Sunflower

Sunflower
Ungkapan Hati Varest


__ADS_3

Pembangunan kafe cabang milik Varest yang di berjalan hampir tiga bulan itu akhirnya selesai. Kafe itu adalah cabang pertama yang diberi nama sesuai dengan nama kafe utama yaitu Sunflower. Meski nama bunga itu adalah salah satu alasan yang membuat sang istri pernah terpuruk namun itu juga menjadi salah satu alasan yang menjadi awal pertemuannya.


Bukan hanya persiapan pembukaan kafe yang menjadi fokus utama Varest saat ini namun juga terbagi akan fokusnya mengajari Rea untuk memegang alih kafe yang memang sudah menjadi rencananya jauh hari. Papa Zee itu akan fokus membantu Papa Bayu mengurus perusahaan yang diwariskan kepadanya dari kakeknya.


"Rest, apa kamu yakin aku bisa melakukannya?" Tanya Rea ragu akan keputusan lelaki yang mulai menempati hatinya itu.


"Apa kamu ragu?" Varest balik bertanya, digenggamnya tangan kanan Rea dengan jari telunjuk yang mengelus punggung tangan putih itu.


"Aku yakin dengan keahlianku, hanya saja ini adalah pertama kalinya aku menangani langsung pekerjaan ini, dulu aku hanya sesekali membantu Papa di kantor itu pun juga di bantu oleh kak Kenan" Terang Rea tersenyum getir, entah mengapa menyebut nama Kenan masih menyisakan sesak di dadanya.


Varest melepaskan genggamannya hendak berdiri, "Kamu puya keputusan sendiri untuk menolak, aku tidak akan memaksamu untuk mengerjakan ini jika itu akan membuat mu teringat masa lalu mu." Ujarnya datar, melihat ekspresi sendu dari wajah Rea membuatnya terluka, "Aku minta maaf"


Langkah kakinya gontai menapaki lantai untuk keluar dari ruangannya, hari ini Varest memang sengaja mengajak Rea ke kafe untuk membahas acara pembukaan kafe baru yang diadakan dua hari lagi sekaligus memperkenalkan sang istri sebagai owner baru menggantikannya.


Tapi kini dengan wajah yang tertekuk lusuh dia turun ke kafe untuk meminta karyawannya membuatkan secangkir kopi dan berjalan ke arah sudut ruangan untuk duduk menenangkan diri. Dia menyadari selama apapun sebuah tragedi itu sudah berlalu tapi tak bisa dipungkiri jika kesan itu akan tetap membekas di hati dan fikiran meski tidak akan sedalam saat di awal.


Jika Varest yang menengkan diri diluar, maka berbeda dengan Rea, mama Zee itu nampak menyesal menyadari kesalahannya yang secara tidak langsung membawa ingatan sang suami akan peristiwa lalu, dia sama sekali tak berniat untuk mengungkit, dia hanya reflek menceritakan perannya yang pernah bekerja di bawah bimbingan Kenan yang bahkan waktu itu mereka belum menikah.


"Apa aku turun saja yah?, dia pasti marah padaku" Monolognya, "Lebih baik aku wa saja, mungkin dia hanya ingin ke toilet tadi" Lanjutnya sambil memainkan jarinya diatas layar ponselnya mencari kontak sang suami.


"Halo, Re" Belum sempat Rea mengirimkan pesan Whatsapp, Varest sudah lebih dulu menelponnya, dengan cepat Rea menerima telpon dari suaminya itu.


"I-iya Rest" Jawab Rea menegakkan tubuhnya seakan lelaki itu ada di depannya.


"Apa kamu sudah selesai?, ayo kita pulang, Zee sudah menunggu di rumah"


Rea menurunkan bahunya mendengar ajakan Varest yang terdengar datar, "Aku akan segera turun" jawabnya


"Aku sudah di mobil, kamu langsung kesini saja"


Sedih, tentu itu yang dirasakan Rea saat ini, wanita dengan rambut panjang terurai itu nampak menghela nafas maklum jika suaminya itu mungkin memang dalam keadaan marah buktinya dengan Varest yang meninggalkannya langsung ke mobil tanpa menjemputnya sama seperti biasanya.


"Masuklah!" Titah Varest membuka pintu mobil untuk Rea.

__ADS_1


Lelaki itu nampak masih memasang wajah dingin tanpa melihat ke arah Rea, sedangkan Rea hanya bisa melihat bagaimana Varest dengan tingkah demikian. Rea menunggu sampai mereka sampai di rumah karena tak ingin mengganggu konsentrasi Varest yang menyetir jika terus mengajaknya bicara.


Tak ada obrolan yang terjadi selama hampir 20 menit perjalanan, baik Varest maupun Rea mereka sibuk dengan dunia sendiri, Varest yang fokus dengan jalanan sedangkan Rea fokus dengan menatap Varest yang terdiam meski sesekali suaminya itu menoleh padanya.


