Sunflower

Sunflower
Keyakinan Andi


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan pukul 7.25 malam saat Rea keluar dari kamar mandi setelah membersihkan diri, wanita itu tertidur ditengah tangisnya hingga menjelang sore dan terbangun kala Zee kembali ke kamar dan memeluknya erat.


Rea mendudukkan diri di depan meja rias, ingatannya terputar saat dimana dia pertama kali melakukan kewajibannya kepada Varest suaminya, serta janji yang tak dia ucapkan di depan Varest, janji yang dia pegang sebagai sebagai seorang istri.


Lamunannya buyar saat suara notifikasi chat masuk ke ponselnya, Rea meraih ponselnya yang berada di samping ranjang dan sedikit termangu melihat nama pengirim yang terpampang dilayar berukuran 6 inch itu.


Sebuah video yang berdurasi 5 menit 32 detik dikirim oleh Andi masih nampak buram, rasa penasaran Rea membuncah entah mengapa jantungnya tiba-tiba berdegup kencang saat mulai menekan tanda unduh pada layar.


Air mata Rea secara mendadak menetes melihat video yang dia putar, semakin lama hatinya semakin sakit mendengar setiap kalimat yang terucap dari orang yang ada dalam Video, sampai pada menit ke 4 dia membelalakkan matanya tak percaya.


Sebuah pengakuan dari seorang Varest bahwa lelaki itu mencintainya.


"Ma.." Panggil Zee yang entah kapan datangnya.


Terlihat bocah lucu itu membawa Sebuah ponsel dengan softcase motif iron man chibi yang menggantung dilehernya, ponsel yang dibelikan oleh sang Opa.


"Zee sudah mau bobo, yah?" Tanya Rea sambil mengangkat Zee untuk naik ke atas ranjang.


Zee menggeleng setelahnya menyerahkan ponselnya kepada sang Mama. "Zee lindu Papa" Katanya melas


Nampak raut sedih yang tercetak di bingkai wajah Zee, bocah itu memang begitu merindukan Papanya yang sudah tak bertemu langsung sejak dia diantar ke rumah Omanya. Bahkan tak jarang bocah itu akan mengigau saat tidur.


Rea menyadari bagaimana Zee sangat ingin bertemu dengan Varest, tapi karena hatinya yang sempat diliputi amarah tanpa sadar telah menyakiti hati dari malaikat kecilnya tersebut.


Maka, dengan semua pertimbangan akhirnya Rea kembali mengambil ponselnya berniat untuk menghubungi seseorang.


-


-


-

__ADS_1


Mobil Andi berhenti tepat di depan rumah orang tua Varest yang juga merupakan orang tua yang Andi anggap sebagai orang tua kandung.


Dengan tergopoh Andi memapah Varest untuk berjalan menuju pintu. Papa Zee itu masih setengah sadar akibat pengaruh alkohol yang dia minum tadi, setelah usaha setengah mati yang dilakukan oleh Andi akhirnya mereka sampai di depan pintu. Tetapi, sebelum Andi menekan bel pintu terbuka terlebih dahulu.


Terlihat Mama Nimas dan Papa Bayu keluar dengan piyama tidur dengan warna yang sama. Nampak jelas di wajah keduanya kekhawatiran akan anak semata wayang mereka.


"Apa yang terjadi, Nak" Tanya Mama Nimas, segera dia meraih sebelah tangan Varest.


"Biar Papa yang membantuku, Ma. Adikku ini terlalu berat kalau harus dipapah oleh Mama" Cegah Andi mengerti maksud wanita yang juga berperan dalam pertumbuhannya itu


"Benar kata anak sulung mu ini, lebih baik kami saja yang membawa bocah nakal ini ke kamar" timpal Papa Bayu mengambil alih sebelah tangan Varest.


Mama Nimas terkekeh mendengar panggilan suaminya kepada sang Anak. Memang tak bisa dipungkiri jika belakangan Varest begitu membuat mereka kewalahan dengan kebiasaan yang tak biasa darinya.


"Baiklah, baiklah. Bawa dia ke kamar tamu saja, kaki kalian akan patah jika membawanya naik ke kamarnya." Ujar Mama nimas sembari melewati Andi dan suaminya menuju kamar tamu


Kedua lelaki berbeda usia itu mengikuti wanita yang masih nampak cantik diusia senja itu menuju kamar yang di maksud. Andi kembali mengambil alih tubuh Varest sendiri saat mereka sudah berada di dekat Ranjang dan dengan hati-hati membaringkan Varest diatasnya.


