
Penghujung acara akhirnya tiba, musik classic mulai terdengar merdu di telinga. Kedua pengantin selaku raja dan ratu hari ini telah berdiri di tengah para tamu, Andin nampak anggun mengenakan gaun berwarna peach dengan bertabur batu Swarovski sedangkan Andi terlihat gagah mengenakan jas berwarna abu-abu serta dasi kupu-kupu.
Andin mengedarkan pandangannya kala lampu dimatikan dan hanya menyisakan lampu yang menyorotnya dan juga sang suami. Wanita yang baru beberapa jam resmi menjadi seorang istri itu terpaku ketika melihat Andi telah bersimpuh di depannya dengan tangan kanan yang terulur.
Sebuah kejutan yang begitu berarti saat para tamu berdiri mengelilingi mereka bersama dengan pasangan masing-masing sembari mengikuti apa yang dilakukan oleh suaminya bersimpuh di depan pasangan mereka.
Sebuah lagu dari Ellie Goulding – How long will I love you berputar mengiringi gerakan tarian yang mulai dilakukan oleh para sahabat, tak ada kata yang bisa Andin katakan, bibirnya kelu matanyapun mengkristal tanda terharu dengan apa yang dia saksikan saat ini.
"Your wedding dream is like a Cinderella princess" Satu rentetan kata Andi bisikkan tepat di telinga Andin hingga wanita yang menjadi wanita paling bahagia malam itu menoleh dengan bibir melengkung ke atas.
"Kenapa menangis?"
Andin menggeleng lirih kemudian memeluk Andi erat. "And you're my prince charming," balasnya berbisik
Lelaki yang tengah memeluk istrinya itu tersenyum lebar sembari air mata harunyapun kian menetes. Andi melerai pelukannya kembali meraih tangan sang istri dan meletakkannya di atas pundaknya.
"Aku ingin melihat istri ku tersenyum." ucapnya dan diangguki oleh Andin
"Wanna dance with me?" Kembali Andin mengangguk, kepalanya dia tempelkan di dada Andi memberikan kuasa penuh pada suaminya itu untuk menuntunnya memulai gerakan.
Tanpa sadar Andin menutup matanya terbawa akan suasana yang dirangkai seromantis mungkin oleh suaminya, untuk saat ini dia ingin menghilangkan cerita cinta seorang putri Cinderella yang pernah dia harapkan memiliki kisah yang sama dengannya karena kenyataannya saat ini dia sedang berharap jika malam ini tak akan pernah tiba waktu pukul 12.00 malam, agar kebahagiaanya tak berakhir. Dia telah menemukan pangerannya.
"Anda tidak ikut berdansa, Nona?"
Wanita dengan dress berwarna baby yellow di antara para tamu itu menoleh kemudian tersenyum mendapati seorang lelaki yang belum lama ini dia kenal dekat menyapanya.
"Mungkinkah aku bisa mengajak Zee untuk berdansa dengan ku?" Dia terkekeh dengan jawaban sekaligus pertanyaannya sendiri.
"Tapi sepertinya anda juga tak memiliki kesempatan untuk mengajak bocah itu berdansa." Kanta menunjuk Zee yang tengah berjoget heboh di tengah taman dengan dagunya
"Aku hanya bergurau, apa menurut mu aku terlihat seperti seseorang yang sulit untuk mendapatkan seorang teman dansa?"
"Tentu bukan, dilihat dari segi apapun anda adalah salah satu orang yang tidak akan mendapatkan penolakan."
__ADS_1
"C'mon Kanta, kamu terlalu formal, ini diluar dari pekerjaan kamu tidak harus seformal itu denganku."
"Bukankah tidak sopan jik-"
"Sopan jika aku yang meminta, santailah sedikit. Saat ini kamu tidak berada di depan puluhan dokumen yang harus membuat mu bersikap profesional," gurau Rani
"Dan juga." Rani menghadapkan tubuhnya pada Kanta kemudian menelengkan kepalanya melihat kumpulan lelaki yang berada di belakang Kanta. "Disana banyak lelaki yang bisa aku ajak berdansa," ucapnya, setelah itu kembali membalik tubuhnya melihat kedua sahabatnya yang tengah berdansa
"Yah aku tahu, kamu memang tidak akan sesulit itu, terus kenapa kamu tidak memilih salah satu dari mereka?" Kanta berucap sesuai dengan keinginan Rani seraya melirik wanita itu menunggu jawaban.
Rani diam dengan ujung bibir kanan yang tertarik tipis. "Bukan sulit untuk mendapatkan teman dansa, hanya saja fikiran dan hati tidak satu jalan, aku tidak nyaman untuk itu dan itu cukup menjadi alasan kenapa aku lebih memilih menikmati kebahagiaan sahabat ku dari sini."
Lelaki yang telah bekerja lama dengan Varest itu tersenyum setelahnya berjalan kedepan Rani dan berhenti di depannya menghalangi pandangan wanita cantik itu yang tengah fokus memperhatikan Andi dan Andin.
