Sunflower

Sunflower
Zee mau punya adik?


__ADS_3

Suasana kafe menjelang jam makan siang terlihat lebih ramai dari tadi pagi saat jam sarapan, pengunjung bergantian masuk dari yang hanya sendiri hingga membawa pasangan serta para pelajar ataupun pekerja, semuanya nampak menikmati suasana dan pelayanan yang disediakan oleh kafe yang baru buka beberapa hari ini.


Selama seminggu kedepan Rea akan bekerja di kafe cabang sekaligus memantau bagaimana perkembangan awal dari pembukaan kafe, dia berharap jika kesan baik yang diterima oleh pengunjung dapat menarik minat mereka untuk berlangganan di kafe baru itu.


"Andin" Panggil Rea kepada Andin yang sedang duduk sambil mengerjakan data kafe di sofa di dalam ruangannya.


"Iya, mbak?"


"Kita punya persediaan jahe tidak yah di dapur?"


"Jahe?" Andin menautkan alisnya, "Seharusnya ada, mbak Rea mau buat apa?" Tanyanya seraya berdiri.


"Aku hanya ingin buat air jahe, aku merasa agak pusing dan mual, mungkin pengaruh asam lambung ku naik" Terang Rea hendak berdiri.


"Biar aku saja yang buat, mbak istirahat saja disini!" Cegah Andin, "Sebentar lagi juga Zee akan sampai, tadi Romi mengabariku kalau mereka sudah dekat sini" Andin memberi info jika salah satu karyawan toko yang menjemput Zee sudah dalam perjalanan.


Hanya berselang sekitar sepulut menit Andin sudah kembali kedalam ruangan Rea. Gadis beponi itu membawa segelas air jahe dan salah satu menu favorit cafe yaitu dua buah croissant waffle untuk bosnya. Mendengar suara pijakan sepatu yang mendekatinya Rea yang sebelumnya menutup matanya lantas membuka mata dan tersenyum.


"Maaf mbak, aku membangunkan mu" Ucap Andin tak enak sambil meletakkan bawaannya di depan Rea.


"Tidak apa-apa, Ndin, aku juga tidak tidur kok" Balas Rea mengambil gelas yang baru saja diletakkan oleh Andin dan meminumnya pelan.


"Terima kasih" Katanya.


Andin tersenyum setelahnya kembali ke sofa untuk melanjutkan perkerjaannya, Gadis itu memang ditunjuk Varest untuk membantu Rea dalam mengurus kafe, selama ini dia menjadi kepercayaan bosnya karena memang dia dikenal sebagai karyawan yang tekun serta pintar. Saat ini dia sedang memeriksa laporan yang dikirim oleh temannya yang berada di kafe pusat serta memantau lewat cctv yang terhubung di laptopnya.


"Mamaaaaa" Suara Zee yang menggelegar mengagetkan kedua orang yang berada di dalam ruangan itu.

__ADS_1


Nampak Andin memegang dadanya dan Rea menutup kedua telinganya.


"Ya Allah sayang, jangan teriak-teriak begitu"  Tegur Rea, "Bagaimana kalau tante Andin nya jantungan dan pingsan" katanya yang membuat Zee langsung menoleh ke arah Andin sambil menutup mulutnya.


"Soli tante," Sesal bocah lucu itu, Tapi setelahnya mendekati Andin dan mengulurkan tangannya untuk menyentuh dada gadis yang memiliki umur yang sama dengan mamanya tersebut.


"Mau apa Zee?" Reflek Andin mundur dengan mata yang berkedip bingung.


"Ji mau cek jantungnya tante Andin." Ucapnya sembari melihat ke arah mamanya, "Ji pelnah lihat papa buka jantungnya mama, telus papa bilang mau cek jantungnya mama soalnya mama pingsan" Jelasnya panjang yang membuat Andin melebarkan matanya.


Ya, Tuhan. ingatan anak ini memang tidak bisa dianggap sepele bagaimana bisa dia masih ingat saat dimana dia pernah kepergok ketika Varest ingin membuka piyama tidurnya dan baru terbuka dibagian dada tapi Zee tiba-tiba masuk ke dalam kamarnya, Rea yang malu dan bingung harus menjawab apa saat ditanya terpaksa memilih cara pura-pura pingsan dan membiarkan suaminya untuk menangani sang putra, memang itulah jawaban jyang diterima Zee dari Varest.


Rea menelan salivahnya susah, bola matanya bergerak kekiri dan kanan sambil berkedip, "Ehmmm, yang jemput Zee siapa?" Tanyanya mengalihkan pembicaraan putra semata wayangnya tersebut.


"Om Lomi" Berhasil, Zee sudah kembali berfokus kepada sang mama.


"Terus dimana om Romi nya?" Rea kembali mengarahkan pandangannya pada Zee


"Om Lomi masuk dapul" Jawab bocah itu yang memang melihat Romi langsung turun kembali ke kafe setelah mengantarnya sampai ke ruangan mamanya.


"Sudah bilang thanks, belum?"


Zee mengangguk antusias dan mengacungkan kedua jempolnya tanda dia sudah melakukan apa yang diajari oleh kedua orang tuanya, "Ji juga kasikan esklim satu sama om"


"Anak pintar" Rea mencubit gemas kedua pipi penuh Zee.


Tiga kata yang selalu menjadi daftar yang harus diucapkan oleh Zee ketika berhubungan dengan orang-orang. Kata yang sudah menjadi pelajaran dari kedua orang tuanya. Help, thanks, dan sorry itu adalah tiga kata yang umum harus diajarkan kepada anak untuk menjadikan mereka sebagai anak yang rendah diri dan selalu bisa menghargai sesama.

__ADS_1


"Zee mau duduk sama tante, tidak?" Tanya Andin yang mengerti jika Rea sedang tak enak badan sedangkan bocah berpipi penuh itu adalah anak yang cukup aktif dan bisa saja membuat Rea menjadi hilang mood seperti yang dikatakan oleh Varest bosnya.


Zee mengangguk cepat dan berlari ke samping Andin yang membuka video kartun yang menjadi kesukaan anak tersebut. Zee menarik nafasnya panjang agaknya dia akan memulai cerita panjang sama seperti biasanya setelah pulang dari sekolah.


"Tante tau tidak, tadi temannya Ji dijemput sama mamanya telus bawa adik kecilnya." Ujar Zee memulai ceritanya, "keciiiiil sekali, kayak gini" Kedua tangannya dia ulurkan di depan dada menggambarkan apa yang dia ingat.


"Benarkah?" Andin nampak antusias sambil melirik ke arah Rea yang masih memegang pelipisnya.


"he-em" Gumamnya, "Adiknya lucu kayak Ji" Jawab Zee sumringah.


"Zee mau punya adik?" Tanya Andin, gadis itu sebenarnya dari tadi memperhatikan gelagat aneh dari Rea yang mengaku asam lambungnya naik. Tapi saat turun membuatkan air jahe untuk Rea dan mendengar omongan para karyawati yang mengatakan jika tingkah Rea seperti wanita yang sedang hamil muda semakin membuat dia penasaran, pasalnya yang mengatakan itu adalah karyawati yang sudah pernah hamil dan gejala itu pun dialaminya.


Rea bukan tak mendengar obrolan kedua orang yang berada di ruangannya itu, karena nyatanya setelah Andin menanyakan perihal adik kepada Zee wanita itu langsung menegakkan tubuhnya yang semula memegang pelipisnya dengan cepat meraih ponselnya dan membuka aplikasi kalender pada ponselnya.


Rea membulatkan matanya dengan mulut yang menganga, ditatapnya Andin yang tersenyum seraya memangku Zee dan bergantian melihat ponselnya.


Dadanya berdegup kencang dengan tangan yang tiba-tiba dingin, "Andin" Lirihya


"Kamu harus mengeceknya nanti" Ucap Andin sembari memeluk Zee. dia ikut bahagia jika apa yang dia fikirkan memang benar adanya


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2