
"Sayang"
Varest mendekati Rea yang sedang duduk di depan meja riasnya, wanita beranak satu itu tengah memakai lipstick berwarna nude kebibirnya.Varest melipat dahinya dalam memperhatikan tingkah Rea yang berbeda dari biasanya, ini sudah jamnya untuk tidur tapi istrinya itu masih berkutat dengan alat make up untuk dipoles ke wajahnya.
"Ini bagus, tidak?" Tanya Rea memperlihatkan salah satu koleksi lipsticknya kepada Varest.
Lelaki itu hanya mengangguk seraya duduk di ranjang, matanya masih fokus mengamati keanehan Rea.
"Sepertinya ini akan bagus kalau di gabung dengan yang ini." Ucap Rea memanyungkan bibirnya di depan cermin.
"Sayang, kamu kan sudah pake yang itu." Varest menunjuk lipstick yang sebelumnya sudah dipakai oleh Rea, "Ngapain lagi digabung yang lain, lagi pula ini sudah malam loh, kamu tidak mau tidur?" Ujar Varest sambil menggeleng tak habis fikir.
Rea sebelumnya tak pernah memakai riasan saat mau tidur, istri Varest itu biasanya hanya memakai serum dan cream malam seperti kebanyakan wanita lainnya. Tetapi, selama beberapa hari ini Varest dibuat heran dengan kebiasaan baru Rea berawal dari parfumnya yang selalu dibawa kemana-mana hingga ingin selalu tampil dengan make up.
Rea menoleh kasar dengan mata yang memicing serta bibir yang mengerucut, "Kamu tidak suka lihat aku cantik?, kamu kok jahat sih"
Yah, satu lagi yang terlupa Rea juga lebih sering menangis dan merajuk, Dulu saat pertama Varest melihat tingkah sang istri dia hanya berfikir itu pengaruh akan kedatangan tamu bulanan dan itu memang terjadi karena setelahnya sikap Rea kembali seperti biasa. Namun selama seminggu ini sikap Rea semakin menjadi.
"Bu-bukan begitu, sayang" Varest menggeleng seraya melambaikan tangannya di depan dada.
"Aku senang kok lihat kamu cantik, senang banget malah, kamu kan memang selalu cantik, dan bagi aku kamu adalah wanita paliiing cantik" Ah, keluar sudah kata-kata pamungkas sejuta pria dan nyatanya itu adalah senjata yang begitu membantu karena Rea yang langsung tersenyum lebar.
"Ya Allah, apa yang terjadi dengan istriku?" Batin Varest sembari menutup matanya
"Tapi kok kamu nyuruh aku tidur terus sih?" Tanya Rea menatap Varest
Varest gelagapan, dia harus mencari alasan yang bisa diterima oleh sang istri jika tak ingin mendengar teriakan malam-malam, "Aku kedinginan sayang, bukannya kamu bilang mau tidur sambil peluk aku?, kalau kamu masih lama disitu aku mau pakai baju lagi dan tidur duluan"
Berhasil, Rea langsung naik ke atas ranjang dan menarik piyama Varest yang ingin dipakai oleh lelaki itu.
"Ayo kita tidur!" Rea membaringkan tubuhnya lebih dulu setelahnya disusul oleh Varest yang tersenyum penuh kemenangan.
__ADS_1
"Jangan begitu, aku tidak suka posisi begini" Protes Rea saat Varest berbaring dengan posisi telentang, wanita itu mau jika sang suami tidar dalam posisi menyamping kepadanya dan menjadikan lengan Varest sebagai bantal setelahnya menyembunyikan wajahnya diantara dada dan ketiak suaminya.
Varest mendesah pasrah mengikuti keinginan istri anehnya itu, dia ingin segera mengakhiri drama sebelum tidur yang selalu terjadi selama hampir seminggu ini.
-
-
-
"Aku minta kalian mengikuti keinginan istriku selama itu tidak diluar batas"
Varest memberi perintah kepada karyawannya mengenai bagaimana menangani sang istri sesuai dengan pengalamannya beberapa hari ini, Dia khawatir jika kebiasaan Rea yang berubah juga terbawa sampai ke tempat kerjanya dan membuat karyawannya merasa tak nyaman.
"Mas, memang kenapa dengan mbak Rea?" tanya salah satu karyawan Varest
"Aku tidak bisa memastikan, tapi aku hanya menyarankan kalian, jangan sampai membuat mood istriku jadi jelek karena itu akan membuat kalian tidak nyaman bekerja seharian" Sekali lagi Varest memberi saran yang mebuat semua karyawannya terlihat bingung.