"Sebenarnya dia minum berapa botol sampai tak sadarkan diri seperti ini?" Papa Bayu bertanya diselingi tangannya yang memperbaiki posisi bantal pada kepala Varest.


"Kalian jangan ngegibahin anak ku terus." tukas Mama Nimas yang baru kembali saat tadi keluar untuk mengambil air hangat untuk membasuh tubuh sang anak.


"Ma, aku juga anak mu, tapi dia selalu merepotkan ku." Protes Andi seraya menunjuk pada Varest yang masih sedikit meracau tidak jelas.


Papa Bayu tertawa mendengar protesan Andi, lelaki paruh baya itu merangkul bahu Andi dan mengajaknya keluar kamar.


"Kamu anaknya Papa, biar saja Mama mu yang mengurus Varest lebih baik kita keluar untuk minum teh sambil menonton sinetron" Bujuk Papa Bayu


Keduanya keluar dari kamar meninggalkan Mama Nimas yang ingin membersihkan tubuh Varest yang sudah bau karena alkohol.


"Papa masih suka nonton sinetron?" Tanya Andi heran saat tahu jika yang Papa Bayu katakan tadi bukanlah sebuah gurauan.

__ADS_1


"Of course, tidak ada yang salah kan jika Papa masih menyukai sinetron? Apa lagi sinetron yang dibintangi oleh Arya saloka da Amanda manopo." Jelas Papa bayu sumringah.


Mulut andi tebuka setengah tak habis fikir dengan kelakuan lelaki tua yang dianggapnya Papa itu, bagaimana bisa diusia yang sudah senja dan juga seorang lelaki tua dengan wibawa yang begitu kuat saat dibelakang meja kerja memiliki hobi menonton sintetron dengan genre romantis seperti itu.


Sebenarnya kesukaan Papa Bayu pada sinetron itu tak serta merta memang menyukainya tetapi karena sudah terbiasa dengan kebiasaan sang istri yang tak ingin ketinggalan menonton sinetron itu setiap malam, dan akhirnya berujung menjadi kebiasaan dia juga karena tak ingin mendapatkan omelan jika harus mengganti chanel.


"Duduklah" Titah Papa Bayu smbil menepuk sisi kosong sofa yang dia duduki


Andi mengangguk dan ikut duduk disebelah Papa Bayu, tangannya dengan sigap mengambil salah satu toples yang berada diatas meja setelah melihat isi yang ada didalamnya, cemilan kesukaan Andi dan juga Varest yaitu stik keju buataan Mama Nimas.


Dengan cemilan dan teh herbal yang menemani akhirnya Andi dan Papa bayu dengan serius menonton sinetron kesukaan Mamma Nimas itu.


"Bagaimana Varest, Ma?" Mama Nimas baru saja keluar dan bergabung dengan kedua lelaki berbeda usia itu saat Andi memberikan pertanyaan yang jels adalah tanda khawatir.


"Tadi dia sudah bangun, tapi karena pengaruh minumannya belum hilang dia tertidur kembali" Terang Mama Nimas mendudukkan diri di single sofa samping Papa Bayu.


"Syukurlah, setidaknya aku bisa pulang dengan tenang, Aku khawaitir kalau Varest akan bertingkah seperti malam kemarin yang mengamuk" Ucap Andi diselingi kekehan.


"Kamu tidak menginap, Nak?" Tanya Papa Bayu


"Tidak dulu Pa, aku harus pulang ada hal penting untuk aku kerjakan di rumah" Jawab Andi


Papa Bayu dan Mama Varest mengangguk paham.


"Ndi.." Varest yang hendak berdiri tiba-tiba berhenti saat suara Mama Nimas memanggilnya.


"Ya"


"Barusan Rea nelpon Mama, dia menanyakan apakah Varest ada disini atau tidak"


"Apa yang Mama khawatirkan?"

__ADS_1


"Mama hanya khawatir jika niat Rea menelpon Mama untuk menyampaikan kabar buruk" tukas wanita paruh baya itu sendu.


"Apa Rea mengatakannya?" Tanya Andi yang dijawab gelengan oleh Mama Nimas "Jangan khawatir, aku bisa menjamin jika malam ini adalah terakhir kalinya Varest menyentuh minuman itu" Lanjut andi menggenggam tangan Mama Nimas lembut.


__ADS_2