
Matahari pagi ini telah menampakkan cahaya keemasannya dari balik tirai yang menelusup masuk ke dalam kamar berdominasi warna putih. Nampak seorang bocah yang masih lelapnya tertidur dalam pelukan ayahnya.
Sepanjang malam Varest terus memandangi Zee tanpa berniat untuk melepas kesempatan hanya sekedar untuk menutup mata dan terbuai mimpi barang semenit pun, dirinya terlalu takut jika saat dirinya menyetujui panggilan matanya maka sang anak akan hilang dari pandangan.
Senyuman tulus nan perih tersungging dari garis bibirnya, matanyapun tak lepas menyapu pada fitur yang mengingatkan dia pada sang istri Rea Edrea Leteshia.
"Apa yang harus Papa lakukan sekarang, Zee?" lirihnya
Zee menggeliat, tubuhnya bergerak ke kiri dan ke kanan mencari sesuatu yang selalu menghangatkannya selama sebulan ini, sebuah pelukan dari Mamanya.
Menyadari tingkah Zee yang demikian, dengan sigap Varet kembali meraih Zee ke dalam pelukannya, tapi mungkin karena Varest yang terlalu bersemangat akhirnya bocah itu pun terbangun.
"Mama mana?" Dua kata yang terucap dari bibir Zee ketika matanya baru saja terbuka sempurna dan melihat jika hanya sang Papa yang berada di sampingnya.
Dua kata yang begitu menampar ulu hati Varest, kenyataan bahwa sekarang dan mungkin akan selamanya dia sudah akan menjadi yang kedua untuk sang Anak, bocah yang selama dua tahun lebih akan selalu menangis jika ditinggal kerja, bocah yang selalu mengomel dengan suara lucunya saat dirinya telat menjemput di rumah neneknya.
"Mama kan di rumahnya Oma" kata Varest sambil membersihkan bekas tidur yang tercetak di ujung bibir Zee
"Zee lupa yah?"
"Ji kila malam-malam Mama pulang"
Varest nampak tertegun, dia sempat melupakan jika Zee hanyalah bocah umur 3 tahun yang tak mengerti permasalahan orang tuanya, dia hanya mengetahui jika Mama dan Papanya adalah orang-orang yang akan selalu bersamanya, dia tak mengerti jika keduanya adalah suami istri yang kadang bisa saling melupakan saat amarah telah mentupi hati dan fikirian.
"Apa Zee mau ke rumah Oma buat ketemu Mama?" tanya Varest yang dijawab anggukan antusias oleh Zee
Bocah itu segera berlari turun dari ranjang dan meraih handuk yang tergantung di depan kamar mandi, saat kakinya baru satu langkah masuk kedalam kamar mandi dia tiba-tiba berhenti dan berbalik ke belakang mendapat sang Papa yang tak bergerak sedikitpun di ranjang.
Zee kembali mendekati Varest dan menarik tangannya dan berseru, "Ayo Papa, kita mandi cepat-cepat bial bisa ketemu Mama"
__ADS_1
Varest mengangguk mengikuti Zee yang terus menariknyanya untuk segera mandi.
Pesimis, mungkin itulah yang dirasakan Varest saat ini, sebuah alasan yang memungkinkan dia untuk tak lagi bisa melihat senyuman dan semangat dari bocah lucunya setiap pagi saat dia memutuskan untuk tetap membawa Zee kepada Rea. Hari ini.
Maka sekarang setiap jam bahkan detik sekalipun dia tak akan melewatkan kesempatan untuk tak mendengar tawa serta bulan sabit dari mata Zee.
Dengan berbagai candaan dia telah menyimpan di dalam hatinya profil wajah lucu nan menggemaskan milik Zee anaknya.
-
-
-
"Nak Varest"
Mama Jenny telihat kaget mendapati Varest telah berdiri di depan pintu rumahnya sambil menggendong Zee
"Rea di kamarnya, Nak" jawab Mama Jenny, "Masuklah dan datangi Rea diatas" lanjutnya sambil membuka pintu lebar-lebar untuk menantunya.
