentu saja Pak, karena saya tidak ingin menghambat pekerjaan Bapak karena Bapak sudah jauh-jauh datang ke kota ini serta ingin mengabulkan keinginan Ibu Erni." jawab Edi dengan tersenyum, meskipun jujur saja senyum itu mengandung luka. Karena saat ini dia merasa benar-benar sudah hancur.
Pak Norman pun segera memberikan surat cerai yang akan ditandatangani oleh Edi karena mengingat waktu yang diberikan tidak lama. Dan tanpa ragu Edi segera memintanya dan membubuhkan tanda tangannya.
Bersamaan dengan itu petugas Polisi mendatangi mereka karena harus kembali membawa Edi ke dalam tahanan. Kedua pengacara tersebut pun menjabat tangan Edi dan berterima kasih atas waktunya.
...****************...
__ADS_1
Jeng..jeng..jeng... gimana-gimana? 🤔🤔
Tinggalkan jejak pokoknya lah.. 🙏