Sunflower

Sunflower
Sunflower


__ADS_3

Suka cita akan resepsi pernikahan Andi dan Andin akhirnya berakhir, semua sahabat dan kerabat sudah meninggalkan tempat acara begitupun dengan Kedua pengantin, Andi dan Andin sudah berada dalam satu kamar yang ada di hotel dimana acara mereka diadakan.


Rasa lelah begitu mereka rasakan, terbukti dari tidak adanya aktifitas lain setelah membersihkan diri keduanya langsung terlelap dalam posisi saling berpelukan.


Namun, berbeda dengan kedua orang yang berada di kamar yang berada tepat di depan kamar Andi dan Andin, ada Varest yang tengah sibuk menidurkan anak bungsunya yang terbangun setelah sebelumnya sempat ditidurkan oleh mama Nimas.


"Ya ampun, sayang. Kamu bisa menggagalkan rencana Papa malam ini." Varest menimang Zayn dalam gendongannya sembari terus berbicara pada bayi yang mata bulatnya masih setia untuk terbuka


Zayn hanya tertawa riang saat sang papa mengajaknya berbicara tanpa bayi itu tahu jika papanya tersebut mengharapkannya untuk cepat tidur.


Varest menghela nafas dengan bahu yang merosot, sesekali dia melihat jam yang melingkar di tangannya yang ternyata sudah menunjukkan pukul 22.35 malam, papa sambung dari Zee itu nampak memasang wajah sedih melihat putra kecilnya yang masih tak ada tanda-tanda untuk tertidur.


"Tidurlah sayang!" titahnya lirih penuh harap, kakinya dia langkahkan menuju ranjang sembari menunggu sang istri yang sedang menjemput putra sulungnya yang berada di kamar kedua orang tuanya.


Sebenarnya tak masalah jika Zee tidur dengan kedua orang tua ataupun mertuanya, hanya saja entah kenapa saat tidak berada di rumah Varest merasa lebih nyaman ketika kedua anak dan istrinya tidur dalam satu ranjang, dalam posisi seperti itu Varest akan lebih tenang untuk tidur.


"Zayn belum tidur?" Pintu terbuka memperlihatkan Rea yang datang sembari menggandeng Zee yang berjalan sempoyongan karena mengantuk.


Varest mengangguk kemudian meletakkan Zayn diatas ranjang lalu mendekati Zee berniat untuk menggendongnya karena kasihan melihat Zee yang seakan ingin terjatuh.


"Apa tadi dia sudah tidur?" Tanya Varest pada Rea yang berjalan di belakangnya.


"Belum, tapi kata mama Zee memang ingin ke kamar kita dari tadi."


"Sepertinya dia sangat kelelahan." Varest meletakkan Zee yang sudah tertidur di samping Zayn yang masih asik bermain.


"Bagaimana tidak lelah, musik slow dia malah goyang dangdut selama acara dansa," ucap Rea diselingi kekehan mengingat kelakuan putranya tadi


Varest ikut tertawa mendengar perkataan istrinya, memang benar kelakuan Zee tadi bukan lagi membuatnya kelelahan tapi juga membuat acara dipenuhi dengan tawa karena kelucuannya.


"Sayang jangan ribut, ihz!" Rea memukul pelan bahu Varest yang tertawa terlalu kencang khawatir jika Zee akan bangun dibuatnya.


"Mamam, mamama.."


"Sayang, bukan aku yang akan membangunkan Zee tapi adiknya sendiri." Varest menunjuk Zayn yang sudah tengkurap sambil berceloteh dengan tangan yang sibuknya memainkan bibir Zee


"Engg" Zee melenguh pelan sambil menggaruk wajahnya.


Sigap Rea langsung mengangkat Zayn sebelum Zee terganggu dan terbangun. "Ya ampun Dek. Jangan diganggu kakaknya"


"Sayang, lebih baik kamu bersih-bersih dulu, biar aku yang menidurkan Zayn." Varest mengambil alih Zayn dalam gendongan Rea kemudian mengambil susu yang sempat dia buat saat istrinya menjemput Zee yang berada di atas nakas.