Meski dipenuhi tanda tanya akan titah sang bos. Tapi, mereka tetap mengiyakan takut-takut jika apa yang dikatakan bos mereka adalah benar, maka dengan menyetujuinya adalah hal yang benar pula.
"Kalian lagi bahas apa?" Suara Rea menginterupsi fikiran mereka, sontak Varest dan yang lainnya menoleh pada asal suara, Rea baru saja keluar dari toilet sebelum mengantarkan suaminya untuk keluar dari kafe.
"Tidak ada kok mbak Rea" Rea memicing curiga tatkala semua karyawannya menggeleng bersamaan dengan mimik wajah takut.
"Astaga" Batin Varest saat menyadari ekspresi wajah para karyawannya.
"Rest"
"Bukan apa-apa sayang" Ucap Varest merangkul bahu Rea, "Aku hanya memberi tahu mereka, kalau untuk berikutnya kamu yang akan menangani semua urusan kafe"
"Tapi kan mereka sudah tahu" Rea mengintip karyawannya dari belakang Varest yang dibalas cengiran oleh mereka.
__ADS_1
"Aku takut mereka lupa." Elak Varest
Hari ini memang terakhir kalinya Varest datang ke kafe untuk membantu Rea, karena setelahnya dia akan fokus untuk perusahaan yang sudah tak lagi mau dipegang oleh Papa Bayu, lelaki paruhbaya itu sudah menyerahkan segalanya kepada Varest dan memilih pensiun menikmati masa tuanya bersama dengan sang istri.
Varestpun hanya bisa menerima setelah beberapa kali menolak keinginan kedua orang tuanya. Dia menyadari jika tak selamanya papanya akan mengurus perusahaan yang memang telah menjadi miliknya sedari awal, dan menjadi pertimbangan paling jelas mengingat dia sudah memiliki keluarga sendiri.
Varest membawa Rea untuk duduk disalah satu bangku sebelum dia keluar kafe, "Sayang, mulai besok kan kamu yang akan mengerjakan semuanya, jika ada yang tidak jelas kamu bisa meminta bantuan pada Andin, dia akan membantu mu atau kamu bisa menghubungi ku" Pesan Varest mengelus pucuk kepala Rea pelan.
"Sayang" Ucap Rea parau
"Loh, kenapa nangis?" Varest dibuat gelagapan saat melihat Rea tiba-tiba menangis, dia menoleh ke kiri dan ke kanan memastikan jika tak akan ada orang yang akan beranggapan dia menyakiti seorang wanita cantik.
"Hikss, hiks, hiksss"
"Sayang jangan nangis dong, sini aku peluk" Varest menelungkupkan kepala Rea kedalam pelukannya. "sudahan nangisnya yah, nanti make up-nya luntur loh" Bujuk Varest
"Aku sedih tidak bisa lihat kamu lagi di kafe, hikss, hikss" Ucap Rea di dalam pelukan Varest yang ternyata masih bisa di dengar oleh orang-orang disekitarnya, beruntung pengunjung kafe masih sedikit dan memilih untuk duduk diluar ruangan.
Varest menyengir kuda melihat tatapan karyawannya yang masih berdiri ditempat yang tadi entah apa yang mereka tunggu, mereka terlihat terbawa suasana dengan senyum-senyum sendiri.
"Kan kita masih ketemu di rumah, lagi pula aku juga akan mengantar jemput kamu disini"
"Nanti jangan lirik-lirik cewek lain di kantor yah" Pinta Rea manja
"Iya sayang, tidak akan" Jawab Varest
"Yah sudah, sana gih cepat ke kantor" Rea melepaskan pelukannya dan mendorong pelan Varest yang membuat lelaki itu sedikit terhuyung dengan mata membelalak, mood istrinya ini memnag tak bisa ditebak.
"Yah sudah aku berangkat dulu" Baru saja Varest ingin melangkah dia tiba-tiba berhenti saat Rea kembali bersuara yang sontak membuatnya berbalik dan menutup mulut istrinya tersebut.
"Cepat pulang yah, aku pengen tidur kayak tadi malam lagi"
__ADS_1
Malu? tentu, bahkan bukan hanya Varest yang merasakan demikian karena karyawan dan pengunjung yang mendengarnya pun langsung berbalik badan seraya menutup mulutnya yang menganga.