Sunflower

Sunflower
Zayn Almair


__ADS_3

“Mama tidak apa-apa kan, Om?


Entah untuk keberapa kalinya pertanyaan itu keluar dari


mulut bocah berumur sekitar  4 tahun itu,


semenjak mendapat kabar jika mamanya masuk rumah sakit Zee tak hentinya


menangis. Zee paham jika rumah sakit adalah tempat untuk orang yang sakit dan


membutuhkan pertolongan, oleh karenanya  Zee merasa khawatir dan ketakutan mamanya juga


merasakan demikian.


“Mamanya Zee tidak apa-apa kok” Andi berusaha menenangkan


Saat ini mereka sedang berada di café yang berada di


seberang rumah sakit tempat Rea dirawat, bukan hanya mereka berdua tapi juga ada


Andin dan juga Rani, mereka sengaja membawa Zee keluar dari rumah sakit karena takut


mengganggu penghuni rumah sakit disebabkan tangisan Zee yang tak berhenti.


“Mamanya Ji sakit apa, Tante?” Zee beralih bertanya pada


Andin yang tepat duduk di sampingnya, mata bocah itu sudah membengkak serta


hidung yang memerah seperti tomat.


Asisten Rea itu mengangkat tangannya mengelus rambut Zee


pelan. “Mama Zee tidak sakit kok, Mama Zee sehat dan sedang berjuang buat


ngelahirin adiknya Zee,” katanya berusaha member penjelasan kepada bocah itu


Zee mengerjapkan matanya lucu. “Nelahilin itu apa?” tanyanya


penasaran


Andin mendongak melihat kearah Andi dan Rani bergantian,


bingung untuk menjelaskan seperti apa, pasalnya diusia Zee yang masih begitu


dini Andin yakin seperti apapun dia menjelaskan bocah itu pasti belum bisa


mengerti maksudnya dia hanya akan tahu mengenai hasil akhirnya bahwa adiknya

__ADS_1


sudah bisa dia lihat.


“Mama lagi berusaha buat keluarin adiknya Zee dari perut Mama Zee,” Andi menimpali setelah dia menghabiskan kopi yang dia pesan


Andi sepertinya tidak berfikir lebih baik sebelum menjawab,


karena nyatanya setelah mendengar jawaban dari omnya itu Zee malah kembali menangis.


“HUAAAHH, pelut Mama pasti sakit, pelut Mama diilis kayak ikannya Nenek.” Bukan tanpa alasan bocah itu semakin histeris.


Beberapa hari lalu saat menginap di rumah neneknya, dia pernah menunggu sang nenek di dapur yang sedang memasak dan melihat neneknya tengah mengeluarkan isi perut ikan menggunakan pisau yang lumayan tajam dan itu membuatnya ngeri sendiri.


"Kamu gimana sih, Ndi. Bukannya nenangin malah tambah buat anak orang ketakutan." Gemas Rani memukul pudak Andi.


"Yah mana aku tahu kalau fikirannya sampe kesitu, Ran," elak Andi


"Kamu diam saja, biar aku yang ngomong," ucap Rani, wanita itu langsung mengelus pundak Zee kemudian berkata. "Zee sudahan nangisnya yah, adik Zee dikeluarin dari perut Mama itu bukan dengan cara yang Zee bayangkan, adiknya Zee itu keluarnya lewat jalan lain," ucap Rani yang sontak membuat Andi menepuk jidatnya sedangkan Andin langsung menunduk lesu.


kedua orang yang memiliki nama hampir sama itu sudah bisa menebak jika dalam kurun waktu beberapa detik akan ada pertanyaan baru yang akan ditanyakan oleh anak Varest itu.


"Kelualnya lewat mana, Tante?" Benar saja secepat bocah itu menghapus air matanyapun langsung melayangkan pertanyaan yang sudah bisa diduga sebelumnya.


Rani meringis sambil menggigit bibir atasnya menatap Andin dan Andi bergantian seakan dari tatapannya itu tengah meminta tolong.


"Tante, adik Ji kelu-"


Zee mengangguk. "Kalau Zee percaya berarti Zee juga yakin kalau Mama tidak akan kenapa-napa, Mama Zee adalah orang yang kuat dan dia kuat karena ada Zee."


