
Selesai makan malam mereka menghabiskan waktu bersama untuk melepas rasa kangen setelah akhirnya kedua anaknya masuk ke dalam kamar untuk beristirahat karena memang waktu yang sudah malam.
Setelah kedua anaknya bersama dengam Siti berada dikamar, Erni mengajak Edi ke ruang keluarga dan sebelumnya membuatkan kopi terlebih dahulu untuk Edi. Karena dia akan membahas akan tinggal dimana Edi setelah ini.
Begitu selesai membuatkan kopi Erni segera membawa kopinya ke ruang keluarga dimana Edi sudah menunggu disana sambil menonton televisi.
Erni segera meletakkan kopi diatas meja dan beberapa camilan yang dia bawa dari dapur. Kemudian duduk disebelah Edi tetapi dengan jarak yang cukup jauh, mengingat karena status mereka sekarang ini yang sudah berubah.
"Mas Edi malam ini tidur disini dulu aja gak apa-apa di kamar tamu." ucap Erni membuka pelmbicaraan.
Edi yang sebenarnya tidak terlalu fokus dengan tayangan televisi pun menoleh ke arah Erni.
"Iya terima kasih. Maaf sudah merepotkan." jawab Edi merasa tidak enak hati.
__ADS_1
"Gak apa-apa Mas, kan Mas Papanya anak-anak."ucap Erni.
"Terus habis ini Mas mau gimana? Maaf kalau tersinggung." tanya Erni lagi, ingin tahu rencana kedepannya Edi. Karena tidak mungkin kan kalau Edi akan menginap terus dirumah Erni karena nanti akan menjadi fitnah.
Edi tersenyum teduh mendengar pertanyaan serta kekhawatiran Erni seolah Edi bisa merasakan jika berada diposisi Erni dengan status mereka yang sudah bercerai. Meskipun tetangganya belum banyak yang tahu tetapi Tuhan yang tahu semuanya.
"Kamu tenang aja Er, besok aku akan ke rumah teman ku yang bernama Adit. Dia dulu teman waktu sama-sama bekerja sebagai taksi online. Dulu waktu masih sama-sama bekerja dia sering menawarkan untuk bekerja di Luar Negeri. Dan kayaknya aku perlu coba itu, karena untuk bekerja di negara kita sendiri dengan status ku yang seperti ini mungkin akan susah mendapatkan pekerjaan." ucap Edi dengan tersenyum getir.
Erni yang mendengarnya hanya mengganggukkan kepala. Karena bagaimanapun Erni tidak berhak lagi menentang keinginan Edi karena memang benar apa yang dikatakan Edi. Dan Erni berpikir jika Edi adalah seorang laki-laki pasti akan berusaha mendapatkan penghasilan sendiri untuk memberi nafkah kedua anaknya yang masih menjadi tanggung jawabnya.
Waktu terus berlalu...
Edi benar-benar melakukan apa yang menjadi rencananya. Dan kebetulan Adit memang masih mencari orang-orang yang mau bekerja diluar negeri. Tetapi penyalur yang dari Adit memang resmi jadi Edi tidak perlu mengkhawatirkan soal itu.
__ADS_1
Tahun pertama mungkin menjadi tahun terberat untuk Edi. Karena dia harus bekerja keras untuk bisa mencapai itu semua dan tentu saja dia belum bisa memberi nafkah kedua anaknya dengan maksimal dan Erni bisa memahami itu.
Tetapi ditahun-tahun berikutnya Edi bisa menunjukkan kepada semuanya bahwa dia bisa dengan bekerja keras dan mampu memberikan nafkah untuk kedua anaknya dengan lebih layak.
Begitu terus mereka menjalani semuanya. Tanpa adanya hubungan suami istri pada umumnya tapi keduanya mampu memberikan kasih sayang yang utuh untuk kedua anaknya.
Sedangkan Brian pun berhenti mengejar Erni, karena memang dia merasa akan sia-sia jika mengharapkan Erni terus menerus. Karena prinsip Erni yang kuat sehingga sosok Brian pun tidak bisa menggoyahkan prinsipnya sama sekali.
Brian juga sering bertemu dengan Vera karena status Vera sebagai sahabat Erni tentu saja membuat Brian dan Vera menjadi sering bertemu. Dan tidak ada yang menyangka bahwa benih-benih cinta tumbuh bersemi dihati mereka.
...π₯π₯ Happy Endingπ₯π₯...
Terima kasih banyak untuk kakak-kakak yang sudah setia dengan novel-novel saya. Dan maaf jika endingnya mungkin tidak sesuai dengan ekspektasi kakak semua. Terima kasih untuk vote, hadiah, like dan komen yang sudah diberikan π
__ADS_1
Terima kasih untuk kritikan dan saran yang diberikan itu semua membuat saya lebih semangat dalam berkarya π
Jangan lupa mampir dikarya aku yang lain kak, dan tetap semangat πͺπ₯°π