Sunflower

Sunflower
kita akhiri saja


__ADS_3

"Ah i-iya"


Varest memutar tubuhnya untuk pergi dari dapur. Tetapi terhenti ketika tangan mungil Zee menahannya, bocah itu dengan cepat membersihkan mainan yang berserakan akibat ulahnya tadi dan kembali menggandeng tangan sang Papa setelahnya.


"Zee mau kemana?" Tanya Rea yang bingung melihat tingkah putranya itu


"Ji mau mandi sama Papa, Ma" jawab Zee


"Tapi kan Zee tadi sudah mandi"


"Ji mau mandi lagi, badannya Ji bau gala-gala main sama lobot sama monstel" itu hanyalah alasan dari bocah pintar bernama Zee, nyatanya dia tak melakukan aktifitas yang bisa menyebabkan keringat bercucuran sampai detik ini.


Rea mendesah pelan, bocah itu memang sangat menyukai air dan itupun juga berlaku untuk mandi, Zee akan mandi tiga kali sehari dalam waktu yang lama, maka tak salah Rea selalu menyiapkan perlengkapan agar bocah itu tak mengalami masuk angin.


Dia mendekati Zee dan berjongkok di depannya, "Yah sudah, biar Mama saja yang mandikan Zee" ucapnya


"Belalti Mama juga mandikan Papa, yah"


Sontak Rea dan Varest saling berpandangan dengan mata yang membulat, Varest berdehem mengalihkan tatapannya salah tingkah begitupun dengan Rea, wanita itu langsung berdiri.


"Pa-Papa kan sudah besar Zee, sudah bisa mandi sendiri" elaknya membuang muka menghindari tatapan dari Varest.


"I-iya Zee, Papa bisa mandi sendiri" Timpal Varest salah tingkah, tangannya menggaruk tengkuknya yang tak gatal


Terlihat Zee mengerutkan keningnya dalam seakan berusahan mengingat sesuatu sedangkan bibir Rea sudah terkunci rapat dan tak bisa berkata-kata saat Bocah lucu itu kembali bersuara.


"Papa seling bilang kalau Ji sudah besal tapi halus selalu mandiin Ji."


Ok, tak ada lagi alasan yang bisa Rea ucapkan, matanya beralih pada Varest dengan sendu memberi isyarat agar bisa menyelamatkannya dari keingin tahuan sang anak.


Varest yang mengerti maksud dari Rea pun langsung mengangguk seraya berjalan menuju meja berniat untuk mengambil minum, tenggorokannya sedari tadi memang berasa kering dan dia membutuhkan seteguk air untuk membasahinya.

__ADS_1


"Baiklah Zee, ayo kita mandi bersama." Putusnya sambil meneguk air dingin ditangannya


"Holee, ayo kita cepat mandi Pa, mainin bulung-bulung" Seru bocah itu senang


"Uhuk..uhuk" Varest sontak tersedak mendengar kalimat Zee. Sedangkan Rea reflek membelalakkan matanya


"Bu-burung apa?" Tanya Rea


Varest menggeleng sambil tangannya melambai di depan dada, dia sama sekali tidak tahu burung apa yang dimaskud oleh bocah pintar tersebut, selama ini dia tidak pernah melakukan aneh-aneh di depan sang anak terlebih saat mandi bersama.


"Itu loh Pa, yang Papa kasih tau Ji ada belikan bulung-bulung yang bisa belenang dan temani Ji mandi." Jelas Zee menarik ujung kemeja Varest.


Varest tersenyum lega mulai paham mengenai maksud dari burung yang disebut oleh Zee. Dia mengangkat Zee dan menggendongnya seraya mengacak surai lembut bocah yang hampir membuat Mamanya itu salah paham.


"Burung yang dimaksud Zee itu adalah mainan bebek karet, tiga hari lalu aku ke toko mainan untuk membelikan hadiah untuk salah satu anak karyawan ku yang ulang tahun jadi sekalian membelikan Zee mainan itu" Jelasnya


Nampak Rea menghembuskan nafasnya pelan, dia mengangguk setelahnya langsung berbalik menggigit bibirnya gemas merutuki pemikiran yang sempat terlintas diotaknya.


