
"Kenapa lengan mu?"
Andi memicing curiga kepada Varest yang sedang memijat lengan kanannya, Varest yang sedang membersihkan meja kerja itu terlihat sesekali meringis saat merasa sakit di lengannya tiba-tiba kambuh lagi.
Varest diam tak menjawab pertanyaan Andi, Papa Zee itu masih dengan cekatan untuk menyelesaikan kerjaannya segera karena perutnya yang sudah sakit menahan lapar. Kerjaan yang menumpuk memaksa dia harus menunda makan siangnya hingga pukul 3 siang.
"Kamu tidak dipukul sama Rea, kan?" Tanya Andi penasaran, pasalnya tadi malam Varest sempat mengabarinya jika rencana mereka itu telah membuat sang sahabat repot karena emosi Rea yang naik turun.
"Yah, dia menyiksaku sampai pagi, sampai-sampai seluruh tubuh ku sakit dibuatnya." Ucap Varest seraya memutar bahunya.
"Dia tidak membiarkan ku bergerak sedikit pun, bahkan untuk menariknya saja dia tidak mau" Ujar Varest kembali yang sontak membuat otak Andi memikirkan yang tidak-tidak.
"Apanya yang ditarik?" Batin Andi bergidik
Nyatanya bukan seperti itu kejadian yang terjadi, Karena Varest harus merelakan tidurnya tidak berkualitas hanya untuk menenangkan seorang istri aneh semalaman.
***Flashback On ***
Varest kembali menarik Rea yang mulai merajuk ke dalam pelukannya, wanita yang sudah menjadi istrinya kurang dari setengah tahun itu masih terus mengomel entah untuk alasan apa, sang istri mengatakan jika dia tidak marah, dia tidak menangis. Tetapi, tingkahnya berbanding terbalik dengan apa yang dia ucapkan.
"Ini aku peluk" Ucap Varest, "Jangan nangis lagi, yah!. aku minta maaf" Varest pasrah mengikuti ke inginan Rea
Semua berawal hanya karena Varest yang diajak ngobrol oleh ibu-ibu di sekolah Zee yang mengakibatkan mood Rea jadi terganggu dan akhirnya berdampak juga dengan Varest. Sebenarnya ada hikmah dibalik kejadian itu, bagaimana Rea yang sudah tak segan memperlihatkan perasaannya yang sesungguhnya. Dia menyukai saat Rea bersikap manja yang mana itu adalah hal yang langka selama pernikahannya.
Tapi, tingkah Rea saat ini begitu berbeda dari biasanya sampai Varest berfikir jika jiwa Rea yang sesungguhnya sedang kesasar dan tak tahu jalan pulang untuk kembali ke tubuh sang istri.
__ADS_1
"Rest.." Panggil Rea yang dijawab gumaman oleh Varest.
Rea mendongak, "Kok mmm saja sih?" Protesnya
Varest sempat menunduk dan melihat mata bening Rea yang menatapnya dengan sendu, Ah, dia tahu apa yang selanjutnya akan terjadi, "Iya Sayang, ada apa. Hmm?" Tanya Varest seraya mengecup sekilas pucuk kepala Rea yang membuat wanita itu tersipu.
Oh, Tuhan. Varest tak sanggup melihat wajah tersipu dari Rea yang terpantul dari cermin lemari. Ingin rasanya dia membawa Rea untuk segera bergumul, situasinya pun cukup mendukung bagaimana diluar sedang gerimis dan sang putra yang menginap di rumah orang tuanya.
"Re, Kamu tidak lagi kedatangan tamu bulanan kan?" Tanya Varest memastikan,
Dia baru menyadari perubahan sikap Rea ini sama seperti yang pernah dikatakan oleh sang mama ketika Varest pernah didiamkan oleh Rea hampir setengah hari dan selalu mengomel saat diganggu oleh Zee, dan ternyata itu terjadi saat sang istri sedang kedatangan tamu. Mama Nimas mengatakan jika seorang wanita biasanya memiliki emosi yang kurang stabil saat dalam keadaan menstruasi dan peran sebagai seorang suami harus benar-benar mengerti akan hal itu.
Rea menggeleng, matanya tertutup sembari menyembunyikan wajahnya ke dada Varest yang malah membuat si empunya deg-degan tak karuan, jantungnya memompa lebih cepat ketika Rea membalas pelukannya erat. Varest tersenyum penuh makna.
