
Begitu sadar akan perkataannya, Edi segera mengalihkan pembicaraan.
"Hai Ver kamu disini?" tanya Edi basa basi ketika melihat Vera.
"Iya Mas mau menginap disini karena kangen sama anak-anak." jawab Vera apa adanya.
"Kakak, adek ini papa bawa oleh-oleh dimakan sama-sama ya?" ucap Edi sambil menyerahkan paper bag kepada kedua anaknya berisi makanan yang tadi sempat dia beli dipinggir jalan.
"Hore..!" keduanya bersorak senang dan berlari menuju ruang tamu untuk menikmati oleh-oleh yang dibawa papa mereka.
Kemudian Erni menghampiri Edi dan mengecup punggung tangannya.
"Aku mandi dulu ya Mah." ucap Edi sambil berlalu menuju ke kamar untuk membersihkan diri.
Erni hanya menjawab dengan mengganggukkan kepalanya.
Begitu Edi sudah masuk ke dalam kamar, Erni segera menghampiri Vera yang saat itu sudah berkumpul bersama dengan Sifa dan Leoni.
"Ver kamu tadi mencium wangi parfum kan waktu Mas Edi lewat?" tanya Erni memastikan bahwa bukan hanya dia saja yang mencium wangi parfum.
__ADS_1
"Iya sih." jawab Vera apa adanya, karena memang Vera mencium wangi parfum.
"Ya itu Ver bau itu yang tiap hari aku cium sehabis pulang kerja gini. Aku yakin itu parfum cewek karna parfum Mas Edi gak kayak gitu." bisik Erni karena takut Edi mendengar suaranya.
"Ya uda tenang dulu Er, nanti kapan-kapan bakal kita selidiki." jawab Vera mencoba membuat Erni tenang.
Erni hanya menghela nafas pelan, kemudian dia beranjak dari duduknya dan masuk ke dalam kamar untuk melihat apakah suaminya sudah selesai mandi atau belum.
Begitu dia membuka pintu kamar, kebetulan Edi juga baru saja selesai keluar dari kamar mandi dan hanya mamakai handuk dipinggang saja.
Melihat kedatangan Erni, Edi hanya melihat sekilas saja dan berjalan santai menuju pakaian lemari untuk mengambil pakaian santai yang akan dia pakai untuk tidur.
"Alhamdulillah lumayan Mah." jawab Edi singkat sambil memakai pakaiannya.
Karena posisi Edi membelakangi Erni, sehingga tanpa sengaja Erni melihat tanda merah ditengkuk leher belakang milik Edi. Erni awalnya hanya mengira itu luka tetapi setelah dia pastikan ternyata itu adalah tanda merah kepemilikan. Untuk mengurangi rasa penasarannya, Erni pun bertanya kepada Edi.
"Tengkuk kamu kenapa Pah? Kog merah gitu?" tanya Erni yang akan berjalan mendekat dan memegang tengkuk Edi.
Edi yang baru saja sadar bahwa tadi Siska memberinya tanda kepemilikan seketika langsung berbalik badan untuk menghadap Erni dan sedikit mengusap tengkuknya kemudian berpura-pura merasa gatal dan menggaruknya pelan.
__ADS_1
"Oh ini tadi digigit serangga Mah jadi merah gini, tapi tadi uda aku kasih minyak gosok dimobil kog." jawab Edi dengan sedikit terbata-bata.
Erni bukanlah wanita yang bodoh, tentu saja dia tahu tanda merah apa itu. Tetapi karena dia belum banyak bukti sehingga Erni menekan emosinya terlebih dahulu dan hanya memejamkan matanya.
Edi yang melihat perubahan pada istrinya seketika menjadi kesal.
"Kenapa kamu gak percaya sama aku? Kamu mau curiga gitu?" tanya Edi dengan meninggikan suaranya.
"Curiga apa sih Mas? Aku gak ngomong apa-apa lho!" seru Erni dengan nada yang juga sedikit naik, karena dia merasa tidak menekan Edi tetapi justru Edi lah yang seakan mencari gara-gara.
Mendengar sahabat dan suaminya seperti sedang berantem, Vera segera membawa Sifa dan Leoni ke kamar mereka. Karena Vera tidak mau Sifa dan Leoni melihat kedua orang tua mereka berantem di depan mereka.
"Uda gak usah ngajak berantem, aku capek Er!" seru Edi sambil keluar dari kamarnya.
Erni hanya bisa menangis dalam diam, karena tidak biasanya Edi membentaknya seperti itu.
...****************...
Tetap semangat 💪
__ADS_1
Uda 2 bab ini kak 🥰