Sunflower

Sunflower
Tentang Varest


__ADS_3

Apa itu persahabatan?,seseorang pernah berkata jika seorang teman akan menahan tawanya dan membantu mu bangun saat kamu terjatuh. Tetapi, seorang sahabat akan tertawa terbahak-bahak hingga mereka pun ikut terjatuh.


Begitu juga dengan teman yang hanya akan mengusap pundak mu untuk menenangkan saat kamu terpuruk dan menangis. Namun, seorang sahabat akan memeluk dan menggenggam tangan mu untuk berdiri tegak dan membantu mengembalikan tawa mu.


Entah sudah berapa kali Andi mondar-mandir di depan pintu mobilnya yang terparkir di salah satu restoran yang dipilih sebagai tempat untuk bertemu seseorang yang telah dia hubungi semalam.


Jantungnya kian berdegup kencang kala dering ponselnya berbunyi tanda panggilan masuk, dia khawatir rencananya semalam tak akan berjalan mulus seperti yang diharapkan, dengan menarik nafasnya pelan dan membuangnya lelaki itu mulai mengangkat panggilannya.


“…..”


“Aku baru saja sampai, jika kalian sudah datang nanti langsung minta diantarkan ke ruangan yang sudah aku reservasi"


“…..”


“Baiklah, aku akan menunggu”


Setelah sambungan telpon terputus Andi melangkahkan kakinya pasti memasuki restoran dan disambut oleh salah satu waiter untuk mengantarkannya ke ruangan yang sudah dia pesan tadi.


Andi sengaja memilih private room untuk membahas sesuatu dengan orang yang akan bertemu dengannya mengingat pembahasan yang akan dibicarakan adalah sesuatu yang sensitif yang bisa saja akan terjadi adegan penyiraman air bahkan tamparan diakhir cerita.


Dan segala ekspektasi yang dia bayangkan beberapa menit lalu satu persatu luruh bersamaan dengan munculnya sepasang paruh baya dan seorang wanita yang sedang menggandeng seorang bocah lucu menggunakan beret het berwarna hitam.


Sigap Andi berdiri dan menyalimi kedua paruh baya itu.


“Sudah lama nunggunya, Ndi?” tanya Papa Abhi sambil menepuk pelan bahu Andi


“Belum kok Om, aku juga baru sampai” katanya, “Duduk dulu Om, Tante, kamu juga Re” lanjutnya mempersilahkan ketiganya untuk duduk.


“Ji tidak disuluh duduk yah, Om?” Protes Zee yang meras tak disebutkan namanya.

__ADS_1


Andi menoleh melihat kearah Zee yang berdiri di samping Rea diselingi tawa ringan dia mendekati bocah itu dan mengelus kepala Zee pelan, “Tentu Zee juga harus duduk, tapi duduknya harus sama Om”


“Ji tidak mau duduk sama Om, soalnya Om tidak bawa Papa sini” ujar Zee membuang mukanya kesamping.


“Papanya Zee kan lagi kerja cari banyak uang buat belikan Zee susu pisang yang banyak” bujuk Andi meraih tubuh bocah di depannya yang sedang merajuk.


“Ji tidak mau susu pisang banyak-banyak, satu kotak besal aja cukup yang penting Papa cepat pulang”


Andi tersenyum tipis seraya menoleh pada Rea, “Zee tanya Mama dulu yah, baru bisa ketemu sama Papa” ucapnya yang sontak membuat wanita yang disebut namanya itu terdiam salah tingkah.


Lima belas menit berlalu, makanan yang dipesan sudah tersedia diatas meja panjang yang terbuat dari kayu jati dengan kaca yang melapisi permukaan atas meja. Varest sengaja memilih waktu makan siang untuk pertemuannya dengan keluarga Rea karena menurutnya waktu itu adalah waktu yang tepat untuk membicarakan masalah yang


menimpa keluarga sahabatnya, setidaknya dia sudah merasa memiliki tenaga dari pasokan makanannya jika dia harus berdebat.


“Sebenarnya apa yang ingin kamu bahas, Nak?, Om rasa itu sesuatu yang sangat penting sampai kamu harus memesan private room seperti ini” Ucap Papa Abhi memulai, dia cukup penasaran alasan sahabat menantunya itu meminta bertemu secara pribadi dengan keluarganya.


