Sunflower

Sunflower
Parfum


__ADS_3

Hari pembukaan kafe yang ditunggu akhirnya tiba, segala persiapan sudah rangkum dengan berbagai ide promosi yang sudah dibuat untuk menarik pelanggan, diantaranya dekorasi spesial yang instagramable yang seperti kita tahu daya tarik segala sesuatu kebanyakan dilihat dari tempat yang mampu dijadikan sebagai penambah koleksi foto untuk sosial media.


Bukan hanya segi dekorasi yang menarik. Tetapi menu yang disediakan pun menjadi hal yang penting apalagi dengan adanya promo dan discon yang sudah terpasang di depan kafe.


Sejak 15 menit lalu Rea mondar-mandir di depan dinding kaca memperhatikan keadaan depan kafe yang mulai rame oleh pengguna jalan yang menunggu pembukaan kafe, wanita dengan dress berwarna merah itu nampak menghela nafas berkali-kali sangat kentara jika dia sedang gugup sekarang.


"Ma.." Panggil Zee yang sedari tadi memperhatikan tingkah Rea.


Rea menoleh, "Hmm. Ada apa sayang?"


"Mama tidak capek mondal-mandil telus dali tadi?" Tanya Zee dengan wajah bingungnya, "Ji ajah capek lihat Mama"


"Ah, Maaf sayang" Ucap Rea sambil terkekeh malu.


Wajar jika bocah lucu itu merasa lelah melihat sang Mama karena sebelum mereka ke kafe pun Rea sudah tidak tenang sejak di rumah, entah saat memilih baju atau pun make up seperti apa yang cocok untuk hari ini.


"Ayo kita turun!" Varest menyembulkan kepala dari balik pintu, lelaki itu datang untuk memberi tahu jika acaranya akan segera dimulai.


"Rest" Panggil Rea dengan suara pelan, dia baru saja ingin melangkah mendekati Varest namun tiba-tiba kepalanya terasa pusing.


"Apa kamu sakit?" Varest nampak cemas, dipegangnya pundak Rea seraya mengintip wajah istrinya yang tengah menunduk.


"Tidak Rest" Kata Rea, "Mungkin ini pengaruh gugup" lanjutnya sambil mendongak.


"Zee, bisa tolong ambilkan Mama minum" Pinta Varest kepada Zee yang juga terlihat khawatir dengan Mamanya.


Bocah itu mengangguk cepat setelahnya berlari kecil menuju meja untuk menuangkan air yang diminta oleh Papanya.


"Ini Pa" Zee menyodorkan gelas plastiknya kepada Varest.


"Terima kasih, sayang" Balas Varest, setelahnya mendekatkan gelasnya ke mulut Rea untuk membantunya minum.


"Minumlah dulu" Titahnya yang langsung dituruti oleh Rea.

__ADS_1


Wanita yang nampak cantik dengan rambut diurai itu sedikit menghela napas kembali setelah meminum setengah gelas air, berusaha meraup oksigen berharap jika rasa pusing dan gugupnya berganti dengan rasa tenang.


"Sudah merasa lebih tenang?" Tanya Varest memastikan yang dijawab anggukan oleh Rea.


Wanita itu berdiri seraya memperbaiki ujung dressnya, "Aku sudah siap" Katanya seraya tersenyum kepada Varest dan anaknya, "Ayo kita turun!" Lanjutnya sambil meraih tangan kedua lelaki yang sangat dia cintai.


Varest terlihat Ragu melihat wajah pucat Rea, lelaki yang memakai kemeja berwarna hitam itu khawatir jika sang istri memang sakit dan memakasakan diri untuk tetap ikut acara pembukaan kafe.


"Jangan dipaksakan Re, kamu bisa istirahat disini dan masalah acara di bawah aku bisa menanganinya." Ujar Varest


Zee yang melihat pun tak tinggal diam, Bocah itu menimpali seraya berlari ke samping Varest, "Nanti Ji bantu Papa, Mama tidak pellu hawatil"


Rea terkekeh namun tetap berdiri tidak mengurungkan niatnya untuk tetap hadir ditengah suasana pembukaan kafe.


"Aku tidak apa-apa, lagi pula ada kalian di samping ku. jadi, aku pasti akan baik-baik saja"


Varest merotasikan bola matanya pasrah, dia tahu jika moment ini adalah hari yang sangat ditunggu oleh sang istri. Jadi diapun tak ingin jika Rea sedih karena tak bisa ikut hadir dalam acara ini.


