
"Kamu tidak apa-apa?"
Pertanyaan itu meluncur bebas dari bibir Andi, kejadian tadi pagi masih membekas pada ingatannya dimana dengan kasarnya seorang lelaki hampir memberi tato alami pada pemilik wajah manis di depannya.
Niat yang ingin membantu dengan cara mengakui gadis di depannya sebagai seorang kekasih ternyata bukanlah pilihan yang tepat, ternyata pengakuan itu malah semakin membuat lelaki yang bernama Geri itu menggila.
Geri dengan kasarnya semakin menarik Andin untuk pergi meninggalkan Andi dan Varest, hingga Andi berusaha untuk menolong dan malah membuat Geri hilang kendali, lelaki itu menghempaskan tangan Andin kasar dan hampir menampar gadis itu yang beruntung sempat dicegah oleh Andi.
"Saya minta maaf, Pak" Andin tak menjawab pertanyaan Andi, gadis itu berdiri dan membungkuk untuk meminta maaf.
"Seharusnya anda tidak perlu bertindak sejauh itu" sesalnya
"Ayolah Ndin, jangan bersikap formal seperti itu"
"Maaf?" Andin mengernyit, ucapan dari lelaki di depannya cukup membuat dia bingung.
"Bersikaplah lebih santai, kita sudah biasa bertemu disini" pinta Andi
Saat ini mereka sedang berada di kafe milik Varest, setelah kejadian tadi Varest meminta Andin untuk ikut mereka ke kafe bersama, Andin tak bisa menolak terlebih harus meminta maaf kepada Andi dan juga Varest selaku bosnya.
Varest meninggalkan keduanya di ruangan yang memang biasa dijadikan sebagai ruangan karyawan untuk beristirahat, Andi dan Andin duduk berhadapan dengan meja sebagai penyekat yang diatasnya sudah terdapat kotak P3K yang disediakan Andi untuk mengobati memar pada pergelangan tangan Andin akibat tarikan Geri tadi.
"Maaf Pak, saya tidak berani, lagi pula anda adalah sahabat bos saya" ucap Andin
Andi mendesah pelan, tak ingin memaksakan diri dan membuat gadis di depannya semakin merasa tidak enak akhirnya dengan pasrah dia menjawab, "Terserah padamu, panggil senyaman mu saja"
Gadis itu tersenyum. Senyuman yang manis, seperti itu lah Andi melihat Andin sekarang,
"Manis" kata Andi tanpa sadar
"Apa?" tanya Andin bingung
"Siapa yang manis?" suara Varest menginterupsi, Papa Zee itu masuk dengan tiba-tiba dan mendengar kata yang diucapkan Andi.
"Ehh, Mas Varest" Ucap Andin saat melihat bosnya sudah di depan pintu
Andi yang mendengar panggilan Andin pada Varest itu terlihat bingung pasalnya tadi gadis yang dia bilang manis itu begitu keukeuh untuk tetap memanggilnya Pak dengan alasan dia adalah sahabat bosnya, tapi sekarang gadis itu malah memanggil bosnya dengan sebutan Mas.
__ADS_1
Varest menoleh pada Andin, "Bagaimana tangan mu, apa masih sakit?" tanyanya sembari mendekati Andi yang masih duduk dengan wajah bingungnya.
"Sudah mendingan mas" jawab Andin mengangkat tangannya
"Tunggu" kata Andi seraya berdiri, lelaki itu menatap pada Andin yang berdiri di sampingnya.
"Kamu memanggil aku dengan panggilan Pak dan bos mu sendiri kamu panggil Mas?" tanyanya dengan nada protes.
"Iya" jawab Andin singkat
Andin mengembuskan nafasnya kasar, "Ah, keterlaluan sekali kamu gadis manis"
"Apa?"
"Ma-maksud aku, kenapa kamu memanggilku Pak?, umur ku dan Bos mu ini hanya berbeda dua bulan, tapi kamu dengan teganya menolak untuk tidak bersikap formal pada ku, dan tetap ingin memanggil ku dengan panggilan Pak" protes Andi yang malah terlihat lucu dan membuat Varest harus menahan tawa.
"Saya tidak bermaksud membuat anda tersinggung, saya minta maaf Pak" kata Andin dengan wajah merasa bersalah, gadis itu tidak mengetahui jika protes yang dilayangkan oleh lelaki bergingsul itu bukan semata karena panggilan pak yang terkesan tua untuk umurnya.
