
SAH. Tiga huruf yang menjadi awal kehidupan baru dua anak cucu Adam-Hawa itu menggema diseisi ruangan menciptakan senyum lebar dari kedua orang yang berada di depan penghulu itu mengembang sempurna, doa yang dituntun oleh pemuka agama itu berakhir dengan ucapan ‘Amin’ serta sapuan telapak tangan pada wajah.
Suka cita tak dapat disembunyikan terlebih untuk dua orang yang saat ini saling melempar pandang penuh haru dan lega, tepat pukul 9.45 Andi telah resmi menjadikan Andin sebagai istrinya di depan semua para saksi, gadis yang sudah bertahun-tahun dia kejar dan nantikan balasan perasaannya itu akhirnya bisa dia dapatkan hari ini.
Ujung bibir Andi tertarik tipis kala melihat kedua pipi Andin yang terpoles makeup tipis nampak merona karena malu, meski hari ini adalah hari yang menjadi kesempatan untuk menampilkan sisi tercantiknya, namun Andin lebih memilih riasan dan gaun yang simple dan tak terlalu mewah, wanita cantik itu lebih menilai sakralnya suatu acara yang terpenting terlebih yang menjadi pasangannya adalah lelaki yang begitu mencintainya.
“Boleh?”
Pelan namun sanggup membuat jantung Andin memompa lebih cepat, sebuah pertanyaan yang Andin tahu pasti artinya. Andin mengangkat kepalanya yang sempat menunduk karena mencium punggung tangan suaminya, matanya mengerjap cepat melihat senyum Andi yang meneduhkan, setelah Andin melakukan bentuk hormatnya kepada sang suami kini giliran Andi yang akan mencium kening istrinya sebagai tanda kasihnya.
Setelah mendapatkan persetujuan dari sang istri Andi mulai mendekatkan wajahnya hendak menyentuh kepala Andin kemudian mencium keningnya. Gugup, itu yang saat ini dirasakan oleh pasangan baru itu bagaimana tidak, meski mereka sudah lama saling mengenal namun untuk pendekatan yang lebih serius mereka baru beberapa bulan melakukannya, dan Andin sendiri pun memang seorang wanita yang tak menyukai kontak fisik melebihi dari berpegangan tangan, terdengar kuno tapi itulah kenyataannya dan itu yang membuat Andi mati-matian mengejarnya
Kebahagiaan hari ini bukan hanya dirasakan oleh kedua orang yang sedang berada di pelaminan, tapi hal yang sama pun juga dirasakan oleh Rea yang saat ini berada di antara tamu yang turut menyaksikan acara sakral yang dilakukan oleh kedua orang terdekatnya tersebut.
Rea menoleh kesamping dimana Varest duduk sambil memangku anak keduanya, Ibu dua anak itu terkekeh pelan melihat sang putra yang malah tertidur dengan dot yang masih menempel di bibir kecilnya terlihat lucu apalagi Varest yang nampak seperti seorang ibu-ibu yang sedang menidurkan anaknya.
"Kenapa?" tanya Varest saat menyadari jika Rea sedang memperhatikannya
"Kamu lucu," jawab Rea seraya mengambil dot yang masih menempel di bibir Zayn
"Sayang, apa kamu tidak kasihan dengan ku?"
Rea mengangkat alisnya bingung, "Kasihan kenapa?" tanyanya
"Lihat di samping ku!" Varest mengarahkan pandangannya ke arah samping, dan ternyata bukan hanya si bungsu yang ketiduran melainkan juga si sulung Zee yang tertidur dan menjadikan lengan atasnya sebagai sandaran.
__ADS_1
"Ya ampun," Rea terkekeh seraya mengambil alih Zayn dalam gendongan suaminya.
Menggendong putranya selama acara membuat lengan Varest keram, Dia memijat lengannya kemudian perlahan memperbaiki posisi Zee yang bersandar di lengannya dan mengarahkan untuk sang putra tidur dalam posisi lebih nyaman yaitu di pahanya. Varest tahu jika putranya itu pasti bosan menunggu acaranya selesai karena sebelum Zee tidur anaknya itu memang sudah mengeluh bosan dan ingin segera mendatangi Andi, yah dia merindukan Omnya yang hampir seminggu tak mengunjunginya karena mengurus pernikahannya.
"Sayang, apa kamu sudah menyiapkan hadiah untuk Andi?" tanya Rea tiba-tiba ditengah fokusnya memperhatikan acara sungkeman kedua mempelai.
"Belum," singkat Varest menjawab sambil tangannya yang mengelus kepala Zee
Rea menautkan alisnya, "Kok belum?" ucapnya sedikit kaget mendengar sang suami yang mengatakan jika belum menyiapkan kado pernikahan untuk orang yang selama ini menjadi salah satu orang yang turut andil dalam hubungan mereka.
