Sunflower

Sunflower
Praktek nyanyi


__ADS_3

“Pagiku cerah ku matahari bersinar, ku gendong tas merahku di pundak.”


Aku bersenandung ria disela jang koridor. Entah kenapa hari ini suasana hati ku bagus.


“Selamat pagi semua. Ku nantikan dirimu didalam kelas ku menantikan kami.


Sudah lama aku tidak bersenandung seperti ini. Lucu juga membayangkan.


“Selamat pagi Lia.” Sapaku pada Lia dengan senyuman cerah.


Lia mundur dua langkah menatap ku dari kaki sampai ujung kepala.


"Ada yang salah sama gue?"


Lia mengangguk. "Kenapa lo kek keliatan seneng gitu."


Bukannya menjawab aku malah tersenyum dan menggandeng Lia. "Gatau kenapa dari bangun tidur tadi hati gue seneng."


Lia tambah bingung melihat tingkah laku ku. Aku sendiri juga bingung.


"Pasti ada alasannya." Curiga Lia.


Aku mengangkat bahu. Tidak ingin ambil pusing dan memilih menuju kelas.


"Minggu lalu ada tugas nyanyi lo udah nyiapin mau nyanyi apa?" Lia menatapku menunggu jawaban.


Aku sampai lupa dengan tugas itu. Menyanyi ya, ada satu lagu yang terlintas di otakku.


"Kek nya gue bakal nyanyi laginya Keisya Levronka deh."


"Yang mana?" Tanya Lia.


"Tak pantas terluka."


Lia mangut-mangut setuju. "Pilihan yang bagus."


"Kalo lo?" Tanya ku.


"Gue masih bingung mau nyanyi apa." Jawabnya.


"Bukannya udah nanti ya prakteknya?"


Lia mengangguk lesu. "Masalah lagu sih gampang tapi prakteknya itu loh."


Dahiku berkerut. "Kenapa emang?"


"Lo gatau lokasinya dimana?" Tanya Lia menatapku.


"Ruang musik kan?"


Lia menggeleng. "Lapangan."


"Hah?!"


...****************...


“Gue denger nanti kelas lo ada praktek nyanyi ya Sat?”


Sata yang sedang makan itu hanya mengangguk membenarkan pertanyaan Jeno.


"Di lapangan dong?"


Lagi-lagi Sata hanya mengangguk.


"Bakal liat bidadarinya nyanyi nih." Goda Jeno menyenggol lengan Mark pelan.


Mark hanya mengangkat bahu acuh.


"Modelan ya aja gak peduli aslinya di dalam hati jedag-jedug." Sindir Sata tanpa menatap Mark. Bakso didepannya lebih menarik.


"Kenapa Pak Burhan selalu praktek nyanyi di lapangan?" Ujar Jeno entah pada siapa.


"Kek gatau guru satu itu aja sih." Sahur Sata. "Praktek nyanyi udah kek film horor di telinga."


"Setelah habis istirahat Sat?"


"Hooh. Lo tanya mulu deh lagi ngincer siapa sih?" Sata memancing matanya. "Jangan bilang lo mau liat Agatha nyanyi?! Tobat woi itu punya Mark."


"Tuh mulut emang minta dicabein ya?!" Kulit kacang terbang di wajah Sata. Jeno melemparnya dengan tenaga.

__ADS_1


"Lagian lo tanya mulu kek Dora."


"Serah lo Sat serah." Kata Jeno. "Lo kenapa Mark bersinar banget keknya tuh muka gue liat dari pagi."


"Cuma ada satu orang yang berhasil buat Mark kek orang gila gini." Cetus Sata. "Agatha lah."


Jeno bertepuk tangan heboh. "Gila! Perubahan yang sangat menarik."


"Sayang."


Sontak ketiganya menatap sumber suara. Melani datang dengan nampang di tangannya.


"Aku boleh duduk disini ga? Meja lain udah penuh." Tanya Melani dengan suara yang di lembut-lembut kan.


Sata memutar bola matanya malas. "Halah cuma mau modus kan lo sama Mark. Bisa langsung terbaca niat lo di sensor mata gue."


Melani menghiraukan Sata. "Boleh gak?" Ucapnya sambil menatap Mark.


"Duduk aja." Kata Mark.


Seakan mendapat lampu hijau dari Mark, Melani langsung mengambil duduk di sebelah Mark dan menggeser secara paksa Sata.


"Bocah edan!" Umpat Sata.


Jeno mengibas-ngibaskan tangannya didepan muka. "Haduh mendadak langsung panas nih hawa."


"Kek gimana gitu ya hawanya langsung mencengkam." Lanjut Sata melakukan hal serupa.


"Berisik banget sih lo berdua." Kata Melani.


"Kalo gamau berisik gausah di denger." Serca Sata.


"Gimana gue gak denger lo berisik didepan gue." Sewot Melani.


"Berarti lo yang harus pergi." Jawab Jeno.


"Lo ngusir gue? Jelas-jelas Mark yang ngijinin gue duduk. Kalo gamau kalian aja yang pergi sono." Usir Melani.


"Ngelunjak dia Jen."


"Ngelunjak dia Sat."


"Kasih wejangan aja Sat."


Mark menggelengkan kepala pusing melihat kedua temannya yang sudah mulai kompak ini.


"Mark mau kemana?" Tanya Melani ketika mengetahui Mark berdiri dari duduknya.


"Kelas." Jawabnya singkat.


"Aku belum selesai makan loh Mark. Aku juga baru duduk disini." Kata Melani mencegah Mark.


"Itu urusan lo bukan urusan gue." Kata Mark pergi meninggalkan kantin.


"Emang kalo dasarnya uler tetep uler ya." Ujar Sata berdiri dari duduknya. "My swety buny tungguin akuuu."


Jeno tertawa. "Usaha lo bagus juga." Smirk Jeno.


Melani menghentakkan kakinya kesal. Usahanya gagal total. Kapan Mark akan membuka hati untuknya.


...****************...


“Ini seriusan praktek di tengah lapangan kek gini?" Aku berbisik pada Lia yang duduk lesehan di sebelahku.


Kini kelas ku mendapat tugas praktek bernyanyi secara individu. Dan anehnya praktek itu dilaksanakan di tengah lapangan.


Ditonton banyak orang.


Aku gatau kenapa ini semua kelas masih di luar padahal bel sudah berbunyi lima menit yang lalu.


"Ini kok banyak yang di luar?" Tanya ku lagi pada Lia.


Lia menghembuskan nafas pelan. "Pak Burhan emang gini dari dulu kalo praktek nyanyi pasti di tengah lapangan kek gini. Dan pas banget hari ini guru ngadain rapat makanya semua masih ada di luar."


"Kenapa pak Burhan gak ikut rapat?"


"Gue aja juga heran."


Sata mengangkat tangannya. "Pak kenapa bapak gak ikut rapat juga?"

__ADS_1


Sepertinya cowok itu tidak rela jika kelasnya sendiri yang pelajaran sedangkan kelas lain kosong.


"Kan ada praktek jadi bapak gak ikut rapat." Jelas Pak Burhan.


"Kan prakteknya bisa minggu depan pak." Sata tidak menyerah ternyata.


"Gak rela kamu kelas mu yang pelajaran sedangkan yang lain kosong?" Serga Pak Burhan dengan galak.


Sata menyengir lebar. "Enggak kok pak saya kan cuma tanya."


Ternyata nyali Sata hanya sebatas itu. Tapi dipikir-pikir aku jadi kangen sesuatu.


"Oke seperti janji minggu lalu kita akan melaksanakan ujian praktek. Kalian sudah siap?" Pembuka Pak Burhan.


"Belum." Kompak satu kelas.


"Ternyata udah siap semua ya. Karena saya sudah tau suara kalian jadi hari ini Agatha yang maju dulu." Pak Burhan menatapku dengan senyuman lebar. Sungguh itu terlihat seperti senyuman mematikan di mataku.


Aku menatap Lia meminta bantuan tapi nyatanya anak itu malah mendorong ku ke depan.


Lia kampret!


"Saya ingin tau suara indahnya Agatha." Kata Pak Burhan. "Kamu mau nyanyi lagi apa?"


"Tak Pantas Terluka - Keisya Levronka." Kata ku.


"Silahkan mulai."


Aku memetik senar gitar dengan merdu. Semua orang memandangku di tengah lapangan. Gugup sekali. Meskipun aku sudah terbiasa diatas panggung tetap saja akan merasa gugup di saat seperti ini.


Terlalu lama ku simpan semua perasaanku


Pada dirimu


Yang ku tutupi sebagai teman


Terlalu lama ku mencintaimu dalam diam


Tak bisa apa-apa


Karna kau telah bersamanya


Aku bernyanyi dengan lembut, jari lentik ku juga menari-nari pada senar gitar.


Dan hari ini ku lihat kau menangis didepanku


Itu karna dia


Dia yang kau banggakan


Terpukul hati ini ingin berteriak kepada dirimu


Seandainya ku bisa ingin aku katakan


Jika boleh biarkan aku bahagia bersamamu


Aku mengakhiri dengan sentuhan indah nada dari gitar. Sedetik kemudian suara tepuk tangan dan sorakan terdengar.


Aku tersenyum menanggapinya.


"Hebat bagus sekali suara kamu Agatha." Puji Pak Burhan.


"Terimakasih pak."


"Selanjutnya Sata."


Sata maju dengan percaya dirinya. Mengambil gitar ku dan duduk ditempat ku tadi. Cowok itu juga menjadikan gitar sebagai alat musik.


Aku bertos ria dengan Lia.


"Lo keren banget." Lia memberiku dua jempol.


Aku terkekeh melihatnya. Tidak sengaja aku menatap ke lantai dua.


Disana Mark tersenyum melihatku.


Aku membalas senyumannya.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2