
Sesuai dengan janjinya tadi pagi, tepat pukul 1 siang lelaki itu sudah siap siaga dengan segala perlengkapan Zayn di depannya. Rea pun sudah siap dengan balutan mini dress yang melekat ditubuhnya.
"Sayang"
"Hmm?"
Varest mendesah pelan menjatuhkan tubuhnya tepat di samping Zayn. Merasa tak ada jawaban setelah panggilan sang suami tadi akhirnya Rea menoleh, nampak lelaki yang masih menggunakan kemeja putih itu memainkan pipi bulat Zayn yang tengah tertidur.
"Kenapa sayang?" tanyanya mendekat ke arah Varest
"Apa aku tidak boleh ikut?" Varest bertanya penuh harap. Meski dia sudah mengatakan akan memberi waktu berkualitas untuk istrinya merilekskan diri dan menggantikannya untuk berperan sebagai mama buat kedua anaknya tapi jauh di dalam hatinya dia tidak rela jika istrinya keluar rumah hanya dengan 2 orang wanita yang menemani.
Katakanlah dia sedikit berlebihan tapi itulah yang dia rasakan, terlebih semenjak Rea selesai melahirkan tubuhnya menjadi lebih berisi dan semakin menarik dimata Varest sehingga membuatnya tak rela jika istrinya keluar rumah tanpa ada dia di sampingnya.
"Sayang, aku keluar sama Andin dan juga Rani, apa kamu tidak kasihan sama mereka kalau aku bawa suami tapi mereka hanya sendiri?" ujar Rea sembari menyisir rambut panjangnya, dia mengulum bibirnya menahan tawa melihat suaminya yang terlihat lucu karena ingin ikut dengannya.
"Aku bisa mengajak pasangan mereka untuk ikut," jawab Varest masih membujuk
"Terus bagaimana dengan anak-anak? Mereka masih tidur, kamu tega bangunin mereka?"
"Sayang, aku bis—“
"Yah sudah, aku tidak jadi pergi," ucap Rea cepat membuat kalimat Varest menggantung.
Rea berdiri hendak menyimpan kembali tas branded nya ke lemari, Varest yang melihat sang istri yang mulai merajuk langsung bangun dari posisinya menahan Rea yang baru saja ingin membuka lemari.
"Sayang, kamu marah?" tanyanya seraya memeluk Rea dari belakang.
"Tidak"
"Maaf, aku tahu kamu pasti marah sekarang"
Rea menghela nafas kemudian merotasikan tubuhnya menghadap pada suaminya. "Sayang, kalau kamu tidak mengizinkan aku buat keluar kamu bisa bilang, aku hanya akan keluar rumah jika kamu memberi izin." ucapnya
Varest menggeleng cepat. "Bukan, bukan begitu maksudku, sayang, aku sudah janji memberimu waktu merilekskan diri. Tapi, aku juga tidak rela kamu keluar dengan pakaian seperti ini," jawab Varest seraya menarik-narik dress Rea yang panjangnya diatas lutut.
__ADS_1
Rea mengedipkan matanya 3 kali disertai senyum yang tertarik tipis merasa lucu mendengar jawaban Varest. Suaminya itu cemburu entah pada siapa.
"Jadi, kalau aku mengganti pakaian ku, apa aku bisa keluar dengan Andin dan Rani?" Tanya Rea penasaran dan mendapat anggukan dari Varest tanda setuju.
"Baiklah sayang, pilihkan aku pakaian yang cocok buatku menurut mu," ucap Rea akhirnya
-
Aroma harum begitu memanjakan indera penciuman saat kaki baru saja melewati pintu kaca yang terpasang stiker logo salah satu tempat perawatan kecantikan yang cukup dikenal bagi kaum Hawa.
Setelah mengiyakan segala titah dan pesan dari sang suami, Rea akhirnya sampai di salon dan spa bersama dengan Rani dan juga Andin meninggalkan Varest yang harus menggantikannya mengurus 2 putranya beberapa jam ke depan.
"Jadi apa yang ingin kita lakukan pertama kali?" tanya Rani yang sudah berdiri di depan meja resepsionis.
"Aku ingin massage, beberapa hari ini badan ku rasanya kaku semua." Jawab Rea, "Bagaimana dengan mu, Ndin?"
"Aku ikut saja, sudah lama aku tidak merasakan pijatan di seluruh tubuh, mungkin itu akan merilekskan otak ku juga." ucap Andin sambil memegang kepalanya.
Rani dan Rea kompak saling berpandangan melihat Andin yang tak seperti biasanya kemudian mengedikkan bahunya, sebenarnya ingin bertanya tapi juga tak enak jika menanyakannya sekarang.
"Baik lah, kita massage saja, aku juga ingin mencoba lulur coklat." kata Rani setuju.
Setelah mengganti pakaiannya dengan kain yang memang sudah di sediakan akhirnya mereka menaiki ranjang dengan posisi tengkurap, tiga spa therapist sudah pun bersedia untuk memanjakan tiga pelanggan mereka.
Rasa nyaman yang berasal dari pijatan itu membuat ketiganya seakan ingin tertidur, surganya serang wanita jika sudah termanjakan oleh hal demikian.
Rani yang yang tak ingin terlelap karena merasa nyaman akhirnya angkat suara, wanita itu menoleh pada Rea yang berada di sampingnya. "Re, bagaimana perkembangan Zayn? sudah hampir sebulan aku tidak menemuinya," tanyanya yang memang baru beberapa hari ini dia pulang dari dinasnya.
Sama halnya dengan orang tua pada umumnya saat mereka ditanya mengenai sang anak sebuah senyum dan semangat akan langsung terbit. "Dia semakin pintar, Ran. Zayn semakin aktif bahkan Varest sendiri kadang kewalahan kalau Zayn sudah tak mau diam," jawab Rea semangat
"Aku berharap aku punya waktu lebih untuk bertemu Zayn dan Zee, aku merindukan mereka," harap Rea
Rea mengangguk setuju, memang sudah lumayan lama Rani tak bertemu dengan kedua anaknya karena kerjaan wanita itu, bahkan hari ini adalah hari pertama Rani bisa menyempatkan waktunya bersama Rea dan juga Andin.
"Ndin?"
__ADS_1
Rani menautkan alisnya menyadari bahwa dari tadi temannya yang bernama Andin tak menimpali obrolannya dengan Rea. Dia kembali menoleh pada Rea seakan bertanya tanpa suara namun wanita yang sudah memiliki dua anak itu hanya mengedikkan bahunya tanda tak tahu.
"Ndin, any problem?" tanya Rani penasaran
"Jelas banget yah?" jawab Andin lebih ke pertanyaan.
"Ada apa?" kini Rea yang bertanya
"Sebenarnya ini bukan masalah, hanya sedikit kebingungan karena ketidak yakinan,"
"Maksudnya?"
"Re, bagaimana perasaan mu dulu saat di lamar sama Varest?"
Mendengar pertanyaan demikian sontak kepala Rea dan Rani yang sempat menempel pada bantal langsung terangkat, keduanya saling berpandangan sekilas.
"Kamu dilamar Andi?"
Posisi Rani yang berada ditengah antara Andin dan Rea membuatnya harus mengangkat kepalanya, sedangkan Rea kembali menempelkan wajahnya ke bantal dengan posisi menyamping agar dapat melihat wajah Andin dari bawah dagu Rani.
"Itu kabar gembira, Ndin?" kata Rea ketika melihat anggukan dari Andin
Andin menghela nafas kemudian tersenyum tipis.
"Sebenarnya apa yang kamu khawatirkan?"
"Kalian tahu, aku dan andi baru beberapa bulan meresmikan hubungan, aku hanya belum yakin dengan keputusannya, aku bahkan tak sama dengannya." Nampak raut wajah tak percaya diri dari Andin, wanita itu mencintai Andi tapi terkadang dia masih kurang yakin mengenai perasaan Andi padanya.
Mereka berbeda dari segi apapun, Rani hanya seorang wanita dari keluarga sederhana sedangkan Andi? Andin tahu pasti dari kalangan mana pacarnya itu.
"Itu yang kamu khawatirkan?" tanya Rea yang dijawab anggukan oleh Andin
"Lalu bagaimana denganku? aku dan Varest pun memiliki perbedaan yang sangat jelas, bahkan perbedaan itu membuat ku tak yakin bukan hanya tentang perasaan Varest tapi juga orang disekitarnya, you know? i am a widow, dan itu cukup menjadi alasan ku untuk mundur dan tak yakin dengannya"
"But now, you can see our happiness, his love and seriousness is enough proof that there is no reason not to believe in him."
__ADS_1
"Aku percaya Andi dan Varest adalah dua orang yang berbeda namun memiliki prinsip yang sama."
Rani tertegun setelahnya menyunggingkan senyum mendengar penturan Rea sembari mengangguk ikut memberi keyakinan pada Andin bahwa apa yang dikatakan oleh istri dari Varest itu adalah sesuatu yang benar.