"Sayang, Andi sudah memiliki semuanya, dia tidak butuh kado lagi," jawab Varest santai
Mendengar jawaban Varest membuat Rea membuang muka jengkel. Bagaimana bisa seorang sahabat yang bahkan seperti saudara tidak diberikan apa-apa dalam acara bahagianya seperti ini, padahal dia sudah berharap jika suaminya itu akan memberikan hadiah pernikahan untuk Andi sendiri karena Rea pun juga sudah memilihkan hadiah untuk Andin sebagai karyawan dan sahabatnya.
"Sayang, kamu marah?" Menyadari kediaman istrinya, Varest tahu jika Rea pasti jengkel karena jawabannya.
"Jangan marah-marah!, acara bahagia gini kok malah ditekuk sih mukanya," kata Varest niat untuk menggoda tapi tak dihiraukan oleh sang istri, Rea masih saja membuang muka tak ingin melihat ke arah Varest padahal tangannya sudah digenggam oleh suaminya tersebut.
Rea mendelik menarik tangannya dari genggaman Varest enggan untuk bersuara. "Ya ampun sayang, aku hanya bercanda, aku sudah siapain hadiah pernikahan untuk kakak tersayang mu itu kok,"
"Benarkah?" Reflek Rea berbalik dengan wajah sumringah seperti seorang anak yang baru saja dibelikan sekantong permen.
Mata Varest mengerjap melihat ekspresi sang istri, segitu perhatiaanya dia pada sahabat rasa saudara Varest itu, sikap Andi yang selalu memperlakukannya selayaknya seorang adik membuat Rea merasakan adanya sosok kakak di diri lelaki yang baru saja resmi menjadi suami dari sahabatnya itu.
"Sayang, kontrol rasa bahagia mu itu, kamu membuat ku cemburu pada Andi, bisa-bisanya kamu marah pada suami mu hanya karena kakak mu itu!" rajuk Varest.
__ADS_1
Rea tertawa pelan mengusap pipi Varest lembut, "Kenapa harus cemburu? bukannya aku yang disamping mu ini tidak cukup membuat mu sadar kalau aku seutuhnya milik mu?" ucapnya, "Sayang, aku perhatian pada Andi itu karena dia adalah kakak kita, kamu tidak ingat bagaimana berperannya dia dalam hubungan kita?" lanjutnya
"Iya aku tahu, mana mungkin aku cemburu, aku malah sangat berterima kasih kamu bisa menyayangi keluarga ku seperti ini"
"Siapa bilang aku menyayangi mereka?"
"Re?" Varest membelalakkan matanya
"Hahaha, aku bercanda Papa Zee," Varest menghembuskan nafasnya lega, "Aku bukan hanya menyayangi mereka tapi aku mencintai mereka sama seperti kamu pada keluarga ku."
"Sayang, tapi aku tidak setuju kalau kamu mencintai mereka, cinta kamu hanya untuk aku."
Rea menghela nafas, sejak kapan suaminya ini menjadi lelaki yang begitu posesif seperti ini? bahkan sekarang Varest malah menggenggam tangannya erat sedangkan Rea sedang kesusahan karena sedang menggendong Zayn yang masih tertidur.
"Sayang, kamu cintanya sama aku saja, kan?"
"Iya-iya, sayang, aku cuma cintanya sama kamu," Rea memelankan suaranya agak malu jika orang-orang mendengar percakapan mereka yang seperti ABG yang kasmaran padahal mereka sudah memiliki 2 anak.
"Sayang, jangan kayak gini ihs, malu dilihatin orang." Rea tidak berbohong karena nyatanya sekarang Varest semakin menempel padanya hingga Zee yang awalnya tidur jadi terbangun karena merasa terganggu dengan pergerakan yang dibuat sang papa dan jangan lupakan orang-orang yang berada di dekat mereka yang memperhatikan kelakuan Varest beruntung orang-orang tersebut adalah keluarga sendiri.
"Aduh kak Rea, ribet yah ke kondangan bawa tiga anak sekaligus yang semuanya pengen dimanja." goda sepupu Varest yang berprofesi sebagai seorang dokter dan malah mengundang tawa dari yang lain.
Rea hanya bisa menyengir malu, sedangkan Varest? dia tak perduli sama sekali malah menyuruh sepupunya itu untuk menggendong Zayn yang juga terbangun.
"Ih, Papa bikin malu, padahal sudah ganteng-ganteng begitu tapi malah kayak anak kecil." kata Zee menohok hingga Varest tersedak ludah sendiri.
__ADS_1
"Ya Tuhan, siapa yang ngajarin anak ku ngomong begini sih?"