Sunflower

Sunflower
Rutinitas


__ADS_3

Butiran embun sisa hujan tadi malam masih menetes riang pada jendela kaca kamar bertirai hijau mint pagi itu memberikan sejuk pengganti


udara mesin pendingin yang sengaja dimatikan, nampak tiga orang berjenis kelamin laki-laki berbeda usia masih enggan untuk membuka matanya menikmati mimpi yang sempat tertunda saat bangun untuk menunaikan ibadah subuh.


Varest berada di tengah antara kedua jagoannya dengan posisi tidur menyamping ke arah kiri dimana Zee berada sembari memeluknya sedangkan Zayn berada di belakangnya dengan posisi tidur tebalik menjadikan leher sang papa sebagai guling.


Rea menggelengkan kepalanya sembari bertolak pinggang ketika dia membuka pintu dan melihat ketiga orang terkasihnya masih setia dengan


matanya yang ditutup bahkan Zee dan Varest masih pun sama saling berpelukan sedangkan si bungsu sudah berputar 180 derajat dari terakhir kali dia tinggal beruntung sisi ranjang dimana dia tidur sudah diberikan bed rail baby agar anaknya itu tidak terjatuh


Wanita yang kini memiliki tubuh agak berisi itu menghela nafas pelan sebelum mengayunkan kakinya mendekat pada ranjang berniat untuk membangunkan dua orang yang memiliki rutinitas wajib harian yaitu suami dan juga putra sulungnya.


“Sayang.” Digoyangkannya tubuh Varest berusaha untuk membangunkan lelaki itu. “Ayo bangun! Ini sudah jam 6 lewat loh,”


“Mmmm, lima menit lagi yah?” tawar Varest sambil mengangkat tangannya dan menunjukkan jarinya


Rea mendesis melihat tingkah Varest yang malah menarik selimut dan menutupi sampai wajahnya.


"Sayang, bukannya hari ini ada pekerjaan yang harus dikerjakan pagi di kantor?" Rea masih memelankan suaranya tak ingin jika anak bungsunya juga ikut terbangun.


Hening, nyatanya lelaki yang sudah menjadi papa dari 2 jagoan kecil itu malah kembali terhanyut dalam mimpinya, hingga suara teriakan terdengar dan terpaksa membuat Varest membelalakkan matanya reflek.


"Papaaaaaa, Zee mau mati ini! Huh hah huh hah." Zee berteriak seraya menendangkan kaki berusaha untuk mencari celah agar ada udara yang masuk ke dalam selimut.


Yah, Zee terperangkap dalam selimut saat Varest menutup wajahnya hingga tak menyisakan cahaya dan celah untuk udara masuk.


"Sayang, itu wajah anak mu ketutup, astaga!" Sigap Rea langsung berusaha membantu untuk membuka selimut karena Varest yang masih setengah sadar.


"Ihh, kok malah diem sih, itu Zee sesak nafas loh." Rea memukul lengan Varest hingga lelaki itu sadar sepenuhnya.


"Aduhhhh, Papa anak ganteng mu mati ini, jangan didudukin selimutnya Zee tidak bisa buka," pekik Zee gemas pasalnya selimut itu tak bisa dibuka karena diduduki oleh sang papa.


"Huh hah huh hah" Zee meraup oksigen secara kasar saat selimutnya terbuka, wajahnya nampak merah karena sempat merasa kesusahan bernafas terlebih dia sedikit takut pada gelap dan tadi berada di bawah selimut dengan posisi wajah yang menempel pada dada sang papa membuatnya susah untuk melihat cahaya.

__ADS_1


"Sayang, kamu tidak apa-apa, Nak?" tanya Rea khawatir menangkup kedua pipi Zee yang masih tembem.


"Ya ampun, Zee kenapa mainan dibawah selimut?" Meski ikut khawatir tapi Varest malah menanyakan pertanyaan yang membuat sang putra menatapnya tajam.


Zee menyipitkan matanya mengarah pada papanya dengam bibir yang ditipiskan jengkel, dengan cepat dia mengambil bantal dan memukul Varest sambil mengomel, "Zee tidak sembunyi, tapi Papa yang sembunyiin Zee," katanya


Varest tertawa kecil sembari tangannya menghalau pukulan Zee. "Sorry, sorry, Papa tadi tidak lihat kalau wajahnya Zee juga ikut ketutup" Elaknya


Keributan yang dibuat oleh dua manusia berbeda usia itu tanpa sadar telah membuat bayi mungil yang tadi tidur dengan nyenyak di samping Varest itu harus terbangun, bahkan sekarang Zayn sudah terduduk dengan wajah bingung dan kagetnya menatap orang-orang di depannya secara bergantian.