Ditelannya salivahnya susah, Varest berdiri dan mengangkat Rea untuk membaringkannya di atas ranjang setelahnya dia pun ikut berbaring di sampingnya, sungguh semesta sedang memihaknya sekarang. semakin senag saja Varest ketika Rea diam dan menerima bagaimana tangan Varest yang sudah bergerilya kemana-mana.
"Ada apa?" Tanya Varest namun tetap membiarkan tangannya ditarik oleh Rea
"Hmm, aku mau tidur disini" Jawab Rea sembari menunjuk lengan Varest
"Tidur?" Varest melongo tak percaya, Adik kecilnya langsung lemas tak bersemangat setelah diberikan harapan palsu. "Re, kita bisa tidur setelah itu" Keluhnya yang sontak menerima tatapan memelas dari sang istri.
"Aku lelah, aku ngantuk, kita bisa melakukannya besok" Bujuk Rea dengan suara yang dibuat halus.
Varest mendesah pasrah, tak mungkin dia memaksa istrinya itu untuk melakukannya dalam keadaan lelah, bukan?
__ADS_1
"Baiklah, ayo kita tidur" Ucap Varest akhirnya.
Rea tersenyum sumringah sambil mendekatkan tubuh polosnya pada Varest, kepalanya mencari posisi nyaman dilengan sang suami dan berhenti tepat dilengan atas dekat dengan ketiak Varest, yang mana Varest malah terkekeh geli dibuatnya. Hal yang tidak pernah dilakukan Rea dengan inisiatif sendiri memeluk suaminya dengan posesif.
Varest semakin dibuat bingung terlebih kalimat terakhir Rea sebelum wanita itu tertidur nyenyak, "Aku suka bau mu, Rest"
Varest tersenyum dan mengeratkan pelukannya, "Sabar yah junior ku, biarkan lawan mu istirahat dulu, besok baru kita hajar" Batinnya sembari terkekeh karena fikirannya sendiri.
Dan begitulah posisi Varest semalaman menjelang subuh, Varest tidak diperbolehkan menarik tangannya karena Rea akan terbangun dan marah jika merasa posisi tidurnya berubah, beruntung Rea masih mengingat janjinya jika akan memberikan hak sang suami setelah bangun.
Flashback Off
Andi merotasikan bola matanya malas, rasa menyesal tiba-tiba dia rasakan karena pertanyaanya tadi yang malah memancing sahabat karibnya itu menceritakan sesuatu yang membuat dia meremang sendiri. Sungguh terlalu, fikirnya.
"Aku lapar" Dengan cepat Andi beranjak dari duduknya hendak keluar terlebih dahulu dari ruangan Varest karena sudah tak tahan dengan cerita Papa Zee itu.
Varest yang melihatnya hanya bisa tertawa mengejek Andi, sebenarnya lelaki itu sangat prihatin dengan apa yang dialami oleh sahabatnya itu, tentang Papanya yang masih dengan giatnya mencarikannya pendamping tapi tak satupun yang bisa dia terima.
Varest mengejar Andi yang sudah turun dari lantai dua, dan tiba-tiba berhenti saat melihat Andi yang berdiri diam memperhatikan seseorang yang duduk di salah satu kursi kafe yang berada diujung dekat pintu masuk. Andin dengan seorang lelaki yang nampak sangat dekat karena senyum yang kian mengembang dari bibir berwarna pink milik gadis itu.
"Ayo kita pergi!" Dirangkulnya bahu Andi dan membuat lelaki bergingsul itu terjingkat kaget.
Dengan cepat Andi mengalihkan tatapannya ketika Andin menoleh padanya, kakinya melangkah cepat melewati Andin, "Mungkin aku akan menyerah dan mengikuti keinginan papa untuk memilih salah satu gadis yang dipilihnya untuk menjadi istriku" Ujarnya datar dengan tatapan dingin mengarah kedepan tanpa melihat Andin yang tersenyum padanya.
Varest hanya bisa membalas senyum Andin meski mata gadis itu terarah lurus kearah sahabatnya. Varest paham jika saat ini Andi pasti sedang marah, apa lagi baru beberapa hari ini Andin seakan memberikan harapan kepada Andi untuk mendekatinya, tapi sekarang dia melihat langsung bagaimana gadis itu terlihat sangat dekat dengan seorang lelaki.
__ADS_1