
"Jagoan papa lagi ngapain?"
"Lagi masak. Pa"
"Hah?" Varest melipat dahinya bingung mendengar jawaban anaknya. Matanya melirik kiri dan kanan melihat barang-barang yang mengelilingi sang putra, hanya ada kertas warna-warni serta buku tulis lainnya.
"Papa Ihh, Ji lagi belajal malah ganggu-ganggu. Sudah lihat Ji pegangnya keltas oligami tapi masih nanya, nah kan, Ji jadi lupa cala lipatnya bagaimana." Omel bocah yang sudah berumur 4 tahun itu
Oh, astaga. Heran Varest belajar dari mana lagi anak ini sampai bisa menjawab seperti itu?. Bibir kiri bagian atasnya berkedut lirih niat ingin menyapa sebagai papa yang baik malah dijawab menohok seperti itu. Untung Varest sayang sama si sulung.
Varest mengerjap sekilas disertai kedua bahu yang terangkat kemudian melangkahkan kakinya meninggalkan Zee yang nampak tak ingin di ganggu, sang anak sudah memiliki dunia sendiri.
Pandangannya menyisir pada seisi kamar tak terlihat ada kehidupan disana, dia meletakkan tas dan jasnya dikursi kemudian kembali keluar kamar hendak turun menuju dapur mencari sang istri.
Lelaki itu tersenyum mendapati Rea yang sedang memasak dengan posisi membelakanginya, Varest bersandar pada bingkai pintu memperhatikan bagaimana sang istri memasak dengan telaten dalam keadaan perut yang tak lagi rata.
Tak terasa kehamilan Rea sudah menginjak bulan ke 6 masuk awal trimester ketiga, jenis kelamin sang calon bayi pun sudah mereka ketahui 1 bulan lalu saat ulang tahun si sulung dan menjadi hadiah terindah bagi Zee karena bisa melihat wajah adik yang dia tunggu walaupun belum terlalu jelas.
"Sayang?"
"Astagfirullah!" Rea terkejut hampir menjatuhkan pisau yang sementara dia pegang untuk memotong sayuran tatkala seseorang langsung memeluknya dari belakang.
"Rest, kamu mengagetkan ku! Bagaimana kalau pisau yang ku pegang ini jatuh dan melukai kaki ku?" Rea sedikit meninggikan intonasinya sembari menggeleng tak habis fikir.
Sedangkan Varest hanya bisa menunduk mendengar omelan sang istri, dia cukup payah dalam mengatasi amarah Rea jika sudah mengomel seperti ini.
"Sayang, maafin aku, yah?" Sesal Varest meraih tangan Rea dan mendekapnya di dada.
"Iya." Kata Rea akhirnya sambil menarik tangannya untuk terlepas dari genggaman suaminya.
Rea kembali melanjutkan pekerjaannya tapi tak lama dia kembali menghadap kepada Varest. "Jangan diulangi lagi!" Katanya memperingati yang dijawab anggukan antusias oleh Varest sambil tersenyum lebar.
"Aku cuma pengen peluk istri ku saja." Lirih Varest berbicara sambil tangannya terangkat memainkan rambut Rea yang terurai dibundaknya yang terbuka. Ada maksud terselubung.
__ADS_1
Rea sedikit bergidik geli saat tangan Varest menyentuh lehernya, "Iya sayang, aku tahu kamu mau peluk tapi harus lihat sikon juga, jangan pas aku lagi di dapur lagi megang benda tajam begini, kalau jatuh nggak kena kaki ajah tidak apa-apa, kalau pas aku reflek mutar badan terus kena kamu gimana?"
Reflek Varest menyentil bibir Rea, "Ih, mulutnya tidak boleh ngomong gitu, nanti ada malaikat lewat gimana?"
"Makanya jangan memicu."
"Lagian juga yah, malaikat itu memang selalu ada di dekat kita kayak malaikat Raqib dan Atid."
Varest menarik ujung bibirnya keatas, "Sayang, malaikat Raqib tugasnya apa?"
"Mencatat amal baik." Jawab Rea cepat.
"Kamu mau tidak amal baik mu bertambah dalam daftar tulisan malaikat Raqib?"
"Yah mau lah."
"Ke kamar yuk!"
"Mamaa, papaa..!"
Keduanya sontak menoleh pada asal suara, terlihat Zee datang dengan nafas yang memburu.
"Ada apa, Zee?" Tanya Rea penasaran
"Ji, mau nginap rumah Oma yah?"
"Ok, papa antar!"
Ah, semesta mendukungnya untuk menambahkan daftar amal baik untuk sang istri, tergesa Varest menaiki tangga menuju kamar mengambil kunci mobil berniat untuk mengantar sang putra ke rumah mertuanya tanpa menunggu jawaban Rea yang terpaku di tempat.
hanya sekitar dua menit Varest sudah kembali ke dapur dimana kedua orang yang dia cintai menunggu. "Ayo, Zee!" Ajak Varest sambil memutarkan gantungan kunci di jarinya.
"Mama, Ji belangkat dulu yah." Pamit Zee
__ADS_1
"Zee, benar-benar mau nginap di rumah oma?" Tanya Rea memastikan. Pasalnya beberapa hari ini sang putra tak tinggal di rumah, selama 3 hari dia tidur di rumah nenek dan kakeknya dan baru saja pulang saat siang tadi, tapi sekarang, dia ingin ke rumah oma dan opanya lagi?.
Zee mengangguk mantap, "Ji udah nginap di lumah nenek sama kakek, jadi sekalang Ji mau tidul di lumah oma dan opa lagi, bial tidak ada yang ili." Jawab Zee lugas.
Ah, dewasa sekali pemikiran bocah ini, bisa-bisanya dia memikirkan hal demikian. Varest tersenyum bangga pada sang putra, bayi yang dulu dia temukan dalam keadaan hanya terlilit mantel tebal dengan sedikit luka dilutut karena merangkak di tengah tumbuhan liar sekarang sudah tumbuh besar dengan kecerdasan yang kadang membuatnya bingung sendiri akan keingin tahuan sang anak.
"Zee sudah besar yah, sayang? sudah pintar memabagi waktu." Puji Varest menjurus pada sang anak.
"Tinggal huruf R sama Z saja yang masih harus banyak berlatih pengucapannya."
Sontak Zee menoleh pada sang papa yang sedang mengambil cemilan keripik bawang di atas meja. Matanya melotot jengkel mendengar ucapan papanya yang awalnya memuji tapi terakhirnya malah mengejek.
Ya, Zee sangat anti jika orang-orang membahas mengenai dia yang belum bisa mengucapkan huruf R dan Z dengan jelas, padahal namanya sendiri berawal dari salah huruf itu. Sial.
Meski usianya yang baru menginjak 4 tahun, tapi untuk masalah emosi dia sudah bisa diacungi jempol, bagaimana dia bisa mengatur emosi di usia yang masih begitu muda, itu karena pembelajaran yang selalu ditekankan oleh orang-orang yang berada di lingkup Zee terutama dari kedua orang tuanya yang notabenenya adalah dua orang yang memiliki hati yang lembut.
Tapi, jangan lupa. Dia juga masih seorang bocah yang kadang masih tak terima dengan ejekan yang mengarah padanya terlebih mengenai hal yang satu ini.
"Papa ihh, Ji masih belajal buat bicala yang benal!" Protesnya tak terima
"Sebental lagi juga Ji sudah bisa bilang ELR sma Jed" ujarnya menekan dua huruf yang bermasalah itu.
Rea terkekeh gemas melihat ekspresi Zee yang memanyunkan bibirnya, menggeleng sekilas dengan tingah suaminya yang suka menggoda sang putra.
"Iya, iya. Papa yakin Zee bentar lagi bisa ngomong Er sama Zed." Kata Varest akhirnya mengalah untuk mempercepat.
"Ayo, jadi tidak nginap di rumah oma?"
"Jadi, Mama Ji pamit yah, Assalamualaikum!" Zee menyalimi tangan sang mama setelahnya melenggang pergi meninggalkan dapur.
"Sayang, siap-siap yah. tunggu papa pulang." Ucap Varest sambil mengedipkan sebelah matanya kemudian menyusul Zee yang ternyata sudah duduk manis di dalam mobil.
Rea bergidik geli mendengar suaminya memanggil diri sendiri dengan sebutan Papa.
__ADS_1