
Sindrom kehamilan simpatik atau couvade syndrome adalah sebuah sindrom dimana tanda kehamilan yang biasa dirasakan oleh istri malah dialami oleh suami. Ngidam yang kerap kali dialami bagi ibu hamil berganti kepada suami yang merasakan simpati berlebihan kepada sang istri yang tengah mengandung hingga suami ikut merasakan apa yang seharusnya istri rasakan.
Begitulah kira-kira penjelasan Fani sejauh yang Varest ingat beberapa hari lalu, sampai sekarang gejala itu masih lelaki itu rasakan hingga membuat dia sedikit kesusahan. Sama halnya hari ini, tepat pukul 9 pagi Varest melangkahkan kakinya memasuki kantor dengan membawa satu botol champagne body splash fruit ditangan kirinya sedangkan tangan kanannya membawa aromatheraphy splash fruit yang dia dekatkan di bawah hidungnya
"Kamu.." Varest tiba-tiba berhenti sesaat setelah dia sampai di depan lift khusus pimpinan, matanya memicing pada dua orang karyawan yang juga berdiri menunggu antrian untuk masuk ke dalam lift karyawan di sampingnya.
"Iya, Pak?" Keduanya menoleh bersamaan.
Tanpa banyak kata Varest langsung mengangkat tangan kirinya dan menyemprotkan parfum yang dia pegang kearah karyawannya. "Aku pusing mencium bau parfum kalian" Sarkasnya, "Sekarang kalian boleh masuk" Lanjutnya ketika pintu lift terbuka.
Kedua karyawan tadi hanya bisa mengangguk canggung setelahnya bergegas masuk ke dalam lift dengan wajah yang sedikit pucat, takut? tentu mereka takut dengan Varest sekarang, bagaimana tidak takut mereka baru saja bekerja hari ini dan langsung dihadapkan oleh bos yang penciuman yang sensitif dengan bau.
Semua karyawan dan karyawati yang berada di lobi hanya bisa menundukkan kepalanya kala Varest membalikkan tubuhnya menghadap ke arah mereka. Varest mendengus sekilas setelahnya kembali menghadap lift yang sudah terbuka dan masuk kedalamnya.
Kepergian sang bos dari sana turut membuat semua karyawan bisa menghembuskan nafasnya lega, salah satu karyawati tiba-tiba menjadi objek kerumunan semua peghuni lobi ketika dia mengeluarkan parfum yang sama persis dengan apa yang dipegang oleh Varest tadi.
"Aku minta sedikit dong, Min!" Pinta salah satu karyawan yang bernama Mario kepada Mina sipemilik parfum. "sebentar lagi aku harus ke ruangan pak Varest, aku tidak mau diusir hanya karena wangi parfum ku yang tidak cocok dengan hidungnya." Ucapnya lagi seraya memasang wajah nelangsa pasalnya dia sudah pernah mendapatkan serangan parfum keseluruh tubunya karena memakai parfum yang tidak disukai oleh bosnya itu.
"Yah, beli sendiri lah, Yo!, Ini itu stok untuk beberapa bulan ke depan sampai istrinya pak bos melahirkan" Tolak gadis itu.
"Pelit banget sih, dikit doang, Min." Lelaki berambut belah tengah itu masih berusaha membujuk.
"Pelit, pelit. kamu tuh yang pelit sama diri sendiri!" Sarkas Mina, "Harusnya yah, kamu itu bisa lebih royal untuk kebutuhan pekerjaan mu, ini itu lebih dari kebutuhan premier sekarang kalau tidak mau dipecat hanya karena perkara bau badan. MALU!" Tekannya menohok
"Siapa yang mau parfum kayak pak Varest untuk kelangsungan hidup di kantor?!" Tiba-tiba Mina berteriak yang membuat semua karyawan disana langsung mengangkat tangannya bersamaan.
"AKU MIN, AKU, AKU" Begitulah kira-kira sahutan mereka.
Karyawan yang bernama Mina itu sontak tersenyum lebar kemudian membunguk untuk mengambil sesuatu yang berada di bawah mejanya, dia mengeluarkan satu dus berwarna coklat dengan ukuran lumayan besar sepertinya isi di dalam dus itu lumayan berat terlihat dari cara dia yang kesusahan memindahkan benda itu ke atas meja.
"Nah, ini aku jualan parfumnya." Katanya sembari mengeluarkan satu botol parfum dari dalam dus, "Murah saja kok, tidak sampai menghabiskan setengah gaji"
"Berapa emang?"
__ADS_1
Gadis itu mengangkat dua jarinya membentuk angka V sambil tersenyum lebar.
"20 ribu yah?
"Enak benar 20 ribu, jangan kan untung modalnya saja belum dapat." Ujar Mina tak terima dengan harga yang disebutkan teman-temannya. "200 Ribu" Lanjutnya yang membuat calon customernya berseru tak terima.
"Wahh, politik!"
"Wes, bercanda bae lah aku, harga teman ni aku kasih 100 ribu saja." katanya jumawa
Dan akhirnya lobi kantor megah itu menjadi lapak jual beli parfum yang terinspirasi dari bos mereka yang hanya menyukai wewangian fruity itu
-
-
-
"Mau saya buatkan kopi, Pak?"
Lelaki yang menjadi asisten Varest nampak melipat dahinya dalam, yang lelaki itu tahu orang yang baru beberapa minggu menjadi bosnya itu adalah pemilik cafe yang lebih menjurus ke menu kopi karena kecintaannya dengan aroma itu. Tapi, apa yang bosnya itu katakan sekarang? Dia tak menyukai kopi? Aneh. Batinnya.
"Kamu bisa pesankan aku jus strawberry." Ucap Varest akhirnya.
Lelaki dengan stelan formal itu mengangguk setelahnya keluar dari ruangan Varest hendak memberi tahukan kepada sekretaris untuk memesankan jus yang diinginkan sang bos.
Varest mendesah pelan seraya memijat pelipisnya, waktu terasa begitu lambat baginya dengan kondisi seperti ini dia sangat menanti waktu siang, Waktu terbebas dari derita morning sickness yang dialaminya hampir setengah hari.
Tok
Tok
Tok
__ADS_1
Pintu terbuka setelah Varest mempersilahkan. Seorang lelaki muda dengan seragam office boy masuk dengan membawa nampan berisi gelas tinggi yang sudah diisi oleh jus pesanan Varest.
Saat lelaki itu hampir sampai di depan meja Varest tiba-tiba berdiri dan menahan lelaki tersebut.
"Astaga Danang, kamu benar-benar menyiksaku." Ucapnya frustasi sembari menutup hidungnya.
Lelaki yang dipanggil Danang itu menunduk, dia tahu apa kesalahannya sekarang, dia benar-benar lupa mengganti parfum lamanya dengan parfum yang dia beli dari Mina tadi.
"Ma-maaf pak, a-ku lupa"Katanya pelan
"Letakkan jusnya di meja!" Titah Varest yang langsung dilakukan oleh Danang.
Varest berjalan menjauh dari meja dan memanggil Danang untuk mengikutinya.
"Masa iya aku mau dipecat gara-gara bau badan ku doang?" Batin Danang khawatir.
"Angkat kedua tangan mu!" Titah Varest lagi
"Astaga, berapa botol parfum yang kamu pakai?" Varest geleng-geleng kepala ketika aroma parfum dari tubuh Danang begitu menusuk hidungnya.
Seakan menjadi pelaku pencurian Danang hanya bisa menunduk tak bisa menjawab, bibirnya seakan kelu untuk membuat pembelaan.
Tanpa menunggu lama lagi Varest langsung mengarahkan botol parfum yang dia bawa ke arah lelaki muda berumur 23 tahun itu dan menyemprotkan ke seluruh badannya.
Seperti seekor nyamuk yang di semprotkan racun, Danang langsung merasa pening seketika mencium wangi parfum aroma fruit itu yang terlalu menyengat, tak masalah jika itu hanya sedikit tapi ini seluruh badan.
"Maaf menyinggung mu, Danang. Tapi, mengertilah posisi ku." Varest berucap tak enak, sungguh dia tak bermaksud untuk mengatur apa yang digunakan oleh semua karyawannya hanya saja ini juga demi kelangsungan kerjaannya.
Danang hanya bisa tersenyum pasrah meski matanya yang merem melek.
"Kamu boleh keluar!"
Sebenarnya bukan hanya mereka berdua yang ada di dalam ruangan itu tapi juga Asisten Varest yang ternyata juga harus menutup hidungnya dengan aroma bau badan Danang sekarang.
__ADS_1
Lelaki itu tersenyum miris saat Danang melewatinya untuk keluar ruangan sang bos.
"Malangnya nasib mu, Nak" Batinnya seraya mengeleng-gelengkan kepalanya.