
Matahari dengan gagahnya menampakkan cahaya teriknya pada permukaan bumi, meski demikian cuaca sedikit bertoleransi hari ini, jika selama beberapa hari belakangan panas saja yang menemani kegiatan maka berbeda dengan sekarang angin berhempus pelan memberi kesejukan ditengah terik yang menyengat.
Di depan pintu balkon kamar, Rea dan Zee sedang asiknya mengerjakan tugas yang diberikan kepada Zee dari playgroupnya, tangan Zee dengan lincahnya menggambar asal pada drawing book bersampul dinosaurus yang didampingi oleh Rea.
Bocah itu menggerutu kecil saat pensil yang dia pakai patah beberapa kali.
"Bukan begitu caranya Zee, pensilnya jangan terlalu ditekan" tangannya menggerakkan tanggan Zee yang memegang pensil.
"Seperti ini" katanya dengan tangan masih membantu Zee untuk menggerakkan pensil untuk menggambar
Bocah pintar itu mengangguk paham dan melepaskan tangannya dari sang Mama, Zee nampak serius mempraktekkan apa yang diajari oleh Mamanya tangannya mulai menggambar mengikuti titik pada sketsa gambar sampai suara deringan ponsel sedikit mengganggunya.
"Ma, telponnya bikin Ji tidak kongsen telasi" gerutu bocah itu.
Rea terkekeh, tak langsung mengangkat panggilan di ponselnya, "Oh, Zee mau sambal terasi yah?" godanya
"Bukan sambal telasi, tapi kong-sen-te-la-si" Ucap Zee menekan pada kata yang menurutnya tak dimengerti oleh sang Mama.
"Ok-ok. Mama paham konsentrasi Zee terganggu yah?"
"Ho'o"
"Yah udah, Mama angkat telponnya dulu yah" Rea berlari pelan menuju nakas dimana ponselnya berada dan berbunyi sedari tadi panggilan dari rumah orang tuanya.
Rea nampak cemas mendapati kabar dari pekerja di rumah orang tuanya jika Papa Abhi tiba-tiba pingsan dan dilarikan ke Rumah Sakit, segera dia menelpon Mama Nimas yang katanya ingin berkunjung dan menanyakan keberadaan mertuanya itu.
Suara bel pada pintu utama terdengar, Mama Nimas datang di waktu yang tepat segera dia menemui Rea yang sempat menghubunginya tadi saat baru saja turun dari mobil.
"Ada apa, Nak?" tanya Mama Nimas mendekati Rea yang tengah mengambil tasnya asal di dalam lemari.
"Ma, Rea titip Zee yah, aku harus ke Rumah Sakit sekarang, Papa tadi tiba-tiba pingsan dan dilarikan kesana" jelas Rea cepat sambil melangkah mendatangi Zee yang melihatnya bingung.
"Sayang, baik-baik sama Nenek yah, Mama harus lihat Opa di Rumah Sakit, Mama usahakan cepat pulang. Ok"
Zee mengangguk, setelahnya Rea menyalimi Mama Nimas dan segera keluar rumah dengan diantar oleh supir yang sudah di pekerjakan oleh Varest untuk mengantar Rea dan Zee.
"Nek, Opa sakit apa?, kok bawa lumah sakit?" tanya Zee
__ADS_1
"Opa tidak sakit kok, dia cuma temuin temannya disana" jawab Mama Nimas seraya merapikan tas Varest yang tak sengaja dijatuhkan Rea saat menarik tasnya tadi.
Mama Nimas mengerutkan keningnya ketika melihat amplop putih yang menyembul dari dalam tas Varest yang ternyata tak tertutup dengan penuh, amplop dengan kop surat salah satu Rumah Sakit terbesar di kotanya. Rasa penasarannya tiba-tiba muncul terlebih selama ini tak ada kabar jika salah satu keluarganya dalam keadaan tak sehat.
Satu yang menjadi harapan Mama Nimas sebuah kabar baik yang menyangkut hubungan Varest dan juga Rea terlebih dia mengetahui jika hubungan anak dan menantunya belakangan lebih baik dari sebelumnya.
Dia menoleh sekikas pada Zee yang ternyata masih fokus melanjutkan gembarnya setelahnya berjalan menuju rangang untuk duduk dipinggirnya.
-
-
-
Pukul tiga siang, Varest dan Andi baru saja sampai di parkiran kafe setelah makan siang yang bisa dikatakan terlambat di restoran langganan mereka.