"Yahh, panggil saja terus Pak!" kata Andi jengkel
Andin menggigit bibirnya dalam semakin bingung dengan tingkah sahabat sang bos, namun berbeda dengan Varest, wajah lelaki itu nampak memerah karena menahan tawa melihat Andi yang uring-uringan hanya karena panggilan yang seharusnya sudah biasa dia dengar saat karyawan memanggilnya di kantor.
"Terserah" Andi agaknya sudah malas untuk membahas panggilan itu
"Andin, kamu mau pulang atau masuk kerja hari ini?" tanya Varest tanpa menghiraukan Andi yang masih memalingkan wajahnya.
"Aku pulang saja mas, lagi pula aku sudah izin untuk tidak masuk kerja hari ini dan juga ini sudah lewat setengah hari jam kerja"
"Baiklah"
"Oh iya, terima kasih untuk bantuannya hari ini Mas dan juga sahabatnya Mas Varest, aku pulang dulu" ucap Andin setelahnya keluar dari ruangan meninggalkan Varest dan Andi yang semakin jengkel.
"Hahahaha" dan akhirnya tawa Varest tak bisa lagi ditahan, suaranya menggema di dalam ruangan yang semakin membuat Andi memasang wajah masam.
-
-
__ADS_1
-
Tahapan pertumbuhan anak memang masa emas bagi perkembangan sang buah hati, dimana diusia itu terjadi perkembangan kepribadian anak dan pembentukan pola perilaku, sikap dan ekspresi emosi. Maka, peran sebagai orang tua harus lebih memperhatikan tahapan usia emas pada anak.
Sama halnya dengan orang tua pada umumnya, peran Rea saat ini adalah memulai dengan membawa Zee ke kelompok bermain atau playgroup agar Zee bisa belajar bersosialisasi dengan lingkungan baru.
Rea bersama dengan Mama Jenny mengantar Zee mendatangi playgroup yang dikenal dengan kegiatan dan cara belajar yang sangat baik serta tenaga pendidik kompeten yang berada di pusat kota.
"Ma, nanti Mama tunggu Ji disitu yah!" ucap Zee kepada Rea, menunjuk salah satu bangku yang berada di depan ruangannya
"Mama akan nunggu disana, tapi Zee harus pintar belajarnya" Rea berjongkok menyamakan tingginya dengan Zee seraya mencubit gemas pipi bocah gembul itu.
Zee mengangguk antusias, "Oma, jagain Mamanya Ji, yah!" pintanya mendongak pada Oma Jenny dengan mata yang berkedip lucu.
"Loh, kok Oma yang jaga?, kan Zee sudah besar bisa jaga Mama sendiri" jawab Mama Jenny sambil tangannya mengacak lembut surai hitam Zee.
Zee menggeleng seraya melambaikan tangannya di depan dada, "Ji mau belajal di dalam Oma, nanti luangannya ditutup Ji tidak bisa kelual-kelual jaga Mama, bilangnya Papa Ji halus jaga Mama. Jadi gimana dong?" jelasnya.
Mama Jenny tertawa, kembali dia mengacak surai hitam Zee gemas, "Baiklah Oma akan jaga Mamanya Zee, Cucu Oma ini memang paling pintar"
Rea yang mendengar kata-kaa Zee merasa menghangat, belakangan sifat Varest semakin hangat padanya, dia tidak akan melupakan untuk memberi pesan pada sang anak untuk menjaganya.
Rea tersenyum setelahnya mencium pipi Zee kiri dan kanan yang membuat bocah itu terkekeh kegelian.
"Ayo sekarang Zee masuk, itu kakaknya sudah manggil" ucap Rea saat seorang tenaga pendidik yang dipanggil Kakak itu memanggil Zee karena kegiatan perkenalan akan segera di mulai.
Zee berbalik sambil memperbaiki tas punggungnya setelahnya melambaikan tangan yang dibalas oleh Rea dan Omanya.
"Mama bahagia akhirnya kamu menemukan kebagiaan kamu lagi, Re" Ucap Mama Jenny secara tiba-tiba
"Ehm" Rea bergumam sambil tersenyum, dia tak tahu apa yang harus dikatakan untuk menimpali ucapan Mamanya.
"Apa kamu sudah mencintainya?"
"Aku masih mencoba Ma"
__ADS_1