"Tidak sekarang Ma, dia tidak ingin bertemu dengan ku sekarang" ujar Varest mengingat pesan Rea
Sebelum berangkat ke rumah mertuanya untuk membawa Zee, lelaki itu sempat mengirim pesan kepada Rea meski butuh waktu setengah jam untuk pesannya terbaca dan dibalas namun itu tidak membuat dia pantang menyerah hingga beberapa kali dia kembali mengirim pesan dan akhirnya dibalas dengan kalimat yang cukup membuat dia merasa terhantam bebatuan yang begitu berat.
"Cukup antar anak ku kesini, dan tolong jangan temui kami, aku butuh waktu untuk melupakan ini"
"Rest, Mama tidak ingin ikut campur untuk masalah rumah tangga kalian, tapi Mama mohon kamu untuk tidak menyerah untuk Rea, ini kenyataan berat buatnya, Mama sebenarnya juga sangat menyayangkan tentang apa yang terjadi dimasa lalu, Mama dan Papa juga sangat sakit hati dan kecewa tapi jauh dari itu kami begitu percaya pada mu, kamu tidak mungkin sepenuhnya salah untuk kecelakaan itu dan menyebabkan Papanya..?
"Ma" Varest memotong kalimat Mama Jenny cepat seraya menutupi kedua telinga Zee yang nampak memperhatikan keduanya mengobrol
__ADS_1
"M-maaf Rest, Mama nggak bermaksud" ucap Mama Jenny tak enak, hampir saja dia keceplosan di depan Zee cucunya
Varest menggeleng maklum setelahnya beralih kepada Zee yang masih diam memperhatikan neneknya.
"Zee mau janji sama Papa tidak?" kata Varest, dia berlutut di depan sang anak sambil mengelus pipi cabi milik Zee.
"Janji apa Pa?" tanya Zee menelengkan kepalanya ke kanan dengan mata berkedip lucu
"Zee harus jadi anak pintar, tidak boleh nangis malam-malam, dan harus jagain Mama"
"Ji tidak nangis, ada Mama sama Papa malam-malam temanin Ji bobo, kan?"
Varest diam, kepalanya mendekat mencium dahi Zee lama setelahnya memeluknya erat.
"Kalau Papa tidak bisa temanin Zee bobo, Zee tetap tidak boleh nangis, kan ada Mama yang peluk Zee jadi harus pintar, Mama pasti sedih kalau Zee nangis"
"Kenapa tidak peluk Ji?, Papa kan malam-malam pulang sini, telus bobo beltiga peluk Mama"
"Papa harus kerja buat belikan Zee banyak mainan dan susu pisang, jadi kalau Papa tidak pulang berarti Papa lagi banyak kerjaan biar bisa belikan apapun yang Zee mau"
Bocah itu mengangguk antusias mendengar kata mainan dan susu pisang yang menjadi favoritnya. Varest melerai pelukannya dan kembali berucap yang sontak membuat air mata Mama Jenny yang berdiri didepannya menetes.
"Tolong sampein ke Mama yah, Papa sayang Mama dan gantikan Papa buat peluk Mama. Ok!"
"Ok, Ji juga sayang banyak-banyak sama Papa, beli susu pisang banyak-banyak telus Ji tambah-tambah sayang"
Ah, ini adalah moment berpamitan yang begitu menyayat hati bagi Varest. setelah berpamitan kepada mertuanya dan memastikan Zee masuk ke dalam rumah yang digandeng oleh neneknya, akhirnya dengan sakit yang begitu terasa mulai melajukan mobilnya.
Tanpa dia sadari jika wanita yang sedari tadi memenuhi fikirannya berdiri jauh dari balik gorden dan memperhatikan setiap langkahnya yang gontai hingga mobil yang dia kemudikan hilang dari pandangan.
__ADS_1
Wanita yang mengaku tak ingin bertemu namun begitu penasaran akan keadaan yang yang kemungkinan dirasakan oleh seseorang yang tak lain adalah ayah sambung oleh anak semata wayangnya.