
Begitu Bu Ijah masuk ke dalam kamar, Erni terlihat keluar dari kamarnya dengan keadaan yang sudah segar sehabis mandi. Juga tanpa make-up diwajahnya tetapi tetap tidak menyurutkan cantik alaminya.
Erni menghampiri Edi yang duduk di ruang tamu, kemudian duduk disebelahnya. Saat ini Erni memakai baju daster tanpa lengan. Edi pun menarik pinggang Erni dan mencium pipinya.
"Hmm.. wangi banget calon istri Mas." kata Edi dengan sedikit mengen-dus tubuh Erni karena bau wangi khas sabun mandi.
"Mana baby Sifa Mas?" tanya Erni tanpa menjawab pertanyaan Edi.
"Bobok, tadi dibawa ke kamar sama Bu Ijah."
"Ow ya sudah. Mas gak mau mandi dulu?" tanya Erni.
"Iya ini gerah sih sebenernya." jawab Edi dengan menggulung lengan kemejanya.
"Ya sudah Mas mandi dulu aja, aku ambilin handuk bentar ya." kata Erni sambil berjalan ke arah belakang tempat cucian baju.
"Iya." jawab Edi sambil berjalan ke kamar Erni untuk mandi di kamar mandi yang ada di kamar Erni.
__ADS_1
Begitu sampai di dalam kamar Erni, Edi segera masuk ke dalam kamar mandi dan menyelesaikan mandinya.
Erni yang akan masuk ke dalam kamar dari arah belakang, sempat bertemu dengan Bu Ijah.
"Nak, Bu Ijah ke supermarket depan dulu sebentar ya, ini minyak nya baby Sifa kog tiba-tiba gak ada. Ibu uda cari kemana-mana gak ketemu." kata Bu Ijah.
"Owalah gitu Bu? Dianter gak?" tawar Erni. Karena memang sudah agak gelap.
"Gak usah Nak, Ibu jalan aja sebentar kan cuma di depan." tolak Bu Ijah dengan halus.
"Ow ya sudah kalau begitu Bu hati-hati ya. sebentar Erni ambilkan uangnya dulu." kemudian Erni masuk ke dalam kamar untuk mengambil uang seratus ribuan untuk diberikan kepada Bu Ijah.
"Mas handuknya aku taruh di depan pintu kamar mandi ya." teriak Erni karena takutnya Edi tidak mendengar.
"Iya." jawab Edi dengan teriak juga.
Sambil menunggu Edi selesai mandi, Erni duduk di depan meja rias. Dia memakai krim wajah seperti biasanya.
__ADS_1
Begitu Edi selesai mandi dia terlihat masih tetap memakai baju yang sebelumnya dia pakai. Karena memang Erni tidak mempunyai baju laki-laki.
Edi berjalan mendekat ke arah Erni yang sedang duduk di meja rias. Kemudian dia mendekapnya dari belakang. Tatapan mata keduanya terlihat di pantulan cermin di depan mereka. Mereka saling tersenyum satu sama lain.
Dan tiba-tiba saja Edi membalik badan Erni dan segera mencium bibir Erni. Edi sedikit melu-mat dan menye-sapnya karena rasa manis yang dirasakan saat mencium bibir Erni.
Erni pun juga mengimbangi. Tangan Edi pun sedikit mere-mas dua benda yang masih tertutup daster itu. Tetapi sedetik kemudian Edi melepaskan ciumannya dia tersadar bahwa belum saatnya melakukan hal yang lebih.
Edi membersihkan bibir Erni yang basah dengan ibu jarinya.
"Maaf yank." kata Edi.
"Ini salah satu alasan Mas pengen kita cepet nikah huhh." seru Edi dengan mengacak rambutnya sendiri.
Erni hanya menanggapinya dengan tersenyum. Kemudian Edi menyisir rambutnya dan sedikit membuat penampilannya kembali tampan. Dan dia segera keluar dari kamar Erni karena takut tidak akan bisa menahan nafsunya kalau terlalu lama berduaan dengan Erni.
...****************...
__ADS_1
Tetap semangat 💪