Varest melangkah pergi dia pun juga masih malu dengan kejadian tadi. Sambil menciumi perut Zee dan membuat anak itu tergelak Varest menaiki tangga, rasa bahagia membuncah pada dadanya tak sedikitpun dia membayangkan jika dua orang yang belakangan membuatnya menjadi orang lain itu hari ada di depan matanya.


Kebahagiaan yang dirasakan oleh Varest malam ini seakan terus bertambah ketika dia kembali ke dapur dan melihat hidangan makan malam yang tertata di atas meja, semua makanan adalah menu kesukaannya dan Varest hanya berharap bahwa yang dilihatnya hari ini bukanlah sebuah mimpi.


-


"Ma, nanti Ji boleh bobo sama Papa sama Mama yah" Ucap Zee


Keluarga kecil itu baru saja selesai makan malam dan bersiap untuk ke ruang keluarga, jam pada dinding masih menunjuk waktu yang masih awal untuk tidur tetapi Zee sudah menyampaikan keinginannya lebih dulu.


"Emang Zee takut tidur sendiri yah?" goda Rea pada putranya tersebut


"Ji tidak takut, tapi Ji juga mau bobo baleng Papa, Ji juga lindu Papa bukan Mama aja" Balas Zee telak

__ADS_1


Varest yang berada dibelakang ibu dan anak itu terlihat tersenyum simpul, niat Rea yang ingin menggoda sang anak malah berbalik kepadanya. Sejak kapan putranya ini pandai membalikkan keadaan. Fikirnya.


"Boleh kan, Pa?" Zee membalikkan badannya menghadap kepada Papanya meminta persetujuan.


Varest mengangguk pelan sembari memegang pucuk kepala Zee lembut. "Tentu saja boleh, Papa juga rindu sama Zee" katanya


Dia melirik pada Rea yang berdiri di sebelahnya yang nampak pun ikut tersenyum.


Sebuah film animasi terputar pada layar berukuran 60 inch dengan durasi yang baru berjalan selama 40 menit. Tetapi selama berjalannya film bukanlah yang menjadi alasan gelak tawa terdengar di ruangan itu melainkan tingkah Zee yang asik menceritakan bagaimana dia mengganggu Pak Toni dan semua pekerja selama dia tinggal di rumah Omanya.


Zee yang kelelahan pun tertidur, Varest membawa anaknya itu untuk ke kamar terlebih dahulu dan meninggalkan Rea yang masih membersihkan hasil kekacauan yang di perbuat Zee selama aksinya tadi.


"Apa Zee tadi sempat bangun?" tanya Rea, dia baru saja masuk kamar


Varest menggeleng seraya memperhatikan Zee yang tidur dengan Lelapnya, "Aku rasa dia terlalu kelelahan menceritakan banyak kisah selama dirumah Oma"


Rea terdiam rasa bersalahnya tiba-tiba hadir dalam benaknya, wanita itu mendekat pada sisi ranjang dan memperbaiki selimut yang menutup tubuh Zee.


"Aku ingin bicara dengan mu" katanya melihat kepada Varest yang berdiri di depannya.


"Katakan!" Titahnya


"Tapi bukan disini, aku khawatir suara kita akan mengganggu tidur Zee, apa kita bisa bicara di luar?" Rea mendekati Varest sebelum dia kembali berjalan menuju pintu untuk keluar.


Varest terpaku perlahan rasa percaya dirinya sedikit demi sedikit luruh, jika awalnya dia sangat yakin jika Rea sudah sepenuhnya memaafkan dia. Maka, berbeda dengan sekarang, ekspresi yang ditunjukkan Rea tadi terlihat sangat serius dan Varest mulai khawatir akan itu.


Meski merasa ada yang begitu serius yang ingin diutaran oleh Rea dan Varest sendiri ingin menolak mendengar. Namun, nyatanya Varest tetaplah mengikuti langkah sang istri untuk keluar dari kamar.


"Apa yang ingin kamu katakan, Re?" Tanya Varest setelah menutup pintu kamar


"Kita akhiri saja ini" Ucap Rea lirih

__ADS_1


__ADS_2