"Papaaaa" Seru Zee saat melihat Papanya baru turun dari mobil, selama 5 hari ini Zee ikut dengan Oma dan Opanya yang mengunjugi keluarganya di Shanghai.


"Anak papa kapan nyampenya?" didendongnya Zee yang sudah merentangkan kedua tangannya tak sabar


"Sudah lama-lama" Jawab bocah itu lucu, "Kenapa Papa sama Mama balu pulang?, Ji sudah lindu papa" Zee mengerucutkan bibirnya, tak terima karena sudah menunggu lama.


Varest terkekeh gemas, "Papa minta maaf yah sudah buat Zee nunggu lama" ucapnya yang dijawab anggukan tanda tak mengapa dari bocah bersetelan jumpsuit tersebut.


"Zee cuma rindu Papa yah?" Rea berdiri di samping Varest yang sebelumnya menyalimi kedua orang tuanya.


"Lindu Mama juga dong" Kata Zee


"Sama Mama dulu yah, Papa kan belum salim sama Oma dan Opa." Ujar Rea meraih Zee dalam gendongan Varest.


Varest memberikan Zee kepada Rea dan mendekati kedua mertuanya yang sedari tadi hanya berdiri mengamati interaksi mereka. "Bagaimana kabar Mama sama Papa?" Tanya Varest menyalimi keduanya.


"Papa sakit pinggang lagi?" Rea menimpali, dia nampak khawatir, "Lebih baik kita masuk, Papa bisa istirahat di dalam"


"Tidak, Nak. Papa ingin segera pulang ke rumah, Papa juga merindukan Marko" Tolak Papa Abhi,


Marko adalah salah satu burung peliharaannya yaitu scarlet tanager yang berasal dari Amerika Utara bagian timur, Papa Abhi membelinya karena tertarik dengan warna bulu dan kicauan burung itu saat perjalanan bisnis beberapa bulan lalu.


Tak ada yang bisa menolak jika orang tua satu itu sudah berkata tidak, maka setelah kepulangan Mama Jenny dan Papa Abhi mereka bertiga masuk ke dalam rumah dengan Zee yang menggenggam kedua tangan orang tuanya.


*


"Zee sudah tidur?"


Waktu berjalan begitu cepat, Bocah yang baru beberapa jam lalu masih semangat menceritakan liburannya itu akhirnya tepar di ranjang milik orang tuanya.

__ADS_1


"Iya" jawab Rea pelan,


Saat ini mereka berada di balkon tempat favorit Rea dan Zee dan juga menjadi kebiasaan Varest yang selalu menemani keduanya sebelum tidur. "Rest, apa kamu marah pada ku?"


"Marah?, kenapa aku harus marah pada mu?"


"Kamu mendiami ku sejak di kafe tadi" terang Rea, pasalnya semenjak kejadian tadi Varest selalu menghindarinya untuk berbicara banyak.


"Tidurlah, ini sudah larut" Varest tak menjawab, lelaki itu beranjak meninggalkan Rea yang berdiri di belakangnya.


Rea terpaku ini adalah pertama kalinya Varest mengabaikannya seperti ini, dan itu membuatnya merasa bersalah.


"Rest, aku minta maaf, aku tidak ada maksud menyinggung mu" Dipeluknya Varest dari belakang dengan wajah yang dia hadapkan kesamping.


Varest menghela nafasnya, sebenarnya pun dia tidak tega untuk mendiamkan Rea, dia hanya berusaha untuk memberi ruang kepada sang istri untuk memilih keputusan tanpa harus teringat masa lalu.


Dilepasnya tangan Rea yang melingkar diperutnya dan setelah itu berbalik menghadap ke Rea, "Aku tidak marah, aku hanya memberimu waktu untuk berfikir, selama ini aku berusaha untuk menghapus bayangan masa lalu itu difikiran mu, aku berusaha memenuhi keinginan mu yang aku fikir itu adalah salah satu cara kamu bisa melihat ku, cara untuk kamu benar-benar memberikan ruang buat aku disini." Tukas Varest menyentuh kepala dan dada kiri Rea.


"Tapi harapanku sepertinya terlalu tinggi, mungkin waktunya masih terlalu singkat dan aku rasa butuh waktu yang lama untuk aku mendapatkan itu dari kamu, aku terlalu naif menganggap kasih sayang dan cinta yang aku berikan pada mu dan Zee itu sudah cukup untuk kamu terbebas dari masa lalu dan cinta pertama mu, aku mengakui kesalahan ku dimasa lalu. Tap jujur Re, aku juga sakit setiap kali kamu harus menyebut nama Kenan dengan wajah sedih. Itu membuat ku merasa gagal. Re" Terang Varest memegang kedua pundak Rea, matanya memerah menahan tangis, sebuah beban yang selama ini dia simpan akhirnya bisa dia ucapkan dengan jelas di depan wanita yang dicintainya


Rea tertegun ikut merasakan sakit melihat Varest yang terlihat putus asa, tangannya terangkat mengusap kedua pipi Varest pelan.


"Berapa lama lagi aku harus berusaha, Re"


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2