Mama Nimas meminta maaf untuk apa yang telah dilakukan oleh Varest di masa lalu namun tak bisa menjelaskan secara detail untuk kronologi kecelakaan itu bisa terjadi dia hanya mengatakan bahwa itu bukanlah kesalahan sang anak.


Andi mengangguk samar, “Tante benar, ini mengenai sahabat ku Varest” jawabnya sembari memperhatikan ekpresi Rea yang tiba-tiba diam menghentikan suapannya.


“Tapi, lebih baik kita selesaikan makan siangnya dulu”


Papa Abhi dan Mama Jenny meng-iyakan, mereka melanjutkan makan siang yang sempat tertunda karena pembahasan awal mengenai tujuan pertemuan.


Hidangan makan siang telah tandas hanya menyisakan minuman dan dessert sebagai menu penutup, Zee yang begitu menikmati menu makannya nampak menepuk beberapa kali perut buncitnya seraya tersenyum lebar.


“Ji suka makan kue ini” tunjuknya pada dessert bertopping bubuk kopi, “Ji seling makan ini di tempat Papa kelja”


“Tapi Zee tidak boleh makan banyak-banyak, nanti giginya sakit lagi. Zee tidak mau makan bubur ajah kan?”

__ADS_1


“Oh iya yah ,nanti Papa kasian tidak tidul malam-malam soalnya Ji nangis telus kayak dulu” bocah itu tertunduk sedih mengingat insiden dia yang pernah sakit gigi dan membuat sang Papa tidak tidur semalaman.


Rea yang melihat wajah sedih Zee langsung memindahkan kue itu ke tengah meja. Namun, sebelumnya menyendok sekali untuk dia berikan kepada sang anak.


“Kalau begitu ini suapan kue terakhir untuk Zee, anak pintar harus  punya gigi yang sehat jadi harus kurangin


makan manis”


“Zee paham, kan?”


Bocah itu mengangguk, pelan dia membuka mulut untuk menerima suapan sang Mama, orang-orang yang berada disana pun ikut tersenyum melihat betapa Zee begitu patuh kepada orang tuanya.


Mata Andi mengkristal memandangi Zee yang tepat duduk di seberangnya, ingatannya terputar dimana sahabatnya Varest terpaksa harus menjadi seorang ayah sekaligus ibu untuk anak yang dia temukan akibat kecelakaan tiga tahun lalu.


Hingga dengan segala keberanian memulai obrolan awal sebelum kepada topik yang lebih inti untuk rencananya. Lelaki itu mengambil earphone dalam tasnya dan menyerahkan kepada Zee untuk dipakainya dan memutarkan video kartun kesukaan bocah itu, setelah dia merasa Zee sudah focus dengan dunianya sendiri, akhirnya Andi mulai bersuara.


“Kamu tahu Re, Zee pernah mengalami demam tinggi diusia satu tahun”


“Salah, aku tidak tahu pasti usia Zee waktu itu karena baik Varest ataupun Papa dan Mama tidak ada yang mengetahuinya, yang jelas kejadian itu terjadi sebulan setelah Varest membuat pesta ulang tahun Zee katanya itu adalah kenang-kenangan untuk Zee meski harus mengarang tanggal”


Nampak ketiga orang yang berada di depan Andi diam mendengarkan.


“Pesta ulang tahun itu dibuat enam bulan setelah kecelakaan itu dan semua orang menyetujui dengan mengurus berbagai persiapan. Selama beberapa bulan Varest hanya mengurus Zee sendiri hingga dia mulai membangun usaha dan mulai menitipkan Zee kepada Mama Nimas saat bekerja”


“Hari itu Mama Nimas menelpon Varest untuk singgah membeli obat panas untuk Zee dalam perjalanan pulang. Tapi, karena terlalu khawatir Varest pulang lebih awal dan mengendarai motor salah satu karyawan karena takut akan terjebak macet jika menggunakan mobil” Andi menjeda ucapannya, matanya menelisik pada ekspresi


wajah ketiga orang di depannya.


“Dan karena rasa khawatir dan terlalu gegabahnya itu akhirnya dia mengalami kecelakaan”

__ADS_1


__ADS_2