
Suara deringan ponsel terdengar menggema di dalam ruangan dengan desain kontemporer berwarna krem mengagetkan seseorang yang tengah tertidur di sofa, tubuhnya menggeliat namun kembali terlelap setelah mengambil bantal sofa untuk menutupi telinganya.
Lelaki yang tingginya melewati sofa itu agaknya kelelahan bekerja hingga tertidur di kantor dengan dokumen yang masih berserakan diatas meja kaca, matanya mengerjap kala terasa tepukan pada punggungnya yang berasal dari tangan kekar Varest.
"Apa sih?, Aku masih ngantuk" lelaki itu mengerang, dibalikkannya tubuhnya menghadap pada sandaran sofa masih malas untuk bangun dan meladeni Varest yang ditahunya pasti datang untung pamer.
"Rejeki mu akan dipatok si ayam kalau begini terus, Ndi. Bangunlah" Varest mengambil bantal yang menutupi telinga Andi.
"Aku begini juga karena ngurusin rejeki Rest" keluh Andi sembari bangun dari tidurnya dan setelahnya duduk dengan bantal yang diletakkan dipangkuannya.
"Aku mengerjakan dokumen ini sampai jam tiga subuh, tidak kah kamu melihat usaha ku mencari rejeki?, sungguh terlalu si ayam kalau masih sempatnya mematok rejeki ku" ocehnya masih jengkel karena dibangunkan saat masih ingin tidur.
Varest terkekeh, "Rejeki itu tidak melulu tentang uang, yah mungkin untuk materi sudah kamu dapatkan, tapi ini?" ujarnya sambil menunjuk dada kiri Andi "kosong bro"
Lelaki yang ditunjuk itu mencibir, sudah dia katakan bukan? kedatangan sang sahabat rasa saudaranya ke kantor hanya untuk pamer sekalian menceramahinya, padahal Varest sendiri baru hitungan bulan memiliki tujuan pulang yang lebih besar selain anak.
"Apa kamu tidak iri padaku?" tanya Varest yang ternyata sudah berpindah duduk disebelah Andi
"Tidak"
Varest menyeringai, "Ayolah Ndi, kamu pasti iri, bukan?"
"Kamu tahu?, sekarang ini kecebong ku sedang lomba renang"
"Ya.. ya.. ya, bagaimana aku tidak tahu kalau dari kemarin kamu mengatakannya terus" Andi mulai jengkel "Apa yang harus dibanggakan dari kamu yang mendapatkannya setelah satu bulan menikah?" sarkasnya.
Lelaki yang awalnya ingin memanasi sang sahabat itu hanya terkekeh malu, dia kalah telak, ucapan Andi memang benar adanya bahkan diapun menyadari jika hubungannya sekarang dengan sang istri masih sebatas tanggung jawab dan hak semata. Miris bukan?.
Lelaki itu mendesah pelan, tangannya meraih kopi yang dia bawa dari kafenya dan menenggaknya. Tak ingin menjadi bahan ejekan akhirnya dia mengutarakan maksud kedatangannya ke kantor sang sahabat.
__ADS_1
Lalu lalang kendaraan terlihat jelas dari tempat dimana Varest dan Andi duduk disebuah restoran yang menyediakan menu sarapan sehat, kedua lelaki yang memiliki perbedaan usia beberapa bulan itu sedang menunggu pesanan mereka.
Sekitar sepuluh menit pesanan mereka sudah tersedia di atas meja, Varest hanya memesan segelas Cappuccino Latte karena sebelumnya sudah sarapan di rumahnya bersama keluarga kecilnya, sedangkan Andi memesan makanan berat untuk menu sarapannya.
"Sebenarnya apa yang terjadi, kenapa Papa mu bisa meminta ku untuk membujuk mu" Tanya Varest memulai setelah sarapan Andi tersisa sedikit.
"Kenapa kamu tidak mencoba menyenangkan Papa Hamran dengan menyetujui keinginannya?"
"Astaga, ini tidak sama dengan kasus dimana Papa Bayu menyuruhmu untuk memegang alih perusahaan, ini menyangkut masa depan ku nantinya" kembali Andi mengeluh.
Papa Hamran adalah Papa dari Andi, semenjak pernikahan Varest diadakan sebulan yang lalu beliau menjadi sering mendesak Andi untuk segera mencari seorang istri sama seperti sang sahabat. Dan selama sebulan ini sudah empat wanita yang diperkenalkan kepadanya namun tak satupun yang berhasil menembus benteng pertahanannya, hingga sang Papa meminta bantuan kepada Varest untuk membujuknya karena takut jika anak satu-satunya itu memiliki kelainan.
"Yang dia ingin itu aku untuk mencari istri, dia fikir istri gampang dicari kali yah seperti manekin pakean yang berjejer di pasar dan mall" ujar Andi
Varest tertawa lebar, sahabatnya ini masih saja bisa bercanda untuk sesuatu yang seharusnya membuat dia pusing, "Kamu bisa menunjuk mereka" katanya sambil melihat kearah jalanan, "Itu.. itu.. itu" tunjuknya pada kumpulan gadis yang duduk di luar restoran.
Andi beralih pada objek yang ditunjuk oleh Varest, "Andin?"
__ADS_1
"Hah? Andin?" Tanya Varest yang memang tak melihat karyawannya itu.
"Itu Andin kan?" Andi memastikan
Varest menyapu pandangannya ke arah depan restoran, nampak Andin yang berdiri ingin masuk ke dalam taksi tapi tiba-tiba seorang lelaki menarik tangannya.
"Bukannya dia sedang ada di kafe?" tanya Andi
"Hari ini dia ada izin untuk tidak ke kafe karena ada urusan keluarga"
"Terus kenapa dia ada disini? dan siapa laki-laki itu?"
Varest memutar bola matanya malas, "Ayo kita kesana dan tanyakan langsung padanya" ditariknya tangan Andi untuk keluar tapi sebelumnya mengeluarkan beberapa lembar uang untuk membayar bill dan di letakkan di meja dan berlalu setelah memanggil seorang pelayan restoran.
Sayup terdengar percakapan antara Andin dengan lelaki di depannya, hingga Andin kembali ditarik oleh lelaki itu yang membuat Andi dan Varest untuk telibat pada masalah Andin lebih jauh.
Andi mengajak Varest untuk mendekati Andin, "Ada apa ini?" tanya Varest saat mereka sudah berada di depan Andin
Reflek tangan lelaki yang menarik Andin terlepas, ditatapnya Varest tak bersahabat dan bertanya, "Apa dia kekasih mu?"
"Dia bos ku" jawab Andin merasa tak enak.
Kembali lelaki itu menarik tangan Andin, "Ayo kita pergi, bukannya kamu harus segera resign?"
"Aku harap kalian tidak akan ikut campur urusan orang lain" tekannya pada Andi dan Varest.
"Lepas Ger, seharusnya kamu yang tidak mengurusi ku" ucap Andin berusaha melepaskan tangannya dari Geri.
kedua lelaki yang sedang memperhatikan interaksi Andin dengan lelaki yang dipanggil Ger itu nampak emosi dengan perlakuan Geri yang telalu kasar.
__ADS_1
"Bisa kah kamu melepaskan tangan mu dari kekasih ku?