Sunflower

Sunflower
Terlihat lebih tampan


__ADS_3

Suara sepasang sepatu terdengar berjalan mondar-mandir yang digunakan oleh seorang wanita yang tengah dilanda cemas tak beralasan, kakinya bergerak cepat ke kiri dan ke kanan dengan tangan yang diremas di depan perutnya. Entah mengapa hari ini mood Rea sedikit tidak bagus setelah acara di sekolah Zee tadi pagi.


Ditatapnya kotak makanan berisi bekal makan siang yang sengaja dia siapkan untuk sang suami setelahnya beralih pada jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, sudah hampir satu jam dia menunggu kedatangan Varest sejak dia menelpon tadi.


"Rest" Tepat jam digitalnya menampilkan pukul 2 lewat 10 menit, Varest kembali ke kantornya dengan peluh yang sedikit menetes di dahinya.


Rea mendekati Varest yang masih berdiri di depan pintu, segera dia mengambil jas yang masih sama dengan jas yang sang suami pakai ke acara tadi pagi yang tersampir di lengannya.


"Maaf yah Re sudah membuat mu menunggu lama" Kata Varest sembari memberikan Jasnya pada Rea


Rea tersenyum samar, dia pun sebenarnya tak terlalu paham kenapa hari ini dia begitu ingin mengunjungi Varest di kafe padahal mereka belum terlalu lama berpisah setelah diantar pulang selesai acara. Suasana hatinya sedikit terganggu setiap kali mengingat interaksi ramah Varest kepada ibu-ibu muda yang ada di sekolah putranya.


Bagaimana Varest yang selalu menebar senyuman seperti kelopak bunga yang terlihat menarik dengan warna-warna segar membuat ibu-ibu disana seakan tak mengingat suami mereka sendiri. Yah, begitulah Varest sejauh yang Rea ingat, suaminya itu akan bersikap hangat kepada siapapun dan akan lebih terlihat menariknya saat dia sudah jauh lebih akrab.


Dan itu adalah suatu keterlambatan Rea untuk menyadarinya, Rea terlambat menyadari jika pesona sang suami jauh dari yang dia lihat saat baru pertama kali bertemu, entah mengapa belakangan Varest lebih memperhatikan penampilan dan itu membuat Rea dilanda kecemasan tanpa alasan seperti sekarang,


"Apa ini bekal makan siang?" Varest membuka kotak bekal yang ada diatas mejanya diselingi lirikan kepada Rea yang duduk di kursi depan mejanya.


Rea mengangguk canggung, ini adalah pertama kalinya dia datang tanpa memberi kabar dan membawa makan siang untuk Varest, "Aku bisa membawanya kembali, aku rasa kamu sudah kenyang, kan" ucapnya berdiri dan hendak meraih bekal di tangan Varest.


"Aku memang sudah kenyang. Tapi, sepertinya masih ada tempat di dalam perutku untuk menampung makanan ini" Balas Varest menarik kembali bekalnya.


Sejujurnya Varest sama sekali tidak merasa kenyang, selama beberapa jam dia berada di kantor Andi hanya sekedar curhat dan akhirnya mengikuti permainan sahabatnya itu untuk mengetahui perasaan Rea kepadanya, bahkan yang bernama Natali saja dia tidak tahu itu siapa, itu hanyalah akal-akalan yang dibuat Andi.


"Apa kamu kesini hanya untuk mengantarkan makanan ini?" Tanya Varest menyuapkan lauk kedalam mulutnya.


"Apa aku tidak boleh datang?" Jawab Rea dengan intonasi bicara yang tidak biasanya.


Varest mendongak memperhatikan ekspresi wajah Rea, "Bukan begitu, memang siapa yang bisa melarang mu untuk datang kesini?, hanya biasanya kamu akan mengabariku kalau mau datang." Tukas Varest melanjutkan suapannya.


"Rea menegakkan duduknya seraya mengedipkan matanya berkali-kali karena bingung jawaban apa yang harus dia katakan, "Eh, i-iitu tadi Mama menyuruhku untuk membawakan makan siang ini untuk mu." Rea menelan salivahnya susah karena telah berbohong membawa nama mertuanya.

__ADS_1


"Ini masakan Mama?" Tanya Varest yang dibalas anggukan oleh Rea.


"Iya, tadi aku mengunjungi Mama, katanya dia rindu dengan Zee dan kebetulan dia masak banyak jadi aku izin untuk membawakan mu bekal" ucap Rea


Varest reflek menoleh, bibirnya menipis mengetahui jika sang istri sama sekali tidak menyadari setiap kalimat yang dia ucapkan.