Rani menukikkan alisnya bingung saat melihat Kanta fokus menatapnya. "What?" Wanita yang pernah menyukai Varest itu salah tingkah dengan tatapan Kanta.
"Apa kamu merasa tidak nyaman dengan ku?" Kanta segera berucap saat Rani hendak melangkahkan kakinya untuk pergi
"Bu-bukan begitu, aku han-"
Jika saat pertama kali bertemu dengan Rani - Kanta memiliki kesan yang buruk pada wanita itu karena usahanya yang selalu ingin mengambil hati bosnya, maka berbeda dengan sekarang, Kanta menyukai Rani setelah dia sedikit demi sedikit mengetahui kepribadian wanita yang menjadi sahabat dari istri bosnya itu.
Kanta menyadari bahwa Rani tak sejahat dalam cerita series perebut suami orang karena kenyataanya wanita yang memiliki bibir sexy itu adalah seorang wanita yang sangat baik dan penyayang, terlihat dari cara dia yang memperlakukan Zee dan Zayn dengan baik dan sangat keibuan.
"Kanta, i-ini bukan tentang aku yang nyaman atau tidak nyaman lagi."
"Lalu?" Lelaki itu mengangkat sebelah alisnya
"A-aku.." Menoleh kiri dan kanan, degup jantung Rani berpacu kencang kala tatapan lelaki di depannya kian menuntut. "Kamu bisa mengajak yang la-"
"Kanta." Lirihnya ketika melihat Kanta menurunkan tangannya.
"Sebenarnya aku sudah menduga hasilnya, tapi aku tetap bersikeras untuk mencoba dan mengetahui hasil tanpa dugaan."
__ADS_1
Mendengar kalimat Kanta membuat Rani menjadi tak enak hati, dengan susah wanita itu membasahi tenggorokannya yang tiba-tiba tercekat.
"Sama seperti alasan mu tadi, nyaman adalah faktor utama yang membuat aku tak mau berdansa dengan salah satu wanita diacara ini dan memilih memperhatikan satu wanita lain yang dengan pesonanya berdiri diam disini."
Kanta mengedikkan kedua bahunya sambil tersenyum smirk. "Tapi ternyata ekspektasiku terlalu tinggi, aku terlalu berharap."
Rani tercengang dengan ucapan Kanta saat ini, seorang lelaki dengan kepribadian serius saat berada dalam lingkup pekerjaan mengatakan jika dia memperhatikannya? Bukannya ini konyol?, mereka bahkan tak saling mengenal sejauh itu, terus bagaimana bisa lelaki itu mengatakan masalah harapan?.
Membalikkan tubuhnya kemudian melangkah hendak berlalu dari hadapan Rani, nampak jelas bahwa Kanta merasa kecewa dengan penolakan halus dari seorang wanita yang entah kapan bisa merebut hatinya, memang lucu, wanita yang bahkan bisa dia temui hanya jika ada pertemuan dengan bos nya itu malah menjadi wanita yang membuatnya berani mengungkapkan perasaannya padahal sangat jelas perbedaan mereka.
Rani adalah seorang wanita berkelas dari keluarga terpandang sedangkan Kanta hanyalah seorang karyawan yang beruntung menjadi seseorang yang dipercaya oleh keluarga Varest karena kecerdasannya.
Baru tiga langkah dia menapakkan kakinya namun harus terhenti saat telinganya menangkap pertanyaan dari Rani. "Apa kamu menyukai ku?" Reflek Kanta berbalik seraya tersenyum tipis.
"Aku tidak pernah bercanda untuk urusan seperti ini, dan aku rasa kamu mampu mengartikan dengan baik setiap kalimat ku."
"Kamu mungkin sudah tahu seperti apa aku dari Varest, dan jelas kamu juga sudah tahu bahwa aku bukan hanya ingin menerima seseorang yang sekedar ingin mencoba."
"Aku tidak ingin mencoba"
Rani mengernyit, "Apa maksud mu?"
"Prinsip kita sama, aku tidak ingin mencoba tapi ingin serius, jika seseorang yang aku pilih bisa menerima segala yang menjadi kekuranganku" Arkan mengangkat kedua bahunya
"Aku tidak paham, sebenarnya apa maksud mu?, apa kamu merasa aku tidak akan menerima mu karena kamu yang hanya karena status kita berbeda?"
"Aku tidak seburuk itu menilai seseorang, aku bisa menerima siapapun jika hati aku sudah berkata iya."
"Jadi, apa hati mu sekarang berkata 'IYA'?"
"Iya" Tepat sasaran, sebuah rencana baik dan matang akhirnya berhasil. Kanta tersenyum lebar mendapati Rani yang langsung menutup mulut karena keceplosan.
"Baiklah, ayo kita berdansa CALON ISTRI KU."
__ADS_1
Kanta meraih tangan Rani kemudian membawa wanita yang dia cap sebagai calon istrinya itu ke tempat dansa diantara pengantin dan para sahabat.