
Topan terus berusaha melepaskan tangan Edi dari leher Siska dengan sekuat tenaga. Akhirnya tangan Edi pun terlepas, sehingga Siska jatuh terduduk lemas dilantai sambil batuk-batuk dengan menghirup udara sebanyak mungkin.
Setelah tangannya terlepas dari leher Siska, Edi beralih menatap tajam ke arah Topan. Topan yang menyadari bahwa dia akan menjadi pelampiasan Edi pun berusaha ingin berlari keluar menuju pintu. Tetapi gerakannya kalah cepat dengan Edi.
Edi segera menahan Topan dan kembali memberi bogem tidak hanya sekali tetapi berkali-kali. Bukan hanya diwajah Topan tetapi juga diperutnya sehingga membuat Topan menahan sakit.
"Kamu tahu bahwa Siska sudah punya suami kenapa kamu masih deketin dia!" seru Edi marah.
"Dia butuh uangku, karena kamu tidak bisa memberikan apa yang dia mau." jawab Topan terbata-bata.
Dan jawaban Topan semakin membuat amarah Edi kembali muncul. Edi semakin membabi buta memberi pukulan kepada Topan sehingga membuat Topan tidak sadarkan diri.
Sedangkan Siska hendak beranjak dari duduknya meskipun lehernya masih sakit.
__ADS_1
"Kenapa kamu lakukan semua ini Siska?" tanya Edi dengan menggeram dan masih menatap tajam kepada Siska.
"Bukankah Mas sudah dengar sendiri apa yang dikatakannya tadi?" jawab Siska mencoba menghadapi kemarahan Edi.
"Jadi kamu menilai semuanya dengan uang? Pengorbananku selama ini tidak berarti apa-apa buat kamu?" tanya Edi kembali, dan dia berjalan perlahan menghampiri Siska.
"Mas, aku gak munafik! Semua hidup itu butuh yang namanya uang! Mas pikir selama ini kita bisa hidup enak uang dari mana? Apa Mas Edi pikir kasih uang lebih ke aku?" jawab Siska yang semakin menantang.
"Diam kamu!" Edi segera mengikis jarak dengan Siska kemudian dengan secepat kilat dia mengeluarkan pisau lipat yang selalu dia bawa kemudian tanpa ragu segera dia hunuskan tepat di perut Siska.
"M..m..aa..sss" ucap Siska lirih sebelum dia akhirnya jatuh terkulai dengan keadaan tidak bernyawa.
Edi yang menyadari sudah membunuh Siska pun menjadi kaget. Dengan segera dia melempar pisau yang baru saja digunakan untuk membunuh Siska. Dan jujur saja sebenarnya Edi merasa menyesal, tapi mau bagaimana lagi semuanya sudah terjadi.
__ADS_1
Akhirnya Edi pun pasrah saja apa yang akan dia hadapi nanti. Yang penting saat ini dia harus melarikan diri lebih dulu untuk menyelamatkan Leoni, agar anaknya itu tidak terkena dampak akibat kesalahannya.
Edi berusaha untuk menenangkan dirinya, dia keluar dari kamar 505 seperti biasa ketika dia hendak masuk ke kamar tersebut. Edi berjalan santai seolah-olah dia tidak melakukan sesuatu. Hingga sampai di lobby Edi segera keluar dan menghentikan taksi dan meminta sopir taksi untuk mengantar ke alamat rumahnya.
Begitu sampai di depan rumah Edi segera membayar ongkos taksi kemudian segera masuk ke dalam rumah dan mencari keberadaan Leoni dan juga Siti. Kebetulan saat itu Siti sedang membersihkan dapur dan Leoni sedang tidur dikamarnya.
"Siti..! Siti..!" seru Edi begitu dia membuka pintu rumah.
Siti pun kaget dan terkejut karena tanpa ada suara mobil berhenti dihalaman tiba-tiba saja majikannya sudah berada didalam rumah.
...****************...
Tetap semangat yok 💪
__ADS_1
Mau donk di like, komen dan hadiahi 🙏🤗