Keadaan di dalam kafe masih diisi oleh semua karyawan, kerabat dekat, dan keluarga yang tengah menunggu pemilik kafe yaitu Varest dan Rea serta anak semata wayangnya sebagai pembuka acara, nampak pita berwarna kuning keemasan terbentang di depan pintu masuk kafe yang diluarnya pun sudah banyak pengunjung yang menunggu.


Varest yang dilanda kecemasan atas kesehatan sang istri tak ingin menunggu lama hingga acara itu selesai, hanya beberapa kalimat pembuka dan harapan dia ucapkan sebagai pemilik kafe dan memperkenalkan Rea sebagai owner, setelah itu mempercepat pemotongan pita yang dilakukan olehnya dan juga Rea serta Zee yang juga tak mau ketinggalan.


Saat pengunjung berdesakan masuk kedalam kafe Rea sempat terhuyung seraya memegang pelipisnya beruntung Varest berada di belakangnya dan dengan cepat membawa Rea kembali ke ruangannya meninggalkan Zee yang juga sibuk mencicipi kue-kue yang dibawakan oleh karyawan bersama dengan nenek, kakek, oma dan opanya.


"Sudah aku bilang, jangan dipaksakan kalau memang lagi sakit, bagaimana kalau aku tidak ada di belakangmu? kamu bisa saja jatuh di tengah orang-orang tadi" Oceh Varest setelah mendudukkan Rea di sofa.


"Aku hanya sedikit pusing, aku tidak apa-apa" Elak Rea


"Apanya yang tidak apa-apa, sayang?, kamu pucat dan pusing" Varest mendesah frustasi karena yang sedang diomeli malah tertawa.


"Kamu terlalu berlebihan, Rest" Ucap Rea menangkup pipi Varest.


Varest membelalakkan matanya merasakan tangan Rea yang dingin, " Bahkan tangan mu saja dingin seperti ini" katanya sambil menggenggam tangan Rea.

__ADS_1


Rea memutar bola matanya dan menarik kedua tangannya, wanita itu berdiri hendak melangkah namun ditahan oleh Varest.


"Mau kemana?"


"Sayang, aku hanya mau buang air sebentar, aku sudah kebelet"


Varest menautkan alisnya, "Apa kamu masih gugup?, aku perhatikan dari pagi sampai sekarang ini sudah kesekian kalinya kamu buang air"


"Benarkah?" Rea nampak mengingat-ingat sudah berapa kali dia ke toilet seperti yang dikatakan oleh suaminya.


"Mungkin aku memang terlalu gugup" Dia mengedikkan bahunya seraya melanjutkan langkahnya.


Sementara sang istri berada di kamar mandi Varest diam-diam memeriksa isi tas Rea, siapa tahu istrinya itu sedang menyembunyikan sesuatu, fikirannya bercabang takut-takut jika Rea menyimpan obat atau hasil pemeriksaan dokter mengingat Rea dulu pernah kecelakaan dan mengakibatkan kepalanya terbentur parah dan mengalami kebutaan.


Namun bukannya menemukan apa yang dicari Varest malah menemukan botol parfum miliknya yang disimpan di kantong dalam tas Rea.


"Parfum ku?" Varest melipat dahinya bingung untuk apa istrinya itu membawa parfumnya kemana-mana padahal wanita itu memiliki parfum sendiri.


Pintu kamar mandi terbuka Rea keluar dengan wajah yang sedikit basah mungkin dia juga mencuci wajahnya.


"Ada apa?" Tanya Rea melihat Varest yang memperhatikannya lekat


"Sayang, ayo duduk sini" Titah Varest menepuk sofa di sampingnya.


Rea menurut dan duduk di sebelah Varest, wanita itu tambah bingung saat varest mulai mengendus tubuhnya.


"Ada apa?" Tanya Rea lagi


"Dia pakai parfumnya sendiri kok" Batin Varest


"Sayang, tadi aku tidak sengaja jatuhin tasmu dan isinya keluar, jadi aku nemuin ini" Bohong Varest mengangkat botol parfum miliknya, "ngapain kamu bawa parfum ku?" Tanyanya.


"Oh, itu. Aku hanya menyukai aromanya jadi aku membawanya kemana-mana" Jawab Rea santai

__ADS_1


__ADS_2