"Telus kenapa Mama bisa masuk lumah olang saki?"


"Mama masuk rumah sakit bukan karena sakit, tapi lagi lihatin adiknya Zee,"


"Adik sudah tidak sembunyi lagi?"


"Iya, adiknya Zee sudah tidak sabar mau ketemu Zee"


Bocah itu langsung membulatkan matanya bersamaan dengan mulutnya yang ikut membulat, kedua tangannya dia letakkan di kedua pipinya. Mendengar jika adiknya sudah bisa dilihat rasa takutnya langsung lenyap berganti dengan rasa senang dan bahagia.


"Ji mau lihat adik," katanya sumringah


"Ice creamnya tidak mau dihabisin dulu?"


Zee menggeleng, dia sudah tak sabar untuk melihat sang adik. "Ji mau lihat adik aja." Ulangnya sembari berusaha untuk turun dari kursi.


"Yah sudah, ayo kita lihat adiknya Zee." Andin berdiri dan menggandeng tangan Zee.


Sebelum wanita itu melangkah dia sempat menoleh pada Andi dan juga Rani yang masih duduk, nampak Andi diam melamun seraya melihatnya sedangkan Rani masih menyeruput jusnya.

__ADS_1


"Kalian masih mau disini?" Tanya Andin akhirnya


"Kami akan menyusul" Jawab Rani, sikutnya menyenggol lengan Andi yang masih terpaku di tempat mungkin terlalu terpesona oleh wanita yang sudah menggandeng Zee itu.


"Baiklah, kami duluan." Andin mulai melangkah meninggalkan tempat karena Zee yang juga mulai tak sabaran.


Andin sempat menghela nafasnya saat dia kembali menoleh kebelakang sebelum dia benar-benar meninggalkan cafe itu berharap jika Andi sudah menyusulnya, tapi sepertinya lelaki itu masih membutuhkan waktu yang lama untuk bersama dengan teman masa kuliahnya.


"Awww, sakit, Ran" Keluh Andi saat merasakan lengannya dicubit.


"Kamu itu terpesona atau kesambet sih?" Rani menggerutu


Andi tak menjawab, dia sibuk menoleh ke kiri dan ke kanan karena tak mendapati Andin dan Zee di depannya.


"Sudah balik ke rumah sakit." Seakan mengerti apa yang dicari oleh lelaki di sampingnya, Rani langsung menyahut.


"Oh"


"Dia wanita yang pernah kamu ceritain?"tanya Rani tiba-tiba


Andi mengangguk mengiyakan.


Rani tersenyum sambil menggeleng. "Tak salah kalau kalian dijuluki saudara kandung tak seibu tak sebapak, bahkan untuk urusan wanita saja kalian memiliki feeling yang sama, sama-sama suka dengan wanita yang lembut dan keibuan."


-


-


-


"Suami ku mau menggendongnya, sus." Rea berucap pada salah satu perawat yang hendak meletakkan bayinya di dalam box bayi.


Varest mendekat ke arah samping brangkar dimana box bayinya berada. "Biar aku gendong, Sus," kata Varest


Suster itu memberikan sang bayi pada Varest yang sudah bersiap dengan kedua tangannya yang dia satukan di depan dada.


"Jangan tegang, Pak." Suster itu memperingati ketika melihat Varest yang malah seperti patung karena terlalu kaku dan tegang.


Varest mengucap Basmalah kemudian menghembuskan nafasnya pelan, bayi tampan itu telah berada di gendongannya. Bibirnya tipis dan berwarna merah, pipinya bulat serta hidung yang mancung.


Anak yang selama ini dia tunggu kelahirannya akhirnya sudah berada digendongannya dengan mata tertutup yang lucu.


Bayi laki-laki yang lahir di hari kamis pukul 17.25 dengan berat badan 2800gr dan panjang 49 cm itu terlihat sangat mirip dengannya.


"Siapa namanya, Nak?" tanya mama Nimas


"Aku dan Rea sepakat memberinya nama Zayn, Ma. Zayn Almair" Terang Varest yang disambut senyuman oleh kedua orang tuanya.

__ADS_1


__ADS_2