Andi yang lebih dulu masuk ke kafe berbelok ke arah meja kasir berniat untuk menanyakan sesuatu.
"Apa Andin sudah datang?" tanyanya pada salah satu kasir yang ber-nametag Lala
"Sudah Pak, sekitar 5 menit yang lalu" jawab gadis itu
"Diantar"
Andi nampak tak tenang mendengar jawaban dari karyawan sahabatnya itu, segera dia meninggalkan meja kasir dan menuju ruang karyawan yang tempo hari dia datangi. Sebelum Varest dan Andi meninggalkan kafe tadi Andin sempat mendatangi Varest untuk meminta izin mengambil ponselnya yang ketinggalan di rumahnya sekalian makan siang diluar.
Lelaki itu membuka pintu dan nampak seseorang yang dicarinya sedang memakai liptint dalam posisi membelakanginya. Gadis itu berbalik dan terkejut ketika lelaki di depannya tiba-tiba saja mendekatinya dan memutar badannya ke kiri dan ke kanan.
"Apa yang Anda lakukan, Pak?" tanya Andin merasa heran
"Apa kamu tidak apa-apa?" Andi tak menjawab, wajahnya terlihat khawatir dan tak memperdulikan rasa heran gadis di depannya.
Andin mengangguk ragu, matanya lekat memperthatikan wajah khawatir Andi, "Aku tidak apa-apa" katanya, "Bisakah anda melepaskan saya?" tubuhnya menggeliat merasa risih dengan pegangan Andi pada pundaknya
"Ah, tentu, maafkan aku" Andi tersadar, merasa konyol dengan tingkahnya sendiri.
Andi hendak keluar dari ruangan tapi sebelum itu dia kembali berucap suatu kalimat yang mampu membuat Andin semakin bingung dibuatnya.
__ADS_1
"Lain kali, kamu tidak perlu makan diluar saat sedang bekerja, aku akan membawakan makan siang setiap hari untuk mu"
Gadis dengan rambut diikat tinggi itu mematung, matanya berkedip tiga kali hingga suara pintu ditutup menyadarkannya.
"Apa dia menyukai ku?, Astaga ini modus paling ekstrim menurut ku, bagaimana kalau aku benar-benar jatuh dalam permainannya" monolognya menggeleng berkali-kali.
Varest baru saja menginjakkan kaki pada tangga saat melihat Andi keluar dari ruangan karyawan, dia mengangkat sebelah alisnya seraya tersenyum tipis, sangat bisa dibaca bahwa sahabatnya itu menyukai karyawannya.
"Andin itu suka tantangan, jangan terlalu ditampakkan kalau kamu menyukainya, dia akan risih" sarkasnya
Andi mencibir tapi tetap mengikuti Varest menuju lantai dua dimana ruangannya berada.
"Apa terlalu nampak?" tanyanya mensejajarkan langkahnya dengan Varest.
"Jadi kamu benar-benr menyukainya?" goda Varest, diputarnya knop pintu dan membukanya.
"Jangan pura-pura tidak tahu, kamu tentu bisa membaca tindakan ku"
Varest terkekeh, "Ah, aku hanya tidak menyangka jika salah satu karyawan ku yang akan kamu pilih, aku akan membantu mu tapi kamu harus menceritakan sejak kapan kamu menyukainya"
Andi nampak menimbang, lelaki bersurai coklat pekat itu tersenyum tipis dan setelahnya mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Varest tanda setuju.
Kesepakatan dari kedua lelaki itu sepertinya tak bisa dilakukan untuk sekarang karena seseorang dari tim pembangunan cabang Kafe milik Varest tiba-tiba datang untuk melaporkan perkembangan pembangunan hingga baru selesai menjelang pukul 5 sore.
"Tidak terasa cabang ketiga mu akan selesai sebentar lagi" Kata Andi bangga
"Iya, ini adalah salah satu inves untuk masa depan Zee nantinya, aku akan segera beralih ke perusahaan kakek setelah ini selesai"
Andi mengangguk setuju, dia sangat mengetahui bagaimana Varest sangat mencintai Zee. Bagaimana dia mempertaruhkan 3 tahun ini hanya untuk merawat dan membesarkan anak itu.
"Ndi, tolong angkat panggilannya" pinta Varest dari balik meja kerjanya mendengar dering pada ponselnya.
"Dari Mama" ucap Andi
"Angkat saja dan Loudspeaker"
Andi mengikuti arahan Varest cepat.
__ADS_1
"Cepatlah pulang ke rumah mu Rest, Mama ingin menanyakan sesuatu padamu , penting"