"Kamu bisa?" Tanya Rea ragu pasalnya selama ini Varest hanya sesekali bisa menidurkan Zayn karena biasanya Varest akan lebih dulu tidur dibanding sang putra.


"Tenang saja malam ini aku bakalan terjaga sebelum Zayn tidur," Kata Varest yakin


"Iyakan jagoan Papa?" tanyanya pada Zayn yang malah dibalas dengan tawa riang bayi itu


Tanpa banyak keraguan lagi akhirnya Rea setuju, wanita yang masih mengenakan gaun itu berjalan menuju kamar mandi hotel untuk membersihkan diri karena malam yang semakin larut dan tubuhnya juga yang sedikit lengket.


Setelah hilangnya Rea dari balik pintu, Varest kembali ke ranjang berniat untuk menidurkan Zayn yang mulai menguap, dengan pelan Varest mengusap belakang Zayn dengan tangan kanannya sedangkan tangan kirinya dia gunakan untuk mengusap kepala bayi itu mengikuti apa yang sering dilakukan oleh Rea saat menidurkan putranya.

__ADS_1


Merasa nyaman dengan belaian sang papa perlahan mata bulat Zayn terpejam apa lagi dengan botol susu menempel di bibir yang hampir habis membuatnya semakin cepat untuk tidur.


Varest tersenyum puas saat dot yang awalnya menempel di mulut Zayn terlepas dengan sendirinya yang itu artinya bahwa bayi menggemaskan itu sudah tertidur dengan lelap.


"Mimpi yang indah yah jagoan Papa, sekarang giliran Papa yang harus menjalankan aksi." Monolognya sambil bergantian menciumi kedua anaknya.


Suara gemericik air terdengar dari dalam kamar mandi dan itu tandanya jika proses membersihkan diri istrinya itu masih akan memakan waktu beberapa menit kedepan. Waktu yang tepat untuk Varest mempersiapkan rencananya.


Dibukanya laci nakas yang berada di samping ranjang setelah itu mengeluarkan sebuah kotak berwarna gold dari dalam sana.


Kakinya melangkah cepat ke arah balkon hotel yang menghadap ke arah taman hotel tempat acara tadi berlangsung, dua kursi dan 1 meja bulat yang sudah tertata rapi 2 gelas hot vanilla milk dan dessert kesukaan Rea yaitu tiramisu terhidang diatasnya serta lilin sebagai pelengkap.


Lelaki yang telah memakai piyama tidur berwarna biru itu sesekali mengintip ke arah kamar mandi menunggu istrinya untu keluar daru sana karena tak sabar untuk memberikan sebuah kejutan kecil kepadanya.


Berselang beberapa menit akhirnya Rea keluar dengan piyama tidur yang menutupi tubuhnya. "Sayang?" Matanya berkeliling mencari Varest yang tak nampak berada diantara kedua putranya.


"Sayang?!"


"Sayang, aku disini!" Teriak Varest dari arah balkon yang membuat Rea mengernyit kemudian melihat jam di ponselnya, ngapain suaminya itu di balkon tengah malam begini, fikirnya.


"Rest?"


"Akhirnya kamu selesai juga mandinya." Varest merentangkan tangannya untuk memeluk istrinya.


Rea bergeming, terpaku dengan apa yang dia lihat di belakang Varest. "Sayang, ini?"


"Duduk dulu." Varest menuntun Rea untuk duduk setelahnya dia juga ikut duduk.


Rea terkekeh melihat isi gelasnya. "Susu?"


"Iya, kenapa ketawa?"


"Agak lucu sayang, biasanya acara romantis seperti ini yang di sediakan itu cocktail atau smoothies, tapi kok kamu milihnya susu?"


"Tidak berlaku untuk malam ini, sayang. Cuacanya dingin jadi kamu butuh yang hangat."


Sebuah perhatian kecil yang begitu berharga dan membuat Rea merasa istimewa karenanya.


"Kok diem?. Ayo minum, ini juga ada cake kesukaan mu,"


Rea menyuapkan satu sendok tiramisu ke dalam mulutnya dan langsung mengernyit ketika dia mulai merasakan cakenya.


