
Sejak tadi bibir pink Rea mengerucut, kakinya dia hentakkan kesal melihat Varest yang masih sibuk dengan laptopnya. Kanta yang berada di ruangan Varest hanya sesekali melirik pada istri bosnya tersebut, bibirnya tersenyum tipis mengerti arti dari kode yang dilakukan oleh wanita yang tengah hamil muda itu.
Bukan ingin mengabaikan Rea, tapi Varest memang sedang mengejar waktu sekarang. Tangannya lihai berpindah dari satu berkas ke berkas lain membaca dan meneliti jika adanya kekurangan dari setiap laporan yang tertulis di berkas tersebut, Sejauh ini Varest tak ada kesulitan mengenai setiap proyek yang dia pegang karena ada Kanta yang menemani.
Kanta adalah sekretaris Papa Bayu yang dia angkat menjadi asisten pribadinya, segala sesuatu entah itu mengenai kerjaan atau bukan Varest akan mengandalkan lelaki muda itu. Mereka sudah cukup dekat sebelum Varest memutuskan untuk memegang penuh urusan perusahaan peninggalan kakeknya. Bahkan Andi sebagai sahabat Varest pun mengenal baik lelaki tersebut.
"Rest, sepertinya kamu harus menyelesaikan sesuatu." Bisik Kanta disertai matanya yang melirik Rea yang tengah memainkan tangannya.
Varest mendongak menatap Kanta kemudian beralih pada arah pandang lelaki itu yang tertuju pada sang istri.
"Kenapa?" Tanya Varest singkat. "Sebentar lagi aku selesai" Lanjutnya kembali berfokus pada lembaran yang memusingkan di depannya.
Bukan, bukan itu maksud Kanta, dia bermaksud mengingatkan jika ada wanita yang tengah menunggu bosnya itu untuk memberi penjelasan.
"Kita bisa selesaikan itu selesai makan siang!" Ujar Kanta mengambil berkas yang berada ditangan Varest.
Varest melipat dahinya bingung, ditatapnya asistennya itu dengan mata yang menyipit berusaha untuk mengerti kode mata yang diberikan lelaki tersebut.
"Kenapa mata mu?"
Kanta mendengus, "Astaga, Rest. Apa kamu lupa kalau ada Rea disini?" Varest reflek menoleh kembali kepada istrinya yang duduk di ujung sofa.
Varest menelan salivahnya kasar, sebenarnya bukan lupa akan keberadaan sang istri, tapi dia lupa jika dia ada utang penjelasan kepada wanita yang tengah mengandung anak keduanya tersebut.
Setelah Rani pergi Rea tak hentinya bertanya mengenai wanita yang ingin mengajaknya makan siang tadi, rasa penasaran Rea seakan mencuat bebas dari benaknya saat melihat ekspresi kecewa yang tergambar pada wajah cantik Rani ketika Varest mengatakan jika dia sudah memiliki istri.
Tapi karena masih ada pekerjaan yang harus dikerjakan oleh Varest alhasil dia harus menunggu saat suaminya itu bilang akan menceritakan setelah pekerjaannya selesai. Namun, bukannya Varest yang merasa terganggu dengan kode halus yang dilakukan oleh Rea melainkan Kanta yang sedari tadi berada disana.
Lelaki yang muda setahun dari Varest itu merasa gemas-gemas jengkel pada sang bos yang seakan tak memiliki rasa peka jika seorang wanita tak memiliki kesabaran tinggi untuk menunggu penjelasan saat rasa penasaran sudah bercokol dalam fikirannya, alhasil Kanta harus berinisiatif sendiri untuk menunda pekerjaan Varest.
__ADS_1
"Sayang?" Varest mengelus pucuk kepala rea sembari duduk di samping sang istri.
Rea menoleh sambil mengulas senyum tipis, "Sudah selesai?" Tanyanya, matanya melirik pada meja suaminya yang masih menumpuk banyak kertas.
"Belum"
"Selesaikan saja dulu, aku bisa menunggu sampai kamu siap untuk bercerita, bahkan aku bisa menunggu sampai besok!" Sarkas Rea yang membuat Varest harus tersenyum canggung.
Tangan Varest menelusup pada pinggang sang istri sambil mencium pundak Rea yang sedikit terbuka, "Mana mungkin aku membuat kesayangan ku menunggu terlalu lama, aku tidak akan membiarkan kamu berfikiran yang tidak-tidak masalah wanita tadi." Imbunya sembari mengelus perut Rea.
Kanta yang masih berada disana hanya bisa mencebikkan bibirnya. "Tidak membuat menunggu lama?, padahal harus dipaksa berhenti baru dia sadar" Gumamnya kemudian meraih knop pintu untuk dia keluar, tak ingin melihat keromantisan yang sebentar lagi tercipta di ruangan itu. Jiwa jomblonya tidak sekuat itu.
"Sebenarnya siapa wanita tadi?" Rea bertanya tak sabar.
"Kamu sudah tahu namanya tadi" Jawab Varesy enteng.
"Yah, aku tahu namanya Rani dan aku rasa pernah mendengar nama dia sebelumnya."
"Reeesssst" Rea sudah tak bisa menahan jengkelnya, Varest seakan senang membuatnya emosi dengan menggodanya.
"Iya sayang, iya. Dia Rani orang yang sama dengan yang pernah diceritakan oleh Andi dulu"
"Rani mantan mu?"
"Jangan sembarangan, bukan mantan, aku tidak pernah pacaran dengannya" Elak Varest tak terima dengan ucapan Rea.
"Jadi?"
Varest berdehem sekilas sebelum bersuara lebih banyak, pundaknya dia pasrahkan bersandar pada sandaran sofa dan menarik tubuh Rea untuk menempel padanya. Rea menunggu kelanjutan cerita Varest sambil mendongak meneliti garis rahang Varest dari dalam dekapan sang suami.
__ADS_1
"Aku rasa kamu sudah mendengar ceritanya dari Andi"
"Hmm, aku pernah mendengarnya tapi aku ingin mendengar langsung dari mulut suamiku"
Varest tersenyum, "Apa tidak masalah aku menceritakannya?, aku takut kamu akan terbawa pada kejadian itu"
"Tidak, aku tidak berfokus pada kecelakaan itu, apa kamu lupa kalau aku pernah bilang sudah mengikhlaskannya?, jadi, tidak masalah untuk aku mendengarkannya, itu tidak ada pengaruhnya."
Varest mengangguk sekilas sembari mencium puncak kepala sang istri. "Sebenarnya aku tidak tahu pasti mengenai dia, kami hanya berteman di kampus sama halnya dengan teman-teman ku yang lain aku memperlakukan mereka sama, tapi aku dengar dari orang disekitar ku kalau Rani menyukai ku. Awalnya aku tidak terlalu peduli sampai salah satu teman ku mulai mengikis jarak karena cemburu, dia tidak suka kalau Rani selalu mencari perhatian ku walaupun aku tidak memperhatikannya." Jelas Varest panjang lebar.
"Teman mu itu yang mengajak mu balapan?" Rea penasaran. telunjuknya bermain di dada bidang Varest.
"Iya, dia menantang dan aku menerimanya, bukan karena ingin membuktikan kalau aku lebih darinya, hanya saja perasaan ku memaksa untuk meyakinkan dia bahwa fikirannya salah yang mengira jika aku memberi harap pada Rani, aku tidak mau kalau dia terus menjauh dan menjadikan aku sebagai musuh hanya karena seorang wanita yang sama sekali tidak penting bagiku, maka dengan menyetujuinya itu akan membebaskan ku dari rasa bencinya."
"Apa kamu sudah tahu kalau dia akan ada di meeting tadi?.
"Aku tidak yakin, tapi aku memang merasa sedikit aneh dengan perusahaanya, sebelum memilih bekerja sama dengan kita, mereka sudah ditawari kerjasama dengan perusahaan yang lebih menjanjikan dari AdVar Company dengan proyek yang sama, tapi mereka malah memilih perusahaan kita. Setelah aku pelajari berkas perusahaan mereka aku baru tahu kalau itu adalah perusahaan dari keluarga Rani, dugaanku semakin kuat saat Kanta mengabari ku jika proyek itu akan dipegang oleh anaknya langsung.
"Bukannya terlalu percaya diri, tapi aku merasa kalau Rani masih memiliki perasaan padaku dan itu terbukti dari cara dia melihat ku selama meeting tadi. Aku memperhatikannya-"
"Kamu memperhatikannya?" Pekik Rea, bangkit dari pelukan Varest yang sontak membuat ucapan lelaki tersebut menggantung.
"Bu-bukan begitu, sayang" Varest gelagapan melihat tatapan nyalang sang istri. "Aku hanya memastikan kalau dugaan ku benar, setidaknya aku tak salah mengambil keputusan untuk mengajak mu"
"Buat apa?, supaya aku cemburu? atau supaya aku marah?, gitu?"
Varest membuag nafasnya kasar seraya mengusap wajahnya, "Buat apa aku melakukan yang kamu tuduhkan, sayang? itu hanya akan membuat ku tersiksa sendiri"
"Aku mengajakmu agar dia tahu, kalau dia tidak ada kesempatan bahkan tak pernah memiliki kesempatan untuk hadir di hidupku, karena sudah ada wanita cantik yang mengisi seluruh hati ku, yaitu Edrea Leteshia ibu dari anak-anak ku."
__ADS_1
Ah, gombalan maut meluncur bebas dari bibir Varest. Siapa yang mengajarinya? Tentu Andi orangnya.