"Jadi, kamu disuruh Mama untuk bawa makanan ini atau kamu yang memang mau membawakan ku?" Varest bertopang dagu menunggu jawaban Rea.


"Tentu aku yang berinisiatif sendiri" Kata Rea cepat


"Oh iya?" Varest menaikkan sebelah alisnya, "Kenapa?, aku kan bisa makan siang di luar seperti biasa"


"Setidaknya hari ini kamu tidak perlu keluar kafe dengan penampilan seperti itu dan dilihat sama gadis-gadis muda centil diluar sana."


Varest memalingkan wajahnya kesamping dengan tangan yang menutup mulutnya menahan senyum. Ah, ini adalah kesempatan yang baik saat dimana Rea sama sekali tak menyadari setiap ucapannya karena suasana hati yang tak terkontrol dengan baik.


"Memang kenapa dengan penampilan ku, apa aku terlihat lebih tampan?" Kembali Varest bertanya seraya berdiri.


Mata Rea mengikuti gerak Varest, "Iya. gadis-gadis itu akan melihat mu seperti ibu-ibu di sekolah Zee, aku tidak suk.." Rea membelalakkan matanya seraya menutup mulutnya reflek.


"Mulutnya kenapa ditutup?, aku ingin mendengar kelanjutan ucapan mu " Varest membungkuk di depan Rea dengan kedua tangannya yang di letakkan di pegangan kursi untuk menopang tubuhnya. " Kamu tidak suk--" Ucap Varest mengulang kalimat terakhir Rea yang terpotong.


Rea gelagapan menggelengkan kepalanya berulang kali dengan tangan yang dilambaikan didepan dadanya, " Bu-bukan a-apa-apa Rest, a-aku hanya..." Rea tergugu bingung untuk melanjutkan kata-katanya terlebih tatapan Varest yang mengintimidasi tepat mengarah pada matanya dengan posisi wajah yang berjarak dua jengkal dari wajahnya.


Ditelannya salivahnya susah saat matanya tak sengaja beralih turun ke bibir Varest yang masih basah karena air yang sempat lelaki itu minum,


"Apa yang kamu lihat?" Ucap Varest tersenyum miring menyadari ketegangan dan arah pandang istrinya itu.


Segera dialihkan pandangannya, Rea cepat merogoh kedalam tasnya untuk mengambil ponsel yang beruntung berdering diwaktu yang tepat. Menggeser icon hijau dan mendekatkan di telinganya.


"Assalamualakum, Ma" Sapa Rea kepada orang diseberang sana yang ternyata adalah Mama Nimas

__ADS_1


"........."


"I-iya Ma, ini Rea sudah mau pulang"


"........."


"Bilang saja sama Zee untuk menunggu sebentar"


"........."


"Baiklah Ma, Waalaikum salam" Rea mengakhiri panggilannya setelah itu tersenyum paksa hendak berdiri namun ditahan oleh Varest.


"Rest, a-aku harus pulang, Zee sudah menunggu" katanya


Varest semakin mengeratkan pegangannya pada kursi dan membuat Rea terjebak di kungkungan lelaki tersebut.


"Kamu tidak bisa mengelak lagi Re," Kata Varest semakin mendekatkan wajahnya.


Sebenarnya Varest mendengar dengan jelas apa yang dibicarakan oleh Mama Nimas di telpon tadi, Mama Nimas bukan menelpon untuk menyuruh Rea untuk segera pulang karena Zee yang sudah menunggunya melainkan untuk meminta izin membawa Zee ke taman bermain bersama dengan Papa Bayu.


Bahkan Mama Nimas sampai memastikan jika Rea mendengarnya atau tidak karena jawaban dari Rea yang tidak sesuai dengan apa yang dia katakan.


Diangkatnya dagu Rea hingga membuat wanita itu mendongak dengan mata yang membulat, "Kamu tidak suka aku dilirik oleh wanita lain?"


Rea Mengangguk sekilas namun dengan cepat berubah dengan menggeleng kuat yang membuat Varest terkekeh gemas.


"Kenapa kamu menggemaskan sekali?" ucapnya seraya mengecup sekilas bibir ranum Rea yang sontak membuat Rea terpaku dengan bibir yang terbuka sedikit.


Cup


Cup

__ADS_1


Cup


Kecupan yang mendarat di wajah Rea membuat wanita beranak satu itu hanya diam dengan jantung bertalu-bertalu.


__ADS_2