"Kamu yang buat?" Rea merasa familiar dengan rasa tiramisu yang dia makan, wanita itu tahu betul bagaimana rasa cake kesukaannya jika dibuat oleh suaminya sendiri.


"Iya"


"Kapan?"


"Sebelum resepsi tadi dimulai"


"Kamu sempat?"

__ADS_1


"Buktinya" Varest mengangkat piring yang berisikan tiramisu buatannya untuk memberi tahu sang istri jika dia memang sempat membuat semuanya.


"Dalam rangka apa?" Rea nampak bertanya-tanya dengan kejutan kecil yang dilakukan oleh suaminya karena seingatnya hari ini bukanlah hari spesial mereka berdua selain dari hari spesial untuk kedua sahabatnya.


"Sayang, kamu mungkin lupa ini hari apa dan aku tidak bermaksud untuk mengingatkan kejadiannya."


"Rest?" Lirih Rea saat mengingat dan mengerti maksud dari suaminya


"Bukan kesedihannya tapi hikmahnya, ini adalah malam yang sama saat kamu dan aku pertama kali masuk dalam takdir masing-masing. Pertama kali aku bertemu dengan seorang bayi yang sangat aku sayangi dan aku beri nama Zee." Varest meremas pelan tangan Rea


"Sebuah awal yang membuatku bertindak seperti lelaki yang hanya berfokus pada seorang bayi, dan juga menjadi awal yang membuat aku akhirnya meyakini hati ku bahwa aku sudah menemukan seseorang yang benar-benar bisa membuatku jatuh cinta."


"Rest."


"Sayang, aku minta maaf kalau aku masih banyak kurangnya menjadi seorang suami dan Papa untuk kedua anak kita."


Rea tersenyum lantas membelai pipi suaminya. "No one is perfect, but for me and our children you are perfect"


"Thank you four everything yo do for us, i love you and i'm sure Zee and Zayn love their Papa too."


Tepat setelah Rea menyelesaikan kalimatnya Varest langsung menempelkan bibirnya dengan bibir sang istri. Sebuah tindakan untuk menyalurkan kebahagiaannya malam ini.


perlahan dia melepaskan ciumannya setelah itu membelai pipi dingin Rea. "Sayang, aku punya sesuatu untuk mu?" katanya


"Ada lagi?"


Varest mengangguk lantas mengambil sebuah kotak di belakangnya.


"Apa ini?" tanya Rea penasaran melihat kotak berwarna gold dengan ukuran yang tak kecil.


Rea dengan rasa penasarannya akhirnya membuka kotak itu dan langsung terperangah melihat isi kotak tersebut.


Sebuah bola kaca yang di dalamnya ada beberapa tangkai bunga matahari nampak cantim dengan lampu warna-warni.


"Bunga kesukaan mu, lambang kebahagiaan dan kesetiaan, yang itu artinya kita akan selalu bahagia dan akan selalu bersama."


Hadiah kecil namun sangat bermakna, air mata Rea luruh tak terbendung akan setiap kejutan yang dibuat oleh Varest malam ini. Varest yang melihatnya pun langsung memeluk istrinya erat dalam hati dia berjanji bahwa apapun yang terjadi kebahagiaan istri dan anak-anaknya akan selalu menjadi yang utama.


Memang tak bisa kita ketahui jika sebuah tragedi yang menyesakkan adalah awal jalan takdir bagaimana Tuhan menuliskan kisah akhir yang lebih membahagiakan.


...-END-...


Akhirnya karya pertama ku tamat juga, thanks untuk kalian yang udah baca, dan maaf banyak-banyak selama penulisan masih banyak kekurangannya entah untuk waktu up nya yg kelamaan, typonya yang banyak, bahkan untuk jalan cerita yang mungkin nggak kalian suka.


Aku masih penulis amatiran, jadi mohon untuk supportnya yah, nunggu banget loh aku ada notif pesan dan like dari kalian .. hehe


Sekali lagi thank you so much 😘


jangan lupa mampir lgi di karya ku yang kedua


...♡ANTI ROMANTIC♡...

__ADS_1


__ADS_2