Rea menghela nafas kasar sembari mengusap wajahnya kala menyadari anak bungsunya telah memasang wajah tak enak dengan bibir melengkung ke atas hendak menangis, dengan cepat Rea merangkak naik ke atas ranjang dan meraih sang putra.


"Huuaaaahhhh, ihhszz, ihhszz"


Terlambat, bayi berumur 1 tahun dua bulan itu sudah mengudarakan suara merdunya yang memekakkan telinga yang sontak membuat Varest dan Zee menutup kedua telinganya.


"Cup, cup,,cup, sayang." Rea menggendong Zayn seraya menepuk kecil pantat yang berbalut diapers penuhnya.


Varest dan Zee secara impulsif menyengir dan segera turun dari ranjang berusaha untuk menghindar dari amarah sang penguasa rumah dan satu-satunya yang tercantik di dalam keluarga kecil mereka.


"Cepat mandi Zee, nanti telat pergi sekolah!" Teriak Rea


Saat ini Zee sudah berumur 6 tahun kurang 4 bulan dan Zayn berumur 1 tahun 2 bulan, waktu yang cukup singkat bagi orang tua yang begitu menikmati perannya dalam memperhatikan tumbuh kembang sang buah hati.


Zee sudah mulai menampilkan sisi dewasanya sebagai seorang kakak meski usia yang masih dini tapi dia cukup membantu mengurus sang adik jika Rea mulai kewalahan.


Sedangkan Varest, bagi Rea dia adalah sosok suami yang sangat perhatian, dia tidak pernah keberatan untuk membantu dalam mengerjakan pekerjaan rumah sampai begadang untuk mengurus Zayn yang hampir setiap malam rewel sebelum benar-benar tertidur.


"Sayang, dasi ku yang garis-garis silver biru itu kamu simpan dimana?"


Rea memutar bola matanya, sudah menjadi kebiasaan suaminya akan selalu menanyakan barang yang seharusnya tahu tempatnya dimana tapi masih bertanya letaknya seakan itu sudah menjadi daftar yang tak boleh luput dari rutinitas paginya.


"Ada di laci bawah paling dalam, coba tarik lacinya terus dicari pelan-pelan, pasti ketemu kok itu," jawab Rea tak mengalihkan pandangannya dari si bungsu yang sementara di pakaikan diapers.

__ADS_1


"Aku sudah cari tapi tidak ketemu,"


"Papa Zee, coba cari pelan-pelan, dia tidak mungkin keluar sendiri malam-malam apa lagi lacinya tertutup rapat,"


Varest meringis mendengar jawaban istrinya, jika Rea sudah memanggilnya dengan sebutan 'Papa Zee' itu berarti sang istri sudah hampir emosi.


"Ketemu," seru Varest akhirnya membawa satu gulung dasi yang tadi dicarinya kepada sang istri. "Bisa masangin, tidak?" tanyanya


Rea mengangguk kecil lantas berdiri hendak membantu Varest untuk memasang dasi.


"Sayang"


"Hmm?"


"Bagaimana kabar mu hari ini?"


"Huh?" Rea mendongak menatap Varest tak mengerti dengan maksud pertanyaan suaminya tersebut.


"Aku tanya kabar mu hari ini"


Rea mengerutkan keningnya dalam lalu menjawab ragu. "Aku baik-baik saja, memang kenapa?"


Dasi telah terpasang dengan rapi, Rea baru saja berbalik ingin kembali duduk di atas ranjang namun geraknya terhenti saat Varest memeluknya dari belakang dengan dagunya bertumpu pada pundak Rea.


"Istirahatlah kalau kamu lelah, aku akan usahakan cepat pulang dan mengurus Zayn dan Zee, aku mau kamu menikmati hari mu dengan bersantai walaupun cuma sehari, aku tidak mau kamu terlalu lelah mengurus ku dan juga kedua anak kita." ucap Varest pelan seakan berbisik tepat di telinga Rea.


Sebuah kalimat yang sederhana namun mampu membuat hati Rea berdesir hebat, hembusan nafas hangat yang menyentuh pipinya sempat membuatnya meremang.


Tangannya terangkat mengelus kepala Varest dari samping, "Kamu tahu, tanpa sadar kata lelah yang kamu katakan akibat dari mengurus mu itu adalah tanda bahwa kamu sangat membutuhkan ku, makanya apapun yang kamu butuhkan itu harus ada aku juga di dalamnya, dan aku menikmatinya,"


Varest tersenyum lalu mencium pipi Rea, "Cepatlah berangkat! sarapan mu sudah aku siapkan di kotak bekal, dan ingat cepat pulang dan bawakan aku uang yang banyak aku ingin ke salon bareng Andin," gurau Rea melepaskan pelukan suaminya


"Baiklah bos, titah mu adalah kewajiban ku"

__ADS_1


__ADS_2