Sunflower

Sunflower
Bingkisan


__ADS_3

Seorang anak kecil kira-kira berumur tujuh tahun tengan duduk dengan eskrim ditangannya. Menikmati pemandangan danau yang sudah lama tidak ia kunjungi. Karena tempat ini jauh dari rumahnya dan hanya waktu liburan sekolah dirinya akan kesini. Kampung halaman papa-nya.


Hari ini udara sangat sejuk, masih pukul sembilan pagi. Mark, anak itu bernama Mark. Tidak ada hal yang lebih menenangkan selain menatap danau yang tenang.


“Hei.”


Mark menatap sumber suara. Disana ada kakek-kakek kurang lebih seumuran dengan kakeknya, tengah menatapnya dengan tersenyum.


Mark hanya merespon dengan mengangkat sebelah alisnya. Kakek itu tersenyum menanggapi respon Mark.


“Tidak takut denganku?” kakek itu duduk disebelah Mark yang masih asik dengan es krimnya. “Sepertinya tidak.”


“Ada perlu apa anda menemui saya?” tanya Mark.


“Seukuran bocah sepertimu cara bicaranya cukup unik.” Balas kakek itu.


“Saya tidak mengernal anda.”


Kakek itu tersenyum lalu mengeluarkan sesuatu dari dalam jasnya. “Ini cucu ku cantik bukan?”


Mark melirik sekilas foto yang ditampilkan kakek tadi. Dia tidak berminat.


“Lalu?”


“Kau tidak tertarik dengan cucu ku?” tanya kakek pada Mark.


Mark memandang foto itu lama lalu menggeleng.


“Wah sayang sekali padahal cucu ku cantik.”


“Anda mau menjodohkan cucu anda dengan saya?”


Kakek itu sedikit terkejut. “Kau memang bocah cerdas.”


Mark mendengus. “Saya masih berumur tujuh tahun kalau anda tidak tau.”


“Tentu saja aku tau.” Kakek itu menatap Mark. “Jaga cucu ku.”


Mark mengangkat sebelas aslinya. “Saya tidak berminat, kenapa tidak menyusuh orang-orang yang ada dibelakang sana.”


Kakek itu mengikuti arah pandang Mark lalu tersenyum. “Pilih salah satu dari mereka.”


“Sudah saya bilang saya tidak berminat.”


“Sungguh?” kakek itu memastikan. “Sayang sekali padahal cucu ku cantik dan menggemaskan.” Ujarnya hendak memasukan kembali foto cucunya pada jas.


Namun tangannya terhenti, “Kenapa? Berubah pikiran?”


“Saya pilih dia.” Tunjuk Mark pada salah satu pria berjas hitam dibelakang sana.


Kakek itu mengangguk tersenyum. “Pilihan yang bagus.”


***


“Agatha!”


Aku terlonjar kaget mendengar suara itu. Lia berlari kearahku dengan sekuat tenaga, sebenarnya gadis itu sedang dikejar siapa?


“Kenapa sih lari-lari? Dikejar mantan?”


“Gue gak punya mantan.” Sahut Lia.


“Ah masa.” Godaku.

__ADS_1


“Lo diem apa gue tampol.”


“Takutnyaaa.” Godaku lebih kencang. Wajah Lia sudah memerah. Sebenarnya gadis itu punya satu mantan dan sampai sekarang belum move on. “Belum move on kan lo.”


Lia mencibir. “Kalo udah tau diem aja kampret.”


Tawa ku pecah, menggoda Lia memang sangat menyenangkan.


“Btw, nanti jam olahraga ada praktek lari.” Kata Lia, aku menunggu kelanjutan kalimat itu. “Lo gimana?”


“Gue gak ikutlah.” Balasku. “Gak dapet nilai gak masalah daripada ditendang ke korea gue sama kakek.”


Lia terkekeh. “Gue suka gaya lo. Lagian para guru juga pasti udah tau.”


Aku mengangguk membenarkan, tidak mungkin para guru tidak tau. Pasti setelah insiden aku pingsan setelah berlari waktu telat dulu itu, kakek sudah turun tangan.


Pasalnya setelah kejadian itu setiap aku membuat kesalahan hukumanku tidak pernah berlari. Itu sangat menguntungkan.


“Lo udah minum obat?” bisik Lia.


Aku memantung berusaha tidak menatap mata Lia. “Udah.”


Mata Lia memincing curiga. “Masa?”


Aku mengangguk dengan cepat. “Bener.”


“Gak ya—“


“Agatha!”


Aku menatap sumber suara, kenapa pagi ini banyak yang meneriaki namaku. “Kenapa?”


Sata datang dengan kantong ditangan kanannya. “Nih ada titipan buat lo.”


“Mark.”


“Hah?”


“Dari Mark harus dimakan katanya. Udah gue mau ke kelas susah ngomong sama orang gak jelas.” Ujarnya berjalan cepat menuju kelas.


Aku dan Lia saling pandang. “Dia kenapa?”


Lia mengangkat bahu tidak tau. “Apa isinya?”


Aku membuka bingkisan itu. “Makanan sama buah.”


“Itu aman buat dimakan?” tanya Lia sedikit curiga.


“Aman kok tenang aja.” Balasku.


“Kalo ada racunnya gimana?”


“Yaudah berarti gue nanti mati.”


“Enteng banget tuh mulut ngomong.” Datar Lia. Aku terkekeh.


“Tenang aja ini aman kok.”


Lia mengangguk. “Sejak kapan lo deket sama Mark?”


Aku sedikit berfikir. “Emang kita deket?”


“Kalo gak deket gak mungkin dia bawain lo bekal kayak gini, anter jemput lo sekolah, selalu ada disaat lo kesusahan.” Jelas Lia.

__ADS_1


Aku menyadari itu semua. Mark akan datang ketika aku dalam kondisi darurat. “Gue juga gak tau, tapi gue udah gak kontakan sama Mark.”


“Padahal sejak pertama kali lo pindah kesini gue udah peringatin jangan deket-deket Mark and the geng.” Lia mendengus kesal. “Sekarang malah lo deket sama Mark. Emang ya kalo sesuatu dilarang itu pasti kejadian.”


Aku tersenyum. “Tenang semua aman terkendali kok.”


“Terkendali apanya terakhir lo hampir mati ditangan cabe lampu merah, siapa namanya lupa gue.” Celoteh Lia.


“Gue juga lupa siapa namanya. Tapi itu udah lama lupain aja.”


Lia mencibir. “Enteng banget dilupain.”


Aku tersenyum menggandeng Lia. “Kalo gue di usik kan ada lo sang pahlawan gue.”


Lia tertawa. “Superman Lia.”


Kami berdua tertawa bersama disepanjang koridor. Sejak aku pindah ke sekolah ini memang hanya Lia temanku. Yang lain hanya sekedar kenal sementara dengan Lia aku selalu menempel.


***


“Udah lo kasih?” tanya Mark pada Sata yang baru datang dengan baju olahraganya.


Sata mengangguk. “Pesanan sesuai alamat.”


“Kenapa gak lo kasih sendiri aja sih.” Tanya Jeno sambil memakan kacang.


“Ada Sata sang kurir.” Balas Mark.


“Syalan lo.” Sata tersenyum terpaksa.


“Ngapain lo sini?” tanya Jeno. “Bukannya sekarang praktek ya kelas lo?”


Sata menyugar rambutnya ke belakang. “Udah selesai dong ya kali siswa berbakat kayak gue belum.”


Jeno mendengus. “Iya yang berbakat iya.”


“Agatha?” tanya Mark.


Sata menyengit bingung. “Kenapa Agatha?”


“Dia ikut praktek?” Mark menatap serius Sata.


Sata mengangguk. “Ikut ta—“


“APA?” pekik Mark.


Sata dan Jeno terlonjat kaget, mengelus dada masing-masing. “Kenapa sih?”


“Dimana dia sekarang?” tanya Mark dengan tegas.


Merasa ada hawa tidak enak Sata menarik Mark agar duduk kembali. “Tenang dulu Agatha gapapa tadi setelah praktek.”


Mark sedikit lega. “Kok bisa dia ikut praktek?”


“Guru olahraga tadi masih baru, gue udah bilang kalo Agatha gak ikut bisa lari tapi tuh guru ngeyel maksa Agatha biar tetep ikut praktek.” Jelas Sata, sebenarnya dia sedikit takut menjelaskan ini semua tapi cepat atau lambat pasti Mark akan mendengar semua.


Rahang Mark mengeras. “Dimana sekarang Agatha?”


“Aman kok sama Lia, tadi juga di praktek bareng sama gue.” Jelas Sata lagi.


“Udah jangan khawatir Agatha gapapa.” Kata Jeno sedikit terkekeh. “Baru kali ini gue liat lo sekhawatir ini Mark.”


Sata mengangguk setuju karena selama mengenak Mark, cowok itu terkesan tidak peduli dengan bangsa perempuan. Hanya dengan Agatha, Mark menjadi orang yang berbeda.

__ADS_1


__ADS_2