
Kabar gembira akhirnya terdengar, malam itu setelah Zee dan Zayn terlelap Varest mengambil kesempatan untuk memonopoli istrinya sendiri tanpa gangguan dua jagoannya yang tak penah membiarkannya untuk bermanja ria pada mama mereka tapi tiba-tiba dibuat jengkel oleh voice call dari Andi.
Andi menelpon tepat pukul 9 malam saat Varest tengah terbuai oleh belaian tangan Rea yang lembut di kepalanya dan itu membuatnya sedikit mengumpat dan setengah hati untuk mengangkat panggilan tersebut.
“Hall—“ Belum selesai sapaan Varest terucap namun suara diseberang sana sudah memotong dengan suara cukup keras hingga membuat Varest harus menjauhkan ponsel yang belum lama menempel di telinganya.
Varest mendesis seraya menggosok telinganya kemudian kembali menempelkan benda persegi itu di telinga. “Ndi, telinga ku masih berfungsi dengan baik, bicara yang pelan kenapa, sih?” gerutunya sambil menatap wajah Rea dari bawah karena posisi kepalanya yang sedang dipangku oleh istrinya tersebut.
“Bodoh amat, hari ini aku mau berbagi kebahagiaan dengan mu sebagai saudara ku yang paling ku sayang,” ucap Andi terdengar masa bodoh dengan gerutuan Varest.
Lelaki yang tengah bermanja dengan istrinya itu mengerutkan keningnya bingung. “Apa?” tanyanya singkat
“Sebentar lagi kamu akan punya kakak ipar,”
Reflek Varest bangun dari posisinya hingga tak sengaja kepalanya terbentur dengan kepala Rea yang saat itu tengah menunduk karena memperhatikan jerawat Varest yang tumbuh di dahi.
“Aww” ringis Rea seraya mengusap dahinya
“Ya ampun, sayang, maaf aku tidak sengaja, apa sakit?” tanya Varest khawatir sembari mengelus dan menciumi kening Rea yang tak sengaja dia kena tadi.
“Sakit banget, sayang, kenapa buru-buru banget sih bangunnya? Kan jadi sakit ini,” omel Rea
“Maaf sayang, aku tidak sengaja, sini aku cium biar hilang sakitnya,” gurau Varest yang membuat Rea langsung memukul pahanya.
“Sakit sayang,” keluhnya, “Tapi kan benar ciuman ku bisa menyembuhkan, bukan?”
Rea melebarkan matanya saat pandangannya mengarah pada ponsel Varest yang di letakkan di atas bantal nampak nama Andi masih terpampang di layar berukuran 6.7 inch itu, yah, panggilan Andi masih tersambung dan bisa dia pastikan jika percakapan mereka didengar oleh lelaki yang sudah dia anggap sebagai kakak itu.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Varest yang melihat ekspresi sang istri namun kemudian beralih pada ponselnya
"Hallo,, hallo! kalian lagi ngapain sih?!" Dari seberang sana Andi tengah menahan kesal, dia yang menelpon niatnya ingin berbagi kebahagiaan malah harus mendengar percakapan sepasang suami istri yang membuatnya semakin ingin segera melepas masa lajangnya. Ah, dia merindukan Andin
-
-
-
Teriakan dari walk in closet membuat Rea menggigit bibirya gemas seraya menutup matanya sekilas, sudah kesekian kalinya kedua orang yang berada di dalam tempat itu berteriak jika sudah merasa kesusahan mencari sesuatu dan itu membuat Rea sedikit jengkel karena selalu terganggu untuk mengurus anak bungsunya yang tinggal memasang sepatunya saja pekerjaannya selesai.
Rea mendesah kasar sebelum akhirnya berdiri dari ranjang dimana anak bungsunya duduk sembari memainkan balon karet di tangannya. "Zayn, tunggu Mama bentar yah, Zayn tetap disini tidak boleh kemana-mana!" ucap Rea pada Zayn meski anak yang baru berumur setahun itu belum mengerti apa yang dikatakan olehnya.
Setelah memastikan posisi Zayn aman yang berada diatas ranjang akhirnya dia mengayunkan kakinya ke arah walk in closet dimana suara yang tadi menganggunya berada. Istri dari Varest itu langsung membulatkan matanya dengan mulut yang ikut terbuka tatkala malihat pemandangan dari dalam ruangan dimana beberapa pakaian yang masih terkait hanger itu sudah berhamburan diatas kursi panjang di tengah ruangan.
"Kalian itu lagi nyari apa sih?" Rea memijit pelipisnya frustrasi
"Cari sepatu," jawab keduanya serentak sambil membalik badan menghadap Rea
Rea menggeleng dengan wajah memelas tak habis fikir dengan kelakuan dua orang terkasihnya itu, hampir satu jam mereka berada di dalam ruangan tersebut tapi sampai sekarang mereka masih pun belum setengah beres dengan pakaian yang harus mereka gunakan, kemeja putih yang masih belum rapi serta dasi yang hanya menggangntung di leher bahkan rambut pun masih setengah basah.
"Zee sama Papa bingung harus pakai sepatu yang mana biar cocok sama bajunya," Zee menyahut seraya mengangkat dua sepatu pantofel di kedua tangannya.
"Tadi kan Mama sudah bilang biar Mama yang siapin pakaian kalian, tapi malah ditolak. Yang bilang Mama biar urusin adik saja siapa?" Zee dan Varest hanya menggaruk belakang lehernya malu, pasalnya tadi mereka dengan percaya dirinya ingin mengurus keperluan sendiri tanpa bantuan satu-satunya wanita di rumah mereka.
Rea berjalan kearah lemari kaca yang berisikan puluhan pasang sepatu dari miliknya hingga sepatu milik Zee setelahnya mengambil dua pasang yaitu milik Zee dan suaminya. "Nih, pakai yang ini saja, lebih cocok untuk pakaian kalian dari pada yang tadi," ucap Rea meletakkan dua pasang sepatu itu keatas kursi panjang.
__ADS_1
Varest dan Zee tersenyum senang meraih sepatu yang telah dipilihkan oleh wanita tersayangnya tersebut. "Thanks Mom," ucap keduanya seraya memeluk Rea dari samping, Rea hanya bisa terkekeh dengan kelakuan kedua orang tersebut.
"Sama-sama, sayang. Tapi, Mama ada tugas buat kalian loh" Kata Rea melepaskan diri dari dekapan Varest dan juga Zee
"Tugas apa?" Varest mengangkat sebelah alisnya bingung
Rea tersenyum jahil kemudian menyapu pandangannya pada isi ruangan yang nampak berantakan itu. "Sebelum kalian keluar, ruangan ini harus kembali bersih seperti sedia kala," ujarnya
"Maaa"
"Sayang,"
"No, tidak ada penolakan!"
"Tapi, sayang, kita bisa telat" Varest berusaha menolak
"Iya Ma, Om Andi pasti nunggu kita"
"Acaranya masih dua jam lagi, sayang, lagi pula ini tidak lama kok, kalau ditunda nanti malah kelupaaan, emang kalian tidak kasihan sama Mama kalau Mama lagi yang bersihin padahal ini ulah kalian loh." Rea mendudukkan dirinya siap untuk mengeluarkan jurus andalan memasang wajah sedih
Varest dan Zee saling berpandangan kemudian menghela nafas bersamaan, baiklah mereka lemah jika wanita satu-satunya di keluarga kecil mereka itu sudah memasang wajah demikian.
"Baik lah, kami akan bereskan semuanya," putus mereka akhirnya.
Mendengar jawaban dari orang di depannya sontak Rea melebarkan senyumnya sembari berdiri. "Ah, kalian memang the best, nanti kalau sudah selesai cepat keluar yah, Mama minta tolong jagain adik, Mama juga mau siap-siap," ujarnya semangat dan hanya dibalas anggukan oleh Varest dan sang putra.
Tak ada pilihan bagi Varest dan Zee karena memang yang membuat ruangan itu berantakan adalah mereka berdua dan mereka pun juga tahu bagaimana wanita yang menjadi belahan jiwa mereka itu sangat menyukai kebersihan dan kerapian, maka untuk menghindari amukan atau rajukan dari Rea mereka mulai memunguti satu persatu pakaian yang berserakan dan merapikannya kembali kedalam lemari.
__ADS_1