
"Selamat pagi, Lia." Sapaku yang langsung loncat di sebelah Lia.
Gadis itu sedikit terkejut, matanya membelalak lebar. "Agatha!!!" Pekiknya langsung memelukku. "Si kampret? Kenapa gak bilang kalo hari ini masuk."
"Baru juga masuk udah diomelin." Dengus ku menekuk wajah.
Lia menggoyang-goyang kan tubuhku diperlukannya.
"Segitu kangennya lo sama gue?"
Lia menyengir lebar. "Banget. Gak ada yang dukung gue pas tarung sama Sata."
Aku tertawa. "Gue kan gak pernah dukung siapapun."
"Bodoamatlah yang penting gue seneng lo udah masuk." Kata Lia memeluk lenganku dan berjalan bersama. Gadis itu wajahnya sangat cerah dengan rambut dikepang dua. Menggemaskan. Tidak lupa dengan lesung pipi ketika tersenyum.
"Kok lo cuma jengung gue sekali sih." Protesku karena Lia memang hanya menjengukku satu kali selama aku di rumah sakit.
Wajah gadis itu berubah kesal. "Ini karena manusia kolot itu."
Aku menyengit bingung. "Manusia kolot siapa?"
"Siapa lagi kalo bukan Mark." Dengusnya. "Manusia itu ngelarang siapapun yang masuk ke ruangan lo. Alasannya lo butuh banyak istirahat."
"Hah?" Aku terkejut mendengar cerita Lia. "Yakin lo."
"Iya, kampret! Gue diusir mulu sama orang-orang berjas hitam didepan ruangan lo." Lia mencak-mencak. "Sampe pengen gue dobrak itu pintu."
Tawa ku pecah. Aku baru mengetahui fakta itu. Pantas saja tidak ada yang mengunjungiku saat di rumah sakit. Meskipun aku tidak punya banyak teman sih.
Ternyata semua itu ulah Mark.
"Btw, gue udah nyatet semua tugas biar lo gak ketinggalan pelajaran." Cetus Lia.
Aku langsung memeluk Lia. "Lo emang temen gue pasti setia se galaxy Bima sakti."
Lia bergidik ngeri. "Geli gue woi."
Tawa kami berdua pecah mengisi seluruh penjuru koridor. Hari ini hati ku sangat cerah.
Hari yang cerah dengan langit berwarna biru. Matahari juga tidak terlalu panas atau dingin. Sangat pas.
__ADS_1
Setelah aku merengek akhirnya Mark mengijinkan aku sekolah hari ini. Kemarin juga aku pulang ke rumah Papa. Dan reaksi mereka di luar ekspetasi ku.
Benar-benar di luar akal. Aku saja sampai tidak bisa berkata-kata. Ketika aku pulang mereka hanya menatapku diam. Tidak banyak pertanyaan.
Mereka mengabaikan aku.
Aku tidak ambil pusing. Toh, mereka juga tidak peduli denganku kan.
Jadi aku tidak perlu susah-susah menjelaskan kemana aku seminggu ini tidak pulang. Yang heboh malah Bibi, meskipun beliau tau dimana aku dari kak Asep. Bibi tetap terkejut melihatku tiba-tiba muncul di rumah.
Bahkan orang lain yang lebih mengkhawatirkan aku.
Aku tersenyum getir melihatnya.
"Tha, lo udah liat berita belum." Cerita Lia disepanjang koridor. Kelas ku berada di paling ujung jauh dari gerbang depan dan parkiran.
"Berita apa?"
"Lo gak tau?" Lia menyengit. "Ini berita tentang lo." Bisik Lia. "Lo berhenti dari dunia Entertainment?"
Aku menatap Lia sebentar, mencernah ucapan gadis itu. Sekilas aku teringat dengan syarat kakek. Ternyata kakek tercinta itu tidak main-main dengan ucapannya. Baru juga tiga hari yang lalu beliau memberi syarat dan sekarang syarat itu sudah dilaksanakan.
"Mana coba gue liat." Ujarku mendesak Lia. Pasalnya aku tidak mendengar berita apapun. Apa aku kurang update?
Aku melihat berita di layar ponsel Lia. Berita itu bertuliskan.
Kim Hyunsoo dikabarkan hiatus karena masalah kesehatan.
Eh?
Hiatus?
Loh? Maksudnya apa ini?
"Ada lagi ini." Lia menggeser layar ponselnya.
Hallo ini Kim Entertainment.
Kami ingin memberi tahu anda tentang status kesehatan Kim Hyunsoo sehingga harus menghentikan seluruh aktivitasnya. Setelah melakukan konsultasi dan pemeriksaan sebagai tindak lanjut dokter menyarankan agar Kim Hyunsoo mengambil perawatan dan istirahat yang cukup. Tentang album yang dijadwalkan dimasa depan akan tertunda sampai Kim Hyunsoo benar-benar dalam keadaan yang baik. Kim Hyunsoo akan istirahat dalam waktu yang tidak dapat ditentukan.
Terimakasih.
__ADS_1
Aku saling tatap dengan Lia. Kami berdua sama-sama memasang wajah tidak mengerti. Lia yang tidak mengerti dengan hiatus ku yang panjang dan aku yang tidak mengerti dengan berita ini.
Aku emang sudah hiatus sejak pindah ke Indonesia. Semua proyek film dan drama sudah aku selesaikan. Meski aku tidak bisa ikut promosi dengan aktor dan aktris lainnya.
Sepertinya itu taktik kakek.
"Lo beneran mau ninggalin dunia hiburan, Tha?" Tanya Lia.
"Entahlah kemaren gue buat perjanjian sama kakek. Gue tetep di Indonesia dengan syarat harus berhenti menjadi idol." Aku menceritakan pada Lia, jujur saja aku tidak bisa menyimpan rahasia dengan dia. "Kakek hampir menyeretku kembali ke Korea."
Lia menganga. "Pasti karena lo masuk rumah sakit."
Tepat sasaran, aku mengangguk. "Lagian gue juga berencana mau berhenti. Dunia hiburan itu kejam gak seperti keliatannya."
Lia mengangguk membenarkan ucapanku. Lia juga pernah sama sepertiku, karena suatu skandal Lia memutuskan untuk berhenti dan menetap di Indonesia bersama mama nya, sementara Papa nya masih di Korea bekerja. Terkadang dua bulan sekali Lia dan keluarga ke Korea mengunjungi papanya.
Apa yang aku katakan tentang dunia hiburan itu kejam adalah fakta dari kacamata ku selama ini. Sekarang aku tau alasan kakek tidak setuju jika aku bergabung dengan girl grup. Kakek bersikeras agar aku debut Solo.
Aku tau alasannya. Meskipun aku sangat ingin bergabung dalam girl grup. Semua itu ada kelebihan dan kekurangannya dan sekarang aku tidak pernah menyesali apa yang sudah aku lakukan dimasa lalu.
"Agatha."
Bukan hanya aku yang menoleh, Lia melakukan hal sama. Disana dalam jarak sepuluh meter ada Mark, Jeno dan Sata berjalan menuju arahku dan Lia.
Mark dengan wajah andalannya yang datar sedatar papan gilesan. Sata yang songong dan Jeno dengan wajah badboy andalannya. Hampir semua cewek di sekolah ini Jeno deketin. Cowok itu terkenal Playboy.
Aku masih belum mengerti bagaimana asal mula mereka menjadi satu circle. Mark anak IPA, Jeno anak IPS, dan Sata adek kelas. Mereka berada di kelas dan jurusan yang berbeda. Bagaimana ceritanya bisa lengket seperti itu?
Mark sudah berdiri di depanku, tangannya mengacak rambutku pelan dan kembali melanjutkan perjalanannya. Jeno mengedipkan sebelah matanya, sementara Sata berhenti di sebelah Lia.
Sata berdehem. "Duh masih pagi ini astaga." Goda Sata menatapku. "Dugun-dugun gak itu jantung."
"Kek ada orang yang ngomong ya, Lia." Ujarku pura-pura mencari sumber suara, seakan mengerti Lia mengikuti drama ku.
"Iya, heh! Seremnya." Lia memeluk lenganku. "Ada suara tak ada rupa."
Sata mendelik kesal. Wajahnya sudah tertekuk sempurna. Sata itu tampan dengan rambut berantakan, seragam yang setengah tidak dimasukan, wajah kusut baru bangun. Bagaimana bisa penampilan urakan seperti ini banyak disukai cewek?
Aku mengabaikan Sata dan memilih berjalan ke kelas yang tertunda dengan bercerita dengan Lia.
Sata menyusul dengan wajah merah dan kaki dihentak-hentakkan. Aku takut dia bakal menjadi siluman.
__ADS_1
...****************...