Sunflower

Sunflower
Prolog


__ADS_3

Korea Selatan, 1 Januari 20xx


Hari ini masih sama seperti hari sebelumnya. Tidak ada yang istimewa.


Kakek dan Nenek tidak ada di rumah mereka masih di perusahaan mengurus beberapa hal.


Jujur aku sangat iri dengan teman-temanku jika mereka menceritakan keluarga mereka yang harmonis.


Sedangkan keluarga ku tidak, bukan tidak karena dulu keluargaku juga harmonis seperti mereka.


Aku masih ingat ketika Papa mengajakanku naik sepeda dan Mama yang mengajarkanku mengikat rambut dengan rapi. Itu masih tersusun rapi diingatanku.


Sampai dimasa aku berusia 10 tahun semuanya berubah ketika kakak perempuanku mengalami kecelakaan ketika pulang sekolah. Bus yang ditumpangi kakakku oleng menabrak tiang listrik dijalanan.


Itu membuat Mama dan Papa khawatir dan mereka melupakanku dan focus pada pengobatan kakakku. Aku tidak marah karena kakakku lebih membutuhkan Mama dan Papa tapi kenapa mereka tidak melirikku sedikit pun.


Sampai aku dititipkan kepada Nenek di Korea. Dan hari itu aku langsung pindah ke Negara dimana aku dilahirkan. Aku mulai menjalani hari-hari baru di Negara ini. Mendapatkan teman baru dan lingkungan baru.


Dan masih untung aku sudah menguasai bahasa Korea sejak umur 6 tahun. Bukannya sombong tapi aku ini cukup genius.


Happy New Year. Dan besok aku akan kembali ke Indonesia.


***


...“Mari kita mulai”...


...****************...


'


Aku menyipitkan mata ketika keluar dari pesawat. Hari ini cuaca sangat cerah. Aku memandang bandara ini dengan antusias akhirnya aku bisa kembali ke Indonesia. Aku tidak tau bagaimana hari-hariku setelahnya. Mungkin buruk.


Aku mencari seseorang suruhan Kakek untuk mengantarkanku pulang. Aku memperhatikan sekitar ternyata banyak yang dijemput keluarganya. Aku tersenyum sendu. 


Dari arah jam 2 aku bisa melihat seorang laki-laki berjas hitam rapi, tubuhnya tinggi tegap ditangannya juga memegang kertas dengan tulisan namaku dalam aksen Korean. Sepertinya itu yang akan menjemputku.


"Selamat siang." Sapaku setelah sampai di laki-laki berjas hitam itu, dia menoleh.


"Nona Kim?" tanyanya aku mengangguk. "Apakah perjalanan anda menyenangkan? Mari saya antar ke mobil."


Aku mengangguk tersenyum.


Dia mengambil alih koperku, aku melihat sekeliling ternyata aku menjadi pusat perhatian. Mereka memandangku takjub seperti sedang melihat artis Korea datang ke Negara mereka. Ku pakai kaca mata hitamku mengikuti arah laki-laki berjas hitam tadi. Tidak ambil pusing dengan tatapan mereka.


Laki-laki itu membukakanku pintu mobil, setelah aku masuk dia menutup dengan pelan. Seakan-akan takut aku terkejut.


"Nona bisa memanggil saya James. Saya ditugaskan Tuan Kim untuk menjadi bodyguard Nona."


Aku menganguk sudah kuduga Kakek tidak akan membiarkanku sendirian disini tanpa pengawal. "Kita mau kemana?"


"Kita akan ke Masion terlebih dahulu Nona, setelah itu anda akan naik taksi menuju rumah Nona. Saya tidak bisa mengantar Nona nanti Tuan Muda Kim akan tau."


Aku menyengit tidak mengerti.


Masion?

__ADS_1


"Itu recana Tuan Kim Nona." katanya setelah melihatku bingung. "Jika Nona butuh sesuatu bisa menghubungi saya."


"Oya Nona, Tuan Kim berpesan agar Nona tidak lupa minum obat."


***


Aku menatap bangunan didepanku dengan takjub. Bangunan dengan tekstur Eropa yang dipadukan dengan Asia. Rumah ini sangat besar, eh aku salah ini bukan rumah tapi Masion. Disisi kanan rumah ada air mancur dan disebelahnya lagi ada taman bunga.


Aku mengikuti James dari belakang. "Selamat datang di Masion, Nona."


"Apa ini tidak berlebihan James?"


"Tidak Nona, Tuan Kim tidak akan tanggung-tanggung untuk Nona."


Iya juga sih Kakek memang berlebihan. Dulu aku minta sepeda sederhana yang murah dan apa akhirnya Kakek membelikanku sepeda seharga 50 juta. Kata Kakek itu yang paling murah.


"Ada 12 pelayan di rumah ini. Nona bisa memanggil mereka sesuka Nona." jelas James. "Kamar Nona ada lantai 3."


Aku melotot. Lantai 3 butuh berapa menit aku bisa sampai sana?


"Nona tenang saja rumah ini dilengkapi dengan lif Nona tidak perlu berjalan menaiki tangga."


Aku bernafas lega.


Aku mengikuti James menuju lif. Lif itu berada didekat tangga menyerupai ruangan, jika orang lain yang melihatnya tidak akan tau jika ini lif.


"Ini kamar Nona." James membuka pintu berwarna putih. Aku melotot melihat kamar baruku, sangat besar bernuansa hitam putih. Kakek memang tau seleraku.


"Kalau Nona butuh sesuatu bisa memanggil saya atau pelayan dengan telepon diatas meja itu." James menunjukkan telepon diatas meja dekat televisi. "Kalau begitu saya permisi Nona."


"Makasih James."


Setelah semuanya beres dan rapi aku merebahkan badanku dikasur. Menatap langit-langit kamar diam, aku tidak kenal satu orang pun disini. Sebelum aku pindah aku pernah punya satu sahabat tapi aku tidak tau dimana dia sekarang. Aku pergi tidak berpamit tapi Kakek sudah mengirim surat kepada sahabatku setelah mendengar aku menangis setiap malam. Apa dia masih mengingatku?


Apa aku harus pulang sekarang?


Mungkin lebih cepat lebih baik. Tapi sebelum itu aku harus minum obatku dulu.


Aku lebih memilih menuruni tangga bagaimana sensaninya. Koyol memang. James melihatku terkejut. "Kenapa Nona lewat tangga?"


Aku nyengir. "Cuma mau ngerasain sensaninya. Oyah aku mau pulang sekarang."


"Apa tidak sebaiknya Nona makan dulu?" aku menggeleng. Aku masih kenyang.


James mengangguk mengerti. "Kalau begitu saya pesankan taxi terlebih dahulu."


Sambil menunggu taxi datang aku pergi menuju dapur, membuka kulkas dan mataku melebar seketika. Banyak sekali buah-buahan disini. Mataku lebih berbinar lagi ketika melihat apel merah. Aku mengambilnya membawanya untuk dicuci.


"Nona butuh sesuatu?"


Aku terlonjak kaget. Aku lihat sisi kananku berdiri wanita paruh baya dengan seragam beda dari pelayan yang lain. Bisa ku tebak pasti dia kepala pelayan disini. Aku tersenyum.


"Tidak perlu aku bisa melakukannya sendiri." kataku sambil duduk dimeja makan. Kepala pelayan itu mengangguk.


"Kalo Nona butuh sesuatu bisa bilang ke saya."

__ADS_1


Aku mengangguk sambil tersenyum tidak lupa kembali menggigit apel ditangan kananku.


"Nona taxinya sudah datang."


Aku berdiri mengikuti James dari belakang. James membawakan tas ranselku dan membukakan pintu untukku dan menyerahkan ranselku. "Saya akan mengikuti Nona dari belakang."


Taxi melaju meninggalkan Masion besar itu membela jalanan kota yang ramai. Aku baru menyadari jika Masion yang dibelikan Kakek jauh dari jalanan kota. Harus melewati kurang lebih satu kilometer dan lebih mengagetkan lagi diujung jalan 5 meter sebelum jalan besar ada gerbang super besar aku juga baru menyadari jika jalan itu khusus untuk ke Masionku.


Aku tidak tau jalan pikiran Kakek.


45 menit kemudian aku sampai di rumah Papa. Rumah Papa tidak sebesar Masionku tapi masih terbilang mewah. Seorang satpam membukakan pintu mempersilakan taxi yang ku tumpangi memasuki perkarangan rumah.


Aku bisa melihat dibelakan mobil James berdiri mengawasi taxi yang ku tumpangi. Aku turun lalu menuju pintu utama. Aku mengetuknya.


Seorang wanita paruh baya membukakan pintu aku menatapnya tersenyum dia juga ikut tersenyum. "Nona Agatha ya?"


Aku mengangguk. "Iya aku Agatha Bi Imah." aku memeluk Bi Imah penuh rasa rindu, beliau yang menjagaku jika Mama Papa pergi. "Aku kangen Bibi. Kabar Bibi gimana?"


"Baik Non. Non Agatha sendiri gimana?"


"Baik Bi."


"Yaudah ayo masuk Non." Bi Imah mengantarku ke kamar. Aku diam menatap kamar yang ditunjukkan Bi Imah, ini bukan kamarku yang dulu tapi ini kamar yang paling kecil dirumah ini.


Bi Imah memandangku sendu. "Maaf Non, Nyonya besar yang menyuruh Bibi membersihkan kamar ini katanya untuk kamar Non."


Aku tersenyum. "Gapapa Bi."


"Bibi bantu beres-beres ya Non." aku mengangguk. Bi Imah membantu merapikan bajuku. 


"Setelah Non pergi semua berubah Non." kata Bi Imah. Aku tau Bi Imah tidak bisa merahasiakan sesuatu kepadaku. "Non Hana berubah dia semakin kasar, Nyonya dan Tuan juga bergitu mereka lebih memanjakan Non Hana itu yang membuatnya berubah Non. Kamar Non yang dulu juga dipakek Nona Hana dan kamar Nona Hana dibuat studionya Nona Hana."


"Banyak yang berubah ya Bi?" pantas saja dalam perjalanan ke kamar ini aku melihat kamar Hana yang berbeda dipintunya tertulis Studio Hana.


"Sudah selesai Non. Bibi kedapur dulu buat makan malam. Kalo Non butuh sesuatu bisa panggil Bibi." kata Bi Imah. "Oya Non seragam Non buat sekolah besok sudah ada dilemari."


Aku mengangguk.


***


"Papa Mama." sapaku riang setelah memasuki ruang makan dan menemukan Papa dan Mama tengah duduk.


"Alay." Bukan Papa atau Mama yang bilang tapi Hana kakakku yang baru turun tadi lantai 2. "Ngapain sih lo pulang segala?!"


Aku mendengus. Benar kehadiranku tidak diharapkan disini. "Ya kangen kalian lah."


"Kita gak butuh kangen dari kamu." kata Mama membuat hatiku sakit. Aku melihat Papa yang masih asik makan.


Aku diam. 5 Menit lenggang Papa berdiri lebih dulu meninggalkan meja makan disusul Mama.


"Lo lihat kan Papa dan Mama gak butuhin lo sini." sinis Hana. "Mending lo balik lagi deh ke Korea."


"Kenapa juga gue harus balik?" kataku tidak terusik sama sekali dengan nada sinis Hana.


Hana menggeram marah. "Gue peringatin dari sekarang. Besok disekolah lo jangan sampai deketin gue. Anggap kita gak pernah kenal." 

__ADS_1


Aku menghembuskan nafas kasar. Ekspetasiku yang akan disambut hangat dirumah ini hancur. Bi Imah mengelus pundakku menyemangati. Aku tersenyum membantu Bi Imah membereskan meja